SURAT DALAM AL-QURAN

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I

  1. A. Definisi Surat

1.  Secara Bahasa/Lughowiy

Surat dari segi bahasa merupakan jamak dari kata suwar (سُوَرٌ) yang berarti kedudukan atau tempat yang tinggi[1], sesuai dengan kedudukan Al-Quran karena dia diturunkan dari tempat yang tinggi yaitu Lauh al-Mahfûzh dari sisi Tuhan yang Maha Tinggi pula yaitu Allah Swt.

2.  Secara Istilah

Adapun secara istilah surat adalah:

وَالسُّوْرَةُ هِيَ الْجُمْلَةُ مِنْ آيَاتِ اْلقُرْآنِ ذَاتُ الْمَطْلَعِ وَالْمَقْطَعِ

Surat adalah sejumlah beberapa ayat Al-Quran yang memiliki permulaan dan penghabisan.[2]

Dari definisi ini dapat dipahami bahwa surat adalah kumpulan beberapa ayat, maka tidak ada satu surat yang terdiri hanya satu ayat. Surat harus memiliki sejumlah ayat minimal 3 ayat seperti dalam Surat Al-Kautsar. Kumpulan beberapa ayat ini syaratnya mempunyai permulaan dan akhiran. Jika terkumpul sejumlah ayat sekalipun banyak tetapi tidak ada permulaan atau belum mencapai akhiran dan atau tidak ada keduanya, maka belum dinamakan surat dalam Al-Quran.

  1. B. Macam-macam Surat

Dilihat dari segi panjang pendeknya, surat dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu sebagai berikut:

  1. Surat Ath-Thiwâl (الطِّوَالٌ = panjang)

Yaitu surat yang jumlah ayatnya lebih dari 100 sampai 200-an atau memang lebih panjang dari yang lain. Surat panjang ini ada tujuh, oleh karena itu disebut As-Sab’u Ath-Thiwâl (السَّبْعُ الطِّوَالُ = surat tujuh), yaitu sebagai berikut:

  1. Surat Al-Baqarah (2): 286 ayat
  2. Surat Ȃli ‘Imrân (3): 200 ayat
  3. Surat An-Nisâ’ (4): 176 ayat
  4. Surat Al-Mâ’idah (5): 120 ayat
  5. Surat Al-An’âm (6): 165 ayat
  6. Surat Al-A’râf (7): 206 ayat
  7. Sebagian ulama berpendapat Surat Al-Anfâl (8) 75 ayat bersama Surat Al-Barâ’ah atau At-Taubah (9): 129 ayat karena tidak ada pemisah dengan basmalah dan sebagian pendapat mengatakan Surat Yûnus (10): 108 ayat.
  8. Surat Al-Mi’ûn (اْلِمؤُن = seratusan)

Yaitu surat yang banyak ayatnya sekitar seratus atau lebih.

  1. Surat Al-Matsânî (المثانى)

Yaitu surat yang panjang ayatnya di bawah Al-Mi’ûn (seratusan ayat) di atas. Al-Farra’ berkata: yaitu surat yang jumlah ayatnya kurang sedikit dari 100 ayat. Kata Al-Matsânî artinya ‘terulang-ulang’, karena surat-surat itu terulang-ulang dibaca dalam shalat dari pada surat Al-Mi’ûn dan Ath-Thiwâl.

  1. Surat Al-Mufashshâl(اْلمفَصَّل)

Yaitu surat yang panjang ayat-ayatnya mendekati Al-Matsânîyang disebut juga sebagai surat pendek. Menurut An-Nawawi surat Al-Mufashshâlini adalah dari surat Al-Hujurât (49) sebanyak 18 ayat sampai akhir surat dalam Al-Quran. Al-Mufashshâlberasal dari kata fashala yang artinya memisah atau terpisah. Surah dinamakan Al-Mufashshâlkarena banyak dipisah dengan Basmalah pada setiap awal surat. Karena jumlah ayat-ayatnya tidak terlalu banyak, maka sering dipisah dengan Basmalah tersebut. Kemudian surat Al-Mufashshâlini dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a)    Ath-Thiwâl(panjang), yaitu Al-Mufashshâltetapi yang panjang dari surat Qâf (50) atau dari surat Al-Hujurât (49) sampai dengan surat An-Naba’ (78) atau surat Al-Burȗj (85).

b)    Al-Awsath (pertengahan), yaitu surat Al-Mufashshâlyang pertengahan dari surat Ath-Thâriq (86) sampai dengan surat Adh-Dhuhâ (93) atau Al-Bayyinah (98).

c)    Al-Qishâr (pendek), yakni Al-Mufashshâlyang pendek dari surat Adh-Dhuhâ (93) atau surat Al-Bayyinah (98) sampai dengan akhir surat dalam Al-Quran yakni An-Nâs (114).

Di samping penggolongan kelompok surat-surat di atas didasarkan pada jumlah banyak dan sedikitnya, juga didasarkan pada panjang dan pendeknya ayat. Karena ada sebagian surat yang jumlah ayatnya tidak banyak tetapi ayat-ayatnya panjang-panjang atau jumlah ayatnya banyak tetapi mayoritas ayatnya pendek-pendek seperti surat Asy-Syu’arâ’ (26): 227 ayat padahal surat ini tidak termasuk ke dalam surat Ath-Thiwâl.[3]

Dilihat dari segi masa atau tempat turunnya Al-Quran terbagi menjadi 2 macam, yaitu surat Makiyah dan surat Madaniyah. Namun, untuk  pembahasan secara lebih mendalam tentang surat Makiyah dan surat Madaniyah ini akan dibahas di tulisan berikutnya, insya Allah.


[1] Majma’ Al-Lughah Al-‘Arabiyah, Al-Mu’jam Al-Wajiz, hlm. 328. Bandingkan dengan Hasbi Ash-Shiddieqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, hlm. 58

[2] Al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an, hlm. 139

[3] Abdul Majid Khon, Praktikum Qira’at; Keanehan Bacaan Alquran Qira’at Ashim dari Hafash, Jakarta: Amzah, 2008, h. 7-8

~ oleh ka uki pada 27 Mei 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: