FILSAFAT ISLAM TENTANG MANUSIA DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENDIDIKAN

FILSAFAT ISLAM TENTANG MANUSIA DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENDIDIKAN

 

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I

 

 

PENDAHULUAN

 

Dalam al-Quran, secara terminologi manusia dipadankan dengan kata al-ihsan, al-nas dan basyar, yang menurut Jamali ketiganya menunjukkan pada substansi makna yang sama yakni unsur pensifatan yang inheren dalam diri makhluk yang tertinggi. Kata al-Ihsan  memiliki makna melihat, mengetahui dan minta izin. Kata al-Nas menunjukkan hubungan antara manusia, mengetahui, berfikir, dan memahami. Demikian pula kata insan dari asalnya nasiyah yang artinya lupa dan jika dilihat dari kata dasarnya yaitu al-uns yang berarti jinak. Kata Basyar dipakai untuk menyebutkan semua makhluk baik laki-laki maupun perempuan, baik plural, maupun jamak (kolektif). Kata Basyar dalam Al-Quran seluruhnya menunjukkan pengertian pada bani Adam yang dapat makan, minum, berjalan dan bertemu dipasar-pasar sebagaimana yang lain. Dengan ketiga kata tersebut, Al-Quran menjelaskan term manusia secara multidimensi, dimana kata al-insan (al-Nas) memberikan konteks ideal, fitrah, dan potensial, atau dapat juga disimpulkan dengan manusia sebagai makhluk rasional, makhluk pembentuk kebudayaan. Sedangkan kata Basyar menunjukkan pada manusia sebagai diri yang berjiwa dan berbadan kasar (jasmaniah), manusia yang berkebutuhan fisis, religius, sosial.[1]

Manusia adalah satu-satunya makhluk Allah yang diberi kesempurnaan baik fisik, rohani dan akalnya agar mampu menjadi khalifah di bumi Allah ini. Diberikan akal agar mampu berfikir, memahami alam semesta, mempelajarinya, mencari manfaatnya bagi diri dan makhluk lain. Allah meniupkan roh dengan sifat-sifat Ana atau keilahianNya agar dengan rohani ini terpancar sinar Allah yang tercermin dalam sikap, tingkah lakunya.

Allah menciptakan manusia dilengkapi pula dengan kelemahannya. Kelemahan manusia harus dikendalikan dengan pendidikan, sedangkan kelebihan manusia lebih diasah dengan pendidikan agar berkembang lebih optimal, pendidikan ini menurut Ahmad Tafsir secara hakekat adalah untuk memanusiakan manusia.

Pendidikan menurut Ahmad Tafsir harus mencapai esensi manusia, pendidikan harus ditujukan terhadap inti manusia, yaitu sifat Ana dalam dirinya. Agar sifat ilahiah yang ada dalam diri manusia terpancar sampai kedalam sikap dan prilakunya, menjadi seorang manusia muslim yang ideal.

Pendidikan Islami menurut Tafsir adalah suatu pendidikan yang dilandasi nilai-nilai islam untuk membentuk sosok muslim yang ideal, kalau pendidikan Barat, sifatnya hanya pendidikan yang rasional saja (terukur hanya melalui akal saja). Filsafat pendidikan Islami adalah filsafat tentang pendidikan islami, yang obyek kajiannya adalah bagian-bagian yang abstrak tentang pendidikan kebenarannya ditentukan apakah teori-teori yang rasional dan empiris atau tidak. Melalui pendidikan Islami, diharapkan sistem pendidikan di Indonesia dapat berkembang lebih optimal sehingga terciptalah manusia-manusia Indonesia yang ideal seorang generasi muda yang berakhlak.

Manusia dalam kegiatan pendidikan adalah merupakan subjek dan objek yang terlibat di dalamnya. Tanpa ada kejelasan konsep tentang manusia ini, maka akan sulit ditentukan arah yang akan dituju dalam pendidikan.[2]

 

MANUSIA, FILSAFAT, DAN PENDIDIKAN

 

  1. A.     Manusia dalam Konsep Al-Quran

Al-Quran banyak memberi gambaran tentang manusia antara lain sebagai berikut: Manusia diciptakan dengan bentuk fisik yang sangat baik (QS.95:4), dengan rupa yang seindah-indahnya (QS.64:3) dan dilengkapi dengan organ yang istimewa seperti pancaindra dan hati (QS.16:78), agar manusia bersyukur kepada Allah yang telah memberi banyak keindahan dan kesempurnaan. Manusia pun diberi kemampuan berfikir untuk memahami alam semesta (QS.13:3) dan dirinya sendiri (QS.30:20-21) sebagai ciptaan Allah untuk kemudian meningkatkan keimanannya kepada Allah SWT,. Manusia mempunyai akal untuk memahami tanda-tanda keagungan Allah, kalbu untuk mendapatkan cahaya yang tertinggi (QS.89:27-30) dan ruh yang kepadanya Allah SWT mengambil kesaksian manusia mengenai keesaan ilahi (QS.7:72-74). Bahkan kepadanya agama sebagai tuntunan agar hidupnya selamat dunia dan akherat.

Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi (QS.2:30), dan diciptakan Allah bukan untuk main-main (QS.23:115), melainkan untuk mengembangkan amanah (QS.33:72) dan untuk beribadah kepadaNya (QS.51:56) serta selalu menegakkan kebajikan sekaligus menghilangkan keburukan (QS.3:110) dengan segala tanggung jawab (QS.75:36). Keistimewaan lain manusia adalah memiliki kebebasan luas untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya atau serendah-rendahnya (QS.91:7-10), bahkan agama pun tidak dipaksakan kepadanya (QS.2:256). Namun manusia pun dilengkapi dengan banyak kelemahan seperti ketergesa-gesaan (QS.17:11), pembantah (QS.18:54), melampaui batas (QS.10:12), kikir (QS.70:19), mudah putus asa (QS.41:49), selalu berkeluh kesah (QS.70:20), ingkar (QS.80:17), tidak mau bersyukur (QS.100:6), mudah lalai setelah mendapat nikmat (QS.17:83).

Walaupun demikian fitrah manusia adalah suci dan beriman (QS.7:72). Kecenderungan terhadap agama adalah sikap dasarnya (QS.30:30), Dalam keadaan sadar ataupun tak sadar manusia selalu merindukan Allah (QS.39:8; QS.39:49), taat, khusuk, tawakal dan tidak ingkar (QS. 17:66-69), terutama bila sedang mengalami malapetaka dan kesulitan hebat (QS.31:32, QS.17:66).

Al-Quran juga menggolongkan manusia. Yaitu: Golongan manusia yang mendapat petunjuk yang lurus (QS. 1:7) seperti para nabi (QS.22:52;QS.6:87), Shiddiqin (QS.49:14-18), para syuhada (QS. 3:169-171), shalihin (QS.29:9), muklisin (QS.23:57-61; QS 29:64-66; QS.3:123), muttaqin (QS.3:31), mukminin (QS.3:139), dan orang-orang yang sabar (QS.3:146; QS.8:46). Yang kedua golongan manusia yang tidak mendapat petunjuk, seperti orang yang dimurkai Allah dan sesat hidupnya (QS.6:144; QS.9:37) seperti orang-orang fasik (QS. 5:108; QS.9:80), zalim (QS.6:144 ; QS .9:37), kafir (QS. 5:67; QS.9:37), musyrik (QS.4:48-52; QS.4:226-121) dan orang munafik (QS.2: 8 – 16).[3]

Beberapa ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang menjadi landasan utama bagi para psikolog Islam telah memberikan informasi tentang telah dimulainya kehidupan manusia sejak janin berada dalam kandungan ibunya. Mujib dan Muzakir, berpendapat bahwa sejumlah ayat dan hadits secara tidak langsung telah disebutkan bahwa selama periode prenatal individu tidak hanya mengalami perkembangan fisik melainkan sekaligus mengalami perkembangan psikologi.

QS 22: 5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Dari ayat di atas terlihat bahwa manusia tersusun dari unsur materi dan immateri, jasmani dan rohani, tubuh manusia yang berasal dari tanah dan ruh atau jiwa berasal dari substansi immateri di alam gaib. Tubuh pada akhirnya akan kembali menjadi tanah atau jiwa akan pulang ke alam gaib.[4]

Tubuh kita yang mempunyai daya fisik atau jasmani, yang terdiri dari indra penglihatan, penciuman, perasa, perabaan, pendengaran, daya gerak. Semuanya berhubungan dengan unsur-unsur materi. Manusia adalah makhluk somato-psiko-sosial-spiritual, yang terdiri dari fisik, jiwa, spiritual, dan makhluk yang harus berinteraksi secara sosial dengan orang lain yang keempatnya saling berinteraksi karena unsur-unsur tersebut saling berkait, dan saling mempengaruhi sejak saat pembuahan sampai akhir hayatnya. Semua permasalahan yang timbul harus dicari keterkaitannya dengan melihat keempat unsur tersebut, agar pemecahannya masalah manusia lebih optimal.

Menurut Nasution dalam ruh atau jiwa ada yang disebut al-Nafs mempunyai dua daya, daya pikir yang disebut akal yang berpusat di kepala dan daya rasa yang berpusat di kalbu yang berpusat di dada. Daya rasa yang berpusat di dada dipertajam dengan ibadah (shalat, puasa, haji, zakat), karena intisari dari semua ibadah dalam Islam adalah mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha Suci. Yang maha Suci hanya dapat didekatkan oleh ruh yang suci. Ibadah adalah latihan menyucikan ruh atau jiwa. Makin banyak seseorang beribadah secara ikhlas, makin suci pula jiwa dan ruhnya. Daya pikir atau akal berpusat di kepala dalam sejarah Islam diperkuat oleh dorongan ayat-ayat kauniah. Nasution menambahkan jadi manusia menurut ajaran Islam, tersusun dari unsur materi, yaitu tubuh yang mempunyai hayat dan unsur immateri yaitu roh yang mempunyai dua daya, daya rasa di dada dan daya pikir dikepala. Daya rasa, jika diasah dengan baik, mempertajam hari nurani dan daya pikir, jika dilatih, mempertajam penalaran.[5]

  1. B.   Pengertian Filsafat

 

Filsafat merupakan landasan ilmu, yang menjadi pondasi berfikir rasional, mencari kebenaran dan mengembangkan pengetahuan yang sedalam-dalamnya. Orang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang, ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kemestaan alam, Karakteristiknya berfikir filsafat yang pertama adalah menyeluruh, yang kedua mendasar.[6]

Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran/ rasio belaka.

a. Menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan

b. Menurut Plato( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada

c. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda.

d. Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.

e. Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.

 

  1. C.       Pengertian Pendidikan

Pendidikan Nasional di Indonesia menurut Undang-Undang RI no.20 tahun 2003, bab I Pasal 1 (1) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Dalam bahasa arab pendidikan disebut “tarbiyah” yang berarti proses persiapan dan pengasuhan manusia pada fase-fase awal kehidupannya yaitu pada tahap perkembangan masa bayi, dan kanak-kanak.[7] Islam menempatkan pendidikan dalam kedudukan yang sangat penting sehingga dalam Al-Quran surat al-Mujadalah Allah berfirman:”Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadalah 58: 11). Dan tujuan dari pendidikan adalah mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat QS. Al-Dzariyah, 56: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan mereka mengabdi kepadaKu”, sehingga diperlukan adanya pendidik dan metode pembelajaran yang efektif, sistematik, terencana, berproses dan terevaluasi, sehingga tujuan pendidikan itu dapat tercapai sesuai yang kita inginkan. Yaitu menghasilkan seorang insan kamil.

Dalam era globalisasi sekarang ini dengan persaingan yang amat kompetitif, diharapkan institusi pendidikan formal yaitu sekolah dapat menjadi wadah pendidikan bagi para generasi muda sehingga mereka dapat mandiri, siap pakai, kreatif, berpengetahuan dan keterampilan yang tinggi, bertanggung jawab, siap berkompetitif dalam kehidupan global.

Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Pekerjaan mendidik mencakup banyak hal yaitu segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia. Mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, sampai kepada perkembangan iman. Mendidik bermaksud membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi berbudaya. Mendidik adalah membudayakan manusia.[8]

 

  1. D.       Islam dan Pengetahuan

Husein Al-Kaff[9] dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad menuturkan bahwa dalam teks-teks Islam -Qur’an dan Sunnah- dijelaskan tentang sumber dan alat pengetahuan:

1. Indra dan akal

Allah swt. berfirman, “Dan Allah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, sementara kalian tidak mengetahui sesuatu pun, dan (lalu) Ia menciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati (akal) agar kalian bersyukur “. (QS. al-Nahl: 78).

Islam tidak hanya menyebutkan pemberian Allah kepada manusia berupa indra, tetapi juga menganjurkan kita agar menggunakannya, misalnya dalam al-Qur’an Allah swt. berfirman, “Katakanlah, lihatlah segala yang ada di langit-langit dan di bumi.” (QS. Yunus: 101 ). Dan ayat-ayat yang lainnya yang banyak sekali tentang anjuran untuk bertafakkur. Qur’an juga dalam membuktikan keberadaan Allah dengan pendekatan alam materi dan pendakatan akal yang murni seperti, “Seandainya di langit dan di bumi ada banyak tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan hancur.” (QS. al-Anbiya': 22). Ayat ini menggunakan pendekatan rasional yang biasa disebut dalam logika Aristotelian dengan silogisme hipotesis. Atau ayat lain yang berbunyi, “Allah memberi perumpamaan, seorang yang yang diperebutkan oleh banyak tuan dengan seorang yang menyerahkan dirinya kepada seorang saja, apakah keduanya sama ?” (QS. al-Zumar: 29)

Akal yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akal, manusia memahami, mangamati, berfikir, dan belajar. Serta dengan akal itu manusia merencanakan berbagai kegiatan berskala besar maupun yang kecil, serta memecahkan masalah (problem solving).[10]

 

2. Hati

Allah swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, niscaya Ia akan memberikan kepada kalian furqon.” (QS. al-Anfal: 29) Maksud ayat ini adalah bahwa Allah swt. akan memberikan cahaya yang dengannya mereka dapat membedakan antara yang haq dengan yang batil.

Atau ayat yang berbunyi, “Dan bertakwalah kepada Allah maka Ia akan mengajari kalian. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah: 282). Dan ayat-ayat yang lainnya.

Menurut Husein Al-Kaff, bila ingin mengembangkan ilmu dan pengetahuan ada beberapa syarat antara lain: konsentrasi, akal yang sehat, indra yang sehat. Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka seseorang akan mendapatkan pengetahuan lewat indra dan akal. Kemudian pengetahuan saat dimiliki lewat hati. Pengetahuan ini akan diraih dengan syarat-syarat seperti, membersihkan hati dari kemaksiatan, memfokuskan hati kepada alam yang lebih tinggi, mengosongkan hati dari fanatisme dan mengikuti aturan-aturan sayr dan suluk. Seorang yang hatinya seperti itu akan terpantul di dalamnya cahaya Ilahi dan kesempurnaanNya. Ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi maka pengetahuan akan terhalang dari manusia. Secara spesifik ada beberapa sifat yang menjadi penghalang pengetahuan, seperti sombong, fanatisme, taqlid buta (tanpa dasar yang kuat), kepongahan karena ilmu, jiwa yang lemah (jiwa yang mudah dipengaruhi pribadi-pribadi besar) dan mencintai materi secara berlebihan.

Menurut Ahmad Tafsir manusia dikendalikan oleh world or view-nya, karena iman adalah sesuatu world view, maka manusia dikendalikan oleh imannya. Jadi inti manusia adalah imannya, karena iman itu kalbu maka dapat juga kita mengatakan inti manusia itu di kalbunya. Kalau begitu kalbu itulah yang harus diberikan pendidikan untuk diisi dengan iman.[11]

 

E. Nafs, Jasad, Hati

1. Nafs

Menurut Psikofisik manusia memiliki komponen jasad dan ruh yang saling terintegrasi Nafs memiliki natur gabungan antara natur jasad dan ruh, bila ia berorientasi dengan natur jasad maka tingkah laku memjadi buruk dan celaka, tetapi bila mengacu pada nature ruh maka kehidupannya menjadi baik dan selamat.[12]

Istilah Nafs dalam Al-quran memiliki banyak makna, menurut Achmad Mubarok dengan metode temantiknya, menyebutkan 7 makna nafs: yaitu:

1. Nafs berarti diri atau seseorang (QS. Ali Imran (3) : 61, Yusuf (12): 54, Al-Dzariyat (51):21 ).

2. Nafs berarti diri Tuhan (QS, Al-An’am (6) :12, 54) (QS,6:12)

3. Nafs berarti person sesuatu (QS Al-Furqan (25):3, Al-An’am (6):130) (QS,6:130).

4. Nafs sebagai roh (QS, Al-An’am (6): 93)

5. Nafs sebagai Jiwa (QS. Al-Syam (91): 7, Al-Fajr (89): 27) QS:91: 7.

6. Nafs sebagai totalitas manusia, yang memiliki dimensi jiwa dan raga (QS Al-Rad (13) : 11, Al- Anfal (8): 53)[13]

 

2. Hati

Hati adalah hati spiritual, contohnya, kita menyebut seseorang yang tulus dan berniat baik sebagai seseorang yang memiliki hati. Hati menurut Frager menyimpan percikan roh ilahi didalam diri kita . Karenanya, hati adalah kuil Tuhan. Rumah cinta tersebut disebut hati, cinta adalah dasar disiplin spiritual sufi.

Qalbu atau hati manusia itu seperti lilin yang menyala, mulanya nyala itu kecil saja. Lilin menyala itu terletak dalam sirr, sirr itu dalam lubb, lubb itu di dalam syaghaf, syaghaf itu di dalam fu’ad dan fu’ad itu di dalam qalb (kalbu ) dan seterusnya.12

Menurut Hadist, bahwa Rasulullah bersabda dalam hadist qudsi: ”aku jadikan pada manusia itu ada istana (qash). Di dalam istana itu ada (shadr), di dalam shadr itu ada kalbu (qalb), di dalam qalb itu ada fu’ad, di dalam fu’ad itu ada syaghaf, di dalam syaghaf itu ada lubb, di dalam lubb ada sirr, dan di dalam sirr itu ada aku (Ana).

Hadist ini menjelaskan bahwa aku menjadi inti. Aku di dalam hadist ini adalah Allah yang bersifat Ilahiyah.

 

  1. a.      Empat Stasiun Hati

Menurut al-Tirmidzi, hati memiliki empat stasiun: dada, hati, hati-lebih-dalam, dan lubuk hati terdalam. Keempat stasiun ini saling bersusun bagaikan sekumpulan lingkaran. Dada adalah lingkaran terluarnya, hati dan hati-lebih-dalam berada pada kedua lingkaran tengah, sedangkan inti dari hati terletak di pusat lingkaran.[14]

Tiap-tiap stasiun mewadahi cahaya sendiri. Dada mewadahi cahaya alamiah dari bentuk praktik setiap agama. hati mewadahi cahaya iman. Hati-lebih-dalam mewadahi cahaya makrifat, atau pengetahuan akan kebenaran spiritual. Lubuk-hati-terdalam mewadahi cahaya, cahaya kesatuan dan cahaya keunikan, yang merupakan wajah Ilahi.

Tiap-tiap stasiun juga dikaitkan dengan tingkat spiritual yang berbeda-beda, tingkat pengatahuaan serta pemahaman yang berbeda, juga tingkat nafs yang berbeda

 

1)      Dada ( Shadr )

Dada dalam bahasa Arab adalah shadr, yang juga berarti ”hati dan akal.” Sebagai kata kerja, sh-d-r berarti pergi, memimpin, dan juga melawan menentang. Karena terletak diantara hati dan diri rendah (hawa nafsu), shadr dapat juga mengistilahkan hati terluar. Ia tempat bertemunya hati dan diri rendah, serta mencegah agar satu pihak melanggar pihak lainnya. Dada memimpin interaksi kita dengan dunia. Di dalamnya kita menentang dorongan-dorongan negatif diri rendah.

Dada adalah wilayah pertemuan utama antara kekuatan positif dan negatif di dalam diri kita, tempat kita diuji dengan kecenderungan-kecenderungan negatif kita. Jika kekutan positif kita kuat, maka dada dipenuhi oleh cahaya dan berada di bawah pengaruh jiwa ilmiah, yang terletak di lubuk hati terdalam. Di sisi lain, jika pembawaan negatif, seperti dengki, syahwat, dan kesombongan masuk ke dalam dada, atau jika dada diliputi oleh kepedihan, penderitaan, ataupun tragedi dan langsung dalam waktu yang lama, maka dada akan dilingkupi kegelapan. Hati akan mengeras dan cahaya batiniah stasiun hati lainnya menjadi redup.[15]

 

2)      Hati ( Qalb )

Ketika dada kita telah dibersihkan dan hati kita telah terbuka, kita mulai mampu melampaui permukaan luar dan merasakan apa yang tersembunyi di dalam. Seperti disebutkan sebelumnya, perilaku yang melukai orang lain atau melanggar prinsip-prinsip spiritual umum (seperti kejujuran, ketulusan dan belas kasihan) cenderung akan menutup dan mengeraskan hati. Menjadi seorang darwis adalah memiliki hati yang lembut, peka, dan penuh pemahaman.

Nabi Muhammad bersabda, ”Ada dua jenis pengetahuan: pengetahuan lidah dan pengetahuan hati, pengetahuan yang benar-benar berharga.” Di Barat, kita terlalu menekankan pada ”pengetahuan lidah,” atau mempelajari buku-salah satu tingkat kecerdasan buatan. Inilah batasan psikologi Barat tradisional, yang belum mengenal pengetahuan yang lebih dalam dari-hati kecerdasan utuh.

Hati adalah rumah takwa, yang kerap diartikan dengan ’takut kepada Tuhan.” pada tingkat rendah, takwa bermakna rasa takut terhadap hukuman Tuhan. Bagi kaum sufi, takwa bermakna rasa takut akan kehilangan rasa cinta terhadap Tuhan, rasa kedekatan dengan Tuhan, dan cinta Tuhan. Mereka – yang takut kepada Tuhan dalam makna ini – menaati perintah Tuhan dengan senang hati, bukan karena rasa takut akan hukuman-Nya. Mungkin terjemahan yang paling tepat adalah ”Menyadari kehadiran Tuhan.” Mereka mengatakan bahwa rasa takut kepada Tuhan membimbing kita melawan keraguan, penyembahan terhadap tuhan-tuhan palsu, ketidaksetiaan, ketidaktulusan dan kemunafikan.

 

3)      Hati-Lebih-Dalam ( Fu’ad )

Hati-lebih-dalam adalah tempat penglihatan batiniah dan inti cahaya makrifat berarti ”kearifan batiniah” atau ”pengetahuan hakikat spiritual.” Hati dan hati-lebih-dalam sangatlah berkaitan erat dan pada waktu tertentu, hampir tidak dapat dibedakan. Hati mengetahui sedangkan hati-lebih-dalam melihat. Mereka saling melengkapi, seperti halnya pengetahuan dan penglihatan. Jika pengetahuan dan penglihatan dipadukan, maka yang gaib menjadi nyata, dan keyakinan kita akan menguat.

Mereka yang memiliki pengetahuan tanpa penglihatan, seperti halnya para sarjana yang telah mempelajari sebuah negeri asing selama beberapa tahun, namun tidak pernah mengunjunginya. Berapapun banyaknya yang meraka pelajari dari kejauhan, tetap akan terdapat beberapa kekurangan dari pemahaman mereka.

 

4)      Lubuk-Hati-Terdalam ( Lubb/Inti )

Luas dan cahaya lubuk-hati-terdalam, atau hatinya, tidak terperikan. Ia bagaikan sumbu raksasa yang tak bergeming, sementara segala sesuatu berputar mengelilinginya. Dalam bahasa Arab, lubb, istilah untuk lubuk-hati-terdalam, bermakna ”inti” dan ’pemahaman batiniah”, yang merupakan dasar hakiki agama. seluruh cahaya hati lainnya didasari oleh cahaya kesatuan dan cahaya keunikan dari lubuk-hati-terdalam.

Lubuk-hati-terdalam dialiri oleh air kemurahan Tuhan. Akarnya didapati oleh cahaya-cahaya kepastian. Tuhan menumpuk lubuk-hati-terdalam secara langsung, tanpa perantara. Nafs dengan hasrat dan kelalaiannya, bahkan tidak dapat mendekatinya, dan pohon-pohonnya telah memancarkan cahaya iman.[16]

 

  1. b.      Suara Hati

Ary Ginanjar Agustian mengemukakan tentang suara hati, istilah ini menurutnya dasarnya adalah universal dengan catatan bahwa manusia telah mencapai titik fitrah (God-Spot) dan terbebas dari segala paradigma dan belenggu. Dengan mencermati Al-Quran surat As-Sajadah ayat 9 dimana Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya yang bersifat mulia kepada manusia, maka sebenarnya Allah telah meniupkan pula keinginan-Nya kedalam hati manusia. Dan bila disimak dalam al-Quran surat Al-A’raf ayat 172 yaitu ketika jiwa manusia mengakui dan mengangguk kepada Allah bahwa Allahlah Tuhannya. Anggukan yang membenarkan suara hati itu masih terus berjalan dan masih bisa dirasakan hingga saat ini kecuali hati yang tertutup.[17]

 

  1. c.       Spiritual

Definisi spiritual lebih sulit dibandingkan mendifinisikan agama/religion, dibanding dengan kata religion, para psikolog membuat beberapa definisi spiritual, pada dasarnya spitual mempunyai beberapa arti, diluar dari konsep agama, kita berbicara masalah orang dengan spirit atau menunjukkan spirit tingkah laku. Kebanyakan spirit selalu dihubungkan sebagai factor kepribadian. Secara pokok spirit merupakan energi baik secara fisik dan psikologi.

Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang.  Di dalamnya mungkin terdapat kepercayaan terhadap kekuatan supernatural seperti dalam agama, tetapi memiliki penekanan terhadap pengalaman pribadi. Spiritual dapat merupakan ekspresi dari kehidupan yang dipersepsikan lebih tinggi, lebih kompleks atau lebih terintegrasi dalam pandangan hidup seseorang, dan lebih dari pada hal yang bersifat indrawi. Salah satu aspek dari menjadi spiritual adalah memiliki arah tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan berkehendak dari seseorang, mencapai hubungan yang lebih dekat dengan ketuhanan dan alam semesta dan menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra, perasaan, dan pikiran. Pihak lain mengatakan bahwa aspek spiritual memiliki dua proses, pertama proses ke atas yang merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan, kedua proses ke bawah yang ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan internal. Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang dengan meningkatnya kesadaran diri, dimana nilai-nilai ketuhanan di dalam akan termanifestasi keluar melalui pengalaman dan kemajuan diri.[18]

Agama ádalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik di atas dunia. Agama merupakan praktek prilaku tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. Agama memiliki kesaksian iman, komunitas dan kode etik, dengan kata lain spiritual memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu (keberadaan dan kesadaran), sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang (prilaku atau tindakan). Seseorang bisa saja mengikuti agama tertentu, namun memiliki spiritualitas. Orang – orang dapat menganut agama yang sama, namun belum tentu mereka memiliki jalan atau tingkat spiritualitas yang sama.

KESIMPULAN

 

Manusia sebagai makhluk rasional adalah makhluk pembentuk kebudayaan. Dengan pendidikan, akal dan qalbu ini akan diisi dengan pencarian, kemudian ketika pendidikan itu makin mendalam akan terpancar keimanan dalam dirinya (qalb), pengetahuan itu menjadi pengetahuan yang bersifat batin, ketika manusia mulai menyadari betapa kecilnya ia di mata Allah, manusia akan mulai menyesali kekhilafannya, setelah itu pengetahuannya akan menyusup lebih dalam lagi dalam hati yang lebih dalam menjadi cahaya makrifat (fuad) dan kemudian bila telah sempurna menyentuh sifar Ana atau sifat Ilahiah (lubb), bersatuan cahaya Allah dalam tindak tanduk, pikiran, tingkah laku, tercipta rasa tentram dan aman, karena sudah berpegang pada tali Allah.

Pendidikan Islami menurut Ahmad Tafsir adalah suatu pendidikan yang dilandasi nilai-nilai islam untuk membentuk sosok muslim yang ideal, kalau pendidikan Barat, sifatnya hanya pendidikan yang rasional saja (terukur hanya melalui akal saja). Filsafat pendidikan Islami adalah filsafat tentang pendidikan islami, yang obyek kajiannya adalah bagian-bagian yang abstrak tentang pendidikan kebenarannya ditentukan apakah teori-teori yang rasional dan empiris atau tidak.

Manusia yang dididik dengan baik, yang sifat nafs rohnya terdidik secara optimal akan mempunyai spiritual yang baik, dan bila sifat ilahilah sudah menjiwai hatinya maka akan bersihlah jiwanya. Yang menurut menurut al-Tirmidzi, hati memiliki empat stasiun: dada, hati, hati-lebih-dalam, dan lubuk hati terdalam.

Manusia harus diberi pendidikan, pendidikan terhadap jasmani, akal dan rohani. Pendidikan harus menyentuh sifat Ilahiah yang ada dalam rohani atau Roh manusia, sehingga lilin yang menyala dalam Ana manusia akan memancar keluar makin berkembang sehingga tercermin dalam tingkah lakunya dan prilakunya.

Islam menempatkan pendidikan dalam kedudukan yang sangat penting sehingga dalam Al-Quran surat al-Mujadalah Allah berfirman:”Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadalah 58: 11). Dan tujuan dari pendidikan adalah mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat QS. Al-Dzariyah, 56 : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan mereka mengabdi kepada Ku”

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, Cet.III

Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta

Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, Penerbit Rosda, Bandung, 2006

Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, Raja Grafindo Persada, Jakarta

Ary Ginanjar Agustian, ESQ, Penerbit Arga, Jakarta

Bastaman, H, J, Integrasi psikologi pustaka rakyat, 1995

Harun Nasution, Islam Rasional, 1996

Husein Al-Kaff, Kuliah Filsafat Islam, Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad

Jamali, dkk, Membedah Nalar Pendidikan Islam, Pustaka Rihlah, 2005

Robert Frager, Hati, Diri, Jiwa, Serambi, 2003

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, Jakarta: Ruhama, 1995, Cet. II

http://denovoidea.wordpress.com/2009/02/23/hubungan-filsafat-dan-pendidikan/

 


[1]  Jamali, dkk, Membedah Nalar Pendidikan Islam, Pustaka Rihlah, 2005, hal 122-123

[2] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, Cet.III, hal. 27

[3] Bastaman, Integrasi Psikologi dalam Islam, Pustaka Rakyat, 1995 hal 55-56

[4] Harun Nasution, Islam Rasional , 1996, 37

[5] Harun Nasution, Islam….., hal. 38

[6] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Bina ilmu Surabaya 1979 hal 79

[7] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Rosdakarya, Bandung 2005, hal. 10

[9] Husein Al-Kaff, Kuliah Filsafat Islam, Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad

[10] Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, Jakarta: Ruhama, 1995, Cet. II, hal. 5

[11] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, Penerbit Rosda, Bandung, 2006, hal 28

[12] Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 79

[13] Robert Frager, Hati, Diri, Jiwa, Serambi , 2003, hal 30

[14] Frager, Hati … , hal 57

[15]  Frager, Hati … , hal. 59

[16] Frager, Hati … , hal. 69

[17] Ary Ginanjar Agustian, Emotional Spiritual Quotiont, hal 57

[18] Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal 288-290

~ oleh ka uki pada 16 Desember 2012.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: