Sejarah Islam

•16 Desember 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Islam Spanyol

•14 April 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

ISLAM DAN SEMANGAT LITERASI*

Oleh: Syukri Rifai**

Islam sejatinya adalah sebuah sistem hidup yang sangat fundamental dan holistik (syumul). Karena itu Islam tak hanya dipahami sebagai sebuah kumpulan ritualitas monolitik semata, yang hanya sekadar mengurusi ‘ubudiyyah kepada Tuhan (hablumminallah). Lebih dari itu, Islam memiliki cetak biru kehidupan beserta deskripsi praktikal yang diperuntukkan manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khalifah).

Sebagai khalifah, tentunya Allah telah membekali manusia dengan beragam potensi diri. ‘Senjata utama’nya berupa akal berimplikasi logis pada curiosity yang tinggi melebihi makhluk ciptaan Allah lainnya. Potensi ini pada dasarnya untuk diaktualisasikan dan diejawantahkan dalam kehidupan sosial. Dan, agar akal dapat digunakan dalam kapasitas optimal dan dalam koridor yang benar maka manusia mendesain pendidikan.

Akal sebagai hardware manusia dalam kapasitasnya sebagai khalifah tentu tak akan berfungsi jika program software’nya berupa ilmu belum dipasang. Dari sini jelas bahwa ilmu memiliki posisi tinggi dalam khazanah Islam. Bahkan, Tuhan telah menggaransi derajat orang berilmu dan orang beriman lebih tinggi dibandingkan manusia lainnya.

 

Landasan Fundamental

 

Berbicara pendidikan dalam konteks Islam tentunya berkaitan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan itulah yang ‘memanusiakan’ manusia. Dengan kata lain, pendidikan yang mengenalkan manusia dengan tugasnya sebagai khalifah yang memegang amanah Tuhan di dunia. Pada manusia jugalah dicita-citakan sesuatu yang ditanamkan oleh pendidikan. Hasan Langgulung (1995: 46) bahkan menegaskan tujuan utama pendidikan Islam adalah adalah pembentukan karakter khalifah itu.

Proses kegiatan pendidikan Islam itu sendiri sesungguhnya telah dimulai sejak wahyu pertama turun, yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Kalimat (ayat) pertama yang disampaikan Jibril kepada Muhammad Saw. adalah “Iqra” yang berarti “bacalah”. Meskipun Muhammad Saw. adalah seorang ummiy (tidak bisa membaca dan menulis), perintah itu menegaskan manusia memang harus membaca sebagai kunci utama menghimpun pengetahuan dan bekal mengawal amanah tugas khalifah. Dengan turunnya kelima ayat itu, Tuhan melalui rasul-Nya telah memerintahkan manusia untuk belajar membaca dan menulis.

Pada hakikatnya, perintah “bacalah” ini memiliki makna filosofi mendalam bila ditinjau dari aspek pendidikan. Karena dengan membaca, maka realitas makna di balik ciptaan Tuhan bisa dipahami secara utuh. Membaca dalam aneka maknanya adalah pra-syarat (pre-requisite) dalam pengembangan ilmu dan teknologi, bahkan major requisite dalam membangun peradaban.

Sejarah mencatat semua peradaban yang berhasil dan bertahan lama, justru dimulai dari bacaan. Peradaban Yunani dimulai dari “Illiad” karya Homer di abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru. Kebangkitan Eropa dengan gelombang aufklarung dan gerakan renaissance dimulai dengan karya Isaac Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831). Peradaban Islam pun ditandai dengan kehadiran Muhammad Saw. yang diberi mu’jizat berupa Al-Qur’an.

 

Di samping itu, Suwito dan Fauzan (2008: 212) memaknai membaca sebagai upaya pencanangan dan pemberantasan buta huruf, sebagai gerakan literasi dan tindakan awal dalam membebaskan umat manusia dari ketidaktahuan. Ditinjau dari aspek sejarah, hal ini sejalan dengan kondisi masyarakat Arab kala wahyu pertama ini diturunkan, secara garis besar masih buta huruf dan diwarnai kebodohan dalam segala aspek kehidupan.

 

Misi Profetik

 

Dimensi kesuksesan Muhammad Saw. salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Secara historis gerakan literasi dalam Islam bukan sekadar konseptual belaka, tetapi juga praktikal. Memang, Muhammad Saw. adalah seorang yatim piatu yang tak pernah mengenyam pendidikan sekolah yang mengajarkannya baca tulis, tapi beliau sangat menekankan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia. Tercatat bahwa Muhammad Saw. pernah mengutus Mush’ab bin Umair ke Yatsrib pasca Traktat (Bai’at) Aqabah pertama. Ia mengemban misi advokasi dan pendampingan untuk Suku Khazraj dan Suku Aus – penduduk pribumi Yatsrib – sebagai pengondisian sebelum Rasulullah dan kaum muslimin Mekah berhijrah. Di Yatsrib, Mush’ab mengajarkan baca Al-Qur’an dan ajaran Islam.

Dalam buku ‘Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager’ karya M. Syafii Antonio (2008: 183) disebutkan bahwa Rasulullah sangat memperhatikan dunia pendidikan dan mendorong umatnya untuk terus belajar. Beberapa kebijakannya selaku pemimpin selalu berpihak kepada pendidikan dan pemberdayaan umat. Sekadar contoh, ketika kaum muslimin berhasil menawan sejumlah pasukan musyrik Quraisy dalam Perang Badar, beliau membuat kebijakan bahwa para tawanan tersebut dapat bebas kalau mereka membayar tebusan atau mengajarkan baca tulis kepada warga Madinah. Kebijakan strategis ini cukup ampuh untuk mempercepat terjadinya transformasi ilmu pengetahuan di kalangan kaum muslim.

Selain kasus itu, dalam segala kegiatan Nabi Saw. acap kali melibatkan para sahabat dan guru yang bisa baca tulis. Ketika berdiskusi, di kala perang, saat perundingan perdamaian, membangun hubungan bilateral ke negera lain, ataupun dalam misi menyebarkan ajaran Islam itu sendiri. Mu’az bin Jabal misalnya pernah diutus ke Yaman sebagai duta Rasulullah. Orang-orang yang menjadi utusan Nabi Saw. tentunya adalah yang memiliki kompetensi dalam ajaran Islam dan mampu mengajarkannya. Rasulullah juga pernah menyuruh para sahabat mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani untuk menuliskan surat-suratnya, diantara sahabat yang melakukannya adalah Zaid bin Tsabit.

Sebagaimana diketahui, sebagian pengikut Muhammad Saw. pada masa awal Islam adalah orang-orang miskin, bekas budak, dan kaum mustadh’afin lainnya yang perlu diberdayakan. Kemungkinan karena latar belakang ekonomi dan sosial meraka yang lemah, berimplikasi pada akses mereka terhadap dunia pendidikan lemah pula. Tentunya dengan memiliki kemampuan baca tulis akan mampu mengangkat harkat mereka di samping kekuatan iman yang mereka miliki. Pada sisi inilah, penulis melihat Rasulullah memiliki pandangan bahwa gerakan literasi untuk memajukan peradaban umat Islam adalah sebuah keniscayaan dan kebutuhan yang mendesak.

Dengan demikian, bukan sesuatu yang aneh jika di fase awal perkembangan Islam, bahkan sejak zaman Muhammad Saw., lembaga pendidikan Islam telah muncul dan variatif. Saat itu rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam (Dar al-Arqam) tercatat sebagai lembaga pendidikan Islam pertama. Pusat pendidikan Islam bukan lembaga beku dan statis, ia berkembang menurut kehendak waktu dan kedinamisan sosial. Masjid, kuttab, suffah, juga menjadi sentra pendidikan yang muncul di masa nabi sebelum era madrasah. Pasca kelahiran madrasah, lembaga pendidikan kian menjamur, masif dan beragam.

 

Tanggung Jawab Bersama

 

Seorang cendekiawan muslim, Ibnu Khaldun mencatat bahwa pada awal kedatangan Islam, orang-orang Quraisy yang pandai membaca dan menulis hanya berjumlah 17 orang (Maksum, 1999; 54). Dalam perkembangannya, saat penganut Islam kian banyak, tersebar dan makin kuat, terdapat kebutuhan untuk mendidik guru, untuk perkembangan ilmu, dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang lebih maju.

Dalam konteks kekinian, semakin luas pembacaan otomatis membuat peradaban semakin tinggi. Estafeta misi profetik untuk memajukan pendidikan kini di tangan setiap umat manusia itu sendiri. Sebagaimana pemaparan di atas, peran sebagai khalifatullah fil ardh diemban oleh semua manusia sebagai konsekuensi dari potensi keilmuan dan akal yang telah dihadiahkan Tuhan.

Peradaban maju manusia saat ini merupakan hasil mempelajari peradaban masa lalu. Transformasi ini jelas tak dimulai dari titik nol, hal ini amat dimungkinkan terjadi karena kemampuan baca-tulis. Dengan demikian, ‘membaca’ merupakan pre sekaligus major requisite bagi keberhasilan dan kemajuan peradaban manusia. Dan tugas ini merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai ‘wakil’ Tuhan di muka bumi. Sebagai ikhtitam, penulis nukilkan ayat pertama Surah Al-‘Alaq; “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”.

 

 *Tulisan pernah dimuat di Harian Pelita, edisi Kamis, 11 September 2014

**Pendidik, Ketua Konsorsium Agama Madrasah Pembangunan UIN Jakarta dan Penggiat di Kahfi Motivator School Jakarta.

 IMG-20140911-00451

 

 

KELILING JAWA ALA WISATA RELIGI WALI SONGO

•15 Januari 2014 • Tinggalkan sebuah Komentar

Catatan Perjalananziarah wali songo
KELILING JAWA ALA WISATA RELIGI WALI SONGO

Libur semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 kali ini, kami beberapa guru dan karyawan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta kembali mengadakan wisata religi; ziarah wali songo plus Bali. Ziarah wali songo adalah perjalanan ziarah atau berkunjung dan berdoa di makam sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Satu makam wali di Jawa Barat, tiga makam di antaranya berada di Jawa Tengah, dan lima makam wali berada di wilayah Jawa Timur.

Wisata ziarah yang sudah diadakan kali kelima ini diikuti oleh 11 orang. Planning untuk ziarah ini pun sudah jauh hari dipersiapkan di tengah rutinitas di sekolah. Dan, akhirnya diputuskan perjalanan keliling Jawa-Bali ini akan ditempuh selama 6 hari 5 malam, sejak tanggal 24 – 29 Desember 2013.

Hari Pertama

Pagi hari peserta berkumpul di MP UIN Jakarta pukul 06.00 untuk langsung menuju kota Cirebon via tol Cikampek dan Pamanukan. Setelah sampai di Cirebon dan sebelum singgah di Makam Sunan Gunung Djati, rombongan berwisata kuliner dengan menu khas daerah ini yaitu empal gentong. Setelah melahap menu makan siang tersebut, peserta kemudian berziarah ke Makam Sunan Gunung Djati. Inilah satu-satunya makam wali di Jawa Barat yang paling ramai dikunjungi. Kawasan makam Sunan Gunung Djati terletak di desa Astana, kecamatan Cirebon Utara, sekitar 6 km dari Kota Cirebon yang dilintasi jalur Cirebon-Indramayu.

Secara historis, Sunan Gunung Djati yang memiliki nama asli Syarif Hidayatullah ini memiliki ayah yang berasal dari Gujarat, India dan merupakan keturunan dari Rasulullah Saw. Sedangkan dari garis ibu, Sunan Gunung Djati merupakan keturunan dari Prabu Siliwangi. Nama Syarif Hidayatullah sendiri kemudian digunakan oleh UIN Jakarta sebagai penghormatan kepada beliau.

Selesai berziarah, kami melanjutkan perjalanan menuju Demak via Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Semarang. Sampai di Demak, rombongan langsung menuju Masjid Agung Demak yang dahulu merupakan pusat dari kerajaan Islam Demak dan tempat berkumpulnya para wali songo. Setelah shalat jama’ qashar maghrib dan isya’, perjalanan religi ini dilanjutkan ke Makam Sunan Kalijaga yang terletak di tengah kompleks pemakaman Desa Ngadilangu yang dilingkari dinding dengan pintu gerbang makam. Area makam Sunan Kalijaga berjarak sekitar 3 km dari Masjid Agung Demak.

Menjelang tengah malam perjalanan dilanjutkan menuju Kota Kudus untuk berziarah ke Makam Sunan Kudus di kompleks Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Sayangnya, sampai di sana kompleks pemakaman tutup karena sudah larut malam. Rombongan pun memutuskan untuk kembali lagi esok pagi setelah beristirahat dan menginap di salah satu kerabat Bapak Drs. Miran (guru MTs Pembangunan) yang tinggal di Kota Kudus.

Hari Kedua

Rabu, 25 Desember 2013. Setelah shalat Shubuh dan sarapan pagi, kami bergegas untuk kembali menuju Masjid Menara Kudus dan berziarah di Makam Ja’far Shodiq atau yang bergelar Sunan Kudus. Di samping puluhan makam di kawasan itu terdapat pula makam putra Sunan Kudus yaitu Pangeran Palembang. Makam Sunan Kudus sendiri terdapat di tengah-tengah bangunan induk berbentuk joglo.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Gunung Muria. Di sana ada Makam Sunan Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Ziarah ke makam Sunan Muria berjarak sekitar 30 km arah utara dari Kompleks Masjid Menara Kudus. Untuk menuju makam tersebut dapat ditempuh dengan jalan cukup menanjak berupa anak tangga atau terap-terap yang berjumlah kurang lebih 700 terap.

Perjalanan tersebut dapat ditempuh dengan jalan kaki ataupun naik ojek motor, pastinya kedua cara tersebut menghadirkan sensasi dan pengalaman luar biasa dan tak akan terlupakan.

Kemudian wisata religi ini berlanjut menuju Kota Tuban, Jawa Timur. Di sana ada Makam Sunan Bonang, tepatnya di komplek pemakaman Desa Kutorejo, Kecamatan Tuban di kota Tuban. Posisinya di sebelah barat alun-alun kota Tuban, di sebelah barat Masjid Agung Tuban. Makam Sunan Bonang dikelilingi tembok dengan empat buah pintu gerbang untuk masuk ke komplek makam. Sunan Bonang yang memiliki nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim ini juga terkenal sebagai seorang penggubah karya sastra ulung pada masanya, bahkan tembang Tombo Ati hingga kini masih sering dinyanyikan orang.

Setelah itu, wisata ziarah berlanjut ke Kota Lamongan menuju Makam Sunan Drajat. Makam Sunan Drajat berada di daerah Drajat Lamongan yang dapat ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat Jalan Pantura atau yang dahulu lebih dikenal dengan nama De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan, salah satu karya peninggalan kolonial Belanda yang banyak memakan korban rakyat pribumi dan dibangun pada era Herman Willem Daendels (1808–1811), Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36. Namun bila lewat Kota Lamongan dapat ditempuh sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi.

Lalu, perjalanan ba’da maghrib pun ditempuh menuju Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim yang notabene adalah waliyullah tertua diantara para wali songo. Kompleks pemakaman Sunan Maulana Malik Ibrahim terletak di kampung Gapura di dalam kota Gresik, Jawa Timur, tidak jauh dari pusat kota.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Makam Sunan Giri. Tokoh Walisongo yang bergelar Prabu Satmata ini makamnya terletak di sebuah bukit di Dusun Kedhaton, Desa Giri Gajah Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Kompleks makam ini berupa dataran bertingkat tiga dengan bagian belakang paling tinggi. Ketika sampai di sana, nampak kompleks pemakaman sedang direnovasi.

Wali songo terakhir yang dikunjungi adalah Sunan Ampel. Makam Sunan Ampel terletak di kampung Ampel di kota Surabaya. Di depan makam ada dua pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makamnya terpisah dengan dari makam lainnya dan diberi pagar teralis dari besi setinggi 110 cm. Di dalam kompleks Makam Sunan Ampel juga terdapat 2 makam istimewa murid dari Sunan Ampel, yakni makam Mbah Bolong atau Shonhaji dan makam Mbah Sholeh yang berjumlah sembilan makam dan terletak di sebelah timur masjid Ampel.

Hari kedua ini memang cukup panjang, namun mengasyikkan. Karena semua makam wali songo memang direncanakan dikunjungi di hari pertama dan kedua. Selanjutnya rombongan beristirahat di Hotel Bangil, Pasuruan.

Hari Ketiga

Semenjak shubuh, seperti biasa rombongan kembali bersiap melanjutkan perjalanan menuju Bali. Usai sarapan pagi di daerah Probolinggo, dengan lanskap indah untaian Pegunungan Bromo dan Puncak Mahameru di sebelah selatan, mobil elf yang membawa kami peserta ziarah bergerak menyusuri jalan utara, melewati Situbondo dan membelah Taman Nasional Baluran menuju Ketapang, Banyuwangi.

Alhamdulillah, sampai di Ketapang, tanpa menunggu lama mobil elf yang kami tumpangi langsung masuk ke ‘perut’ kapal feri untuk menyeberangi selat Bali. Hampir satu jam diombang ambing ombak selat Bali, rombongan berhasil mendarat di Gilimanuk, Bali.

Setelah melewati prosedur ‘sedikit ketat’ di pelabuhan Gilimanuk, yakni dengan memperlihatkan KTP kepada petugas pelabuhan, rombongan langsung tancap gas menuju Desa Loloan, Kota Negara, Kabupaten Jembrana.

Sekadar catatan, dalam khazanah Islam, jika di Jawa dikenal wali songo (sembilan wali) yang menyebarkan ajaran Islam, di Bali pun dikenal dengan nama wali pitu (tujuh wali). Mereka adalah Mas Sepuh Raden Raden Amangkuningrat di Kabupaten Badung, Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Magribi di Tabanan, Chabib Ali Bin Abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid di Klungkung, Habib Ali Zaenal Abidin Al Idrus di Karangasem, Syech Maulana Yusuf Al Baghdi Al Magribi di Karangasem, The Kwan Lie di Buleleng, dan Habib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih di Jembrana. Sayangnya, karena keterbatasan waktu, tidak semua para wali tadi bisa kami kunjungi. Nama terakhirlah yang akhirnya sepakat untuk diziarahi oleh rombongan MP.

Setelah berziarah ke Makam KH. Habib Ali Bafaqih yang lahir di Banyuwangi tahun 1890 dan wafat tahun 1997 di usia 107 tahun, kami melanjutkan perjalanan untuk beristirahat di salah satu rumah mantan guru dan wali murid MP, Bu Iin di daerah Jimbaran. Lamanya perjalanan selama 6 jam disertai macet di wilayah selatan Bali akhirnya terbayar ketika peserta rombongan melepaskan lelah di atas ‘peraduan’ masing-masing.

Hari Keempat

Jum’at, 27 Desember 2013, perjalanan pulang menuju Jakarta pun dimulai! Setelah menikmati Pantai Kuta di pagi hari dan membeli oleh-oleh khas Bali, kami pun memulai perjalanan panjang menuju Jakarta. Setelah menyeberang dan sampai di Ketapang, perjalanan pulang menempuh rute selatan pulau Jawa. Dengan melintasi Banyuwangi, Jember, Jatiroto, Lumajang dan Kota Malang, perjalanan di jalur selatan yang berkelok bak ular, membelah gunung dan perbukitan tentu saja menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan jalur pantai utara Jawa yang landai. Sesekali sang driver menanyakan arah lokasi ke penduduk setempat atau lewat panduan GPS (Global Positioning System) untuk memastikan kendaraan masih dalam jalur yang benar. Tepat tengah malam, rombongan beristirahat di Wisma Trisula di Jalan Panglima Sudirman, Kota Malang.

Hari Kelima

Udara sejuk di Kota Malang mengingatkan kami kepada daerah Puncak, Bogor. Keberangkatan pulang dimulai kembali sejak pagi. Setelah sarapan nasi rawon di daerah Batu, Malang, jalur perjalanan yang diambil lebih ke tengah alih-alih mengambil jalur selatan. Daerah Pujon, Pare, Kediri, Nganjuk, dan Ngawi tanpa terasa sudah terlewati. Kini rombongan rehat sambil makan siang di Pondok Modern Gontor 1 Putri, Mantingan. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Yogyakarta via Sragen-Surakarta.

Di Kota Gudeg, Yogyakarta, rombongan membeli oleh-oleh di sepanjang jalan Malioboro yang malam itu terlihat padat dan sesak. Kemacetan ala Jakarta sudah menular di Kota Sri Sultan ini. Namun gairah untuk berwisata dan berbelanja sepertinya tetap saja menggebu di kalangan masyarakat kita, yang memang terkenal doyan belanja dan konsumtif apalagi di hari libur akhir tahun. Kebiasaan yang seharusnya dihindari.

Setelah puas menikmati Malioboro-nya Yogyakarta, rombongan sepakat untuk meneruskan perjalanan malam itu lewat jalur utara lagi via Semarang-Pekalongan. Di sepertiga malam, akhirnya rombongan ziarah MP beristirahat di salah satu masjid besar di daerah Pekalongan.

Hari Keenam

Ahad, tiga hari terakhir di pengujung tahun 2013. Tim ziarah wali songo plus Bali MP UIN Jakarta akhirnya tiba di Ciputat pukul 14.00 WIB. Sempat berwisata kuliner sebentar dengan makanan seafood di daerah Brebes, Jawa Tengah perjalanan panjang dan mengesankan ini pun usai.

Banyak hikmah, ibroh dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari perjalanan ini. Terutama dalam mengenang perjuangan dan dedikasi dakwah para auliya di tanah Jawa. Semoga di tahun berikutnya perjalanan ziarah wisata tetap ada. Tabik.

Syukri Rifai
Guru MI Pembangunan UIN Jakarta

Panta Rei Sir Alex…!

•21 Mei 2013 • Tinggalkan sebuah Komentar

By; Syukri Rifai

Membahas Sir Alex Ferguson membuat saya bingung harus memulainya dari mana. Rekor, prestasi, loyalitas dan dedikasi, karier, class of ‘92’nya, bahkan komentar-komentar ‘pedas’nya yang pernah beredar amat memikat untuk diulas. Tapi, akhirnya tulisan ini justru bermula dari perkataan seorang Heraclitus.

Pembaca yang budiman, Heraclitus, pemikir yang hidup di zaman Yunani kuno pernah mencetuskan sebuah filosofi; Panta Rei. Maknanya kurang lebih ‘semuanya mengalir’, tak ada yang abadi dalam kehidupan kecuali Tuhan. Ya, dalam hidup semuanya tidak ada yang pasti. Hidup ini terus mengalir seperti sungai. Di dunia ini perubahan adalah keniscayaan. Di dunia ini tidak ada yang namanya kekekalan.

Hukum Panta Rei berlaku untuk siapapun tak terkecuali bagi Sir Alexander Chapman Ferguson. Manajer dan pelatih terlama, fenomenal sekaligus legenda hidup bagi Manchester United. Setelah 26,5 tahun kepemimpinannya sebagai manajer, Fergie akan berhenti pada akhir musim ini dan mendapat jabatan sebagai salah satu direktur klub dan duta klub. Pertandingan kontra West Bromwich Albion (19/05) menjadi laga resmi penutup kariernya sebagai pelatih United.

Di bawah arahan Sir Alex, akhirnya Setan Merah menjadi tim tersukses di Inggris dengan 38 trofi. Pria 71 tahun itu mengantarkan MU 13 kali juara Liga Inggris, dua kali juara Liga Champions, lima Piala FA, dan empat Piala Liga. Khusus raihan 20 trofi liga, Sir Alex sukses membawa MU melewati sekaligus memutus dominasi Liverpool yang kini mengekor di belakang mereka dengan 18 trofi.

Namun, sejatinya kesuksesan Sir Alex sebagai pelatih klub bukan hanya di United. Memulai karir kepelatihan di tanah kelahirannya, Skotlandia, Fergie yang kala itu baru berusia 32 tahun dipercaya memoles East Stirlingshire. Hanya tiga bulan setelahnya, Fergie hijrah untuk menangani St. Mirren. Di sini ia mulai mencatatkan sukses pertamanya sebagai manajer, dengan mengantar klub itu menjuarai Divisi Pertama Skotlandia–kasta kedua–musim 1976-77. Selepas St. Mirren, yang ia tangani periode 1974–1978, Fergie kemudian memanajeri salah satu klub di Liga Primer Skotlandia, Aberdeen. Di sini ia kian menyita perhatian sebagai manajer, setelah mengantar klub itu menyabet sederet gelar pada periode 1978–1986, tak hanya di Skotlandia, bahkan hingga Eropa. Prestasi ini sekaligus menyeruak dominasi dua klub raksasa asal Kota Glasgow, Celtic dan Rangers. Ia di antaranya sukses membawa Aberdeen meraih tiga gelar Liga Primer Skotlandia, empat trofi Piala FA Skotlandia, dan satu trofi Piala Liga Skotlandia. Sedangkan di kancah Eropa, sentuhan tangan dingin Fergie membawa Aberdeen sukses merengkuh satu trofi Piala Winners plus sebuah trofi Piala Super UEFA.

Kesuksesan memang tak selalu akrab dengan Fergie. Bahkan trofi pertama baru di dapat Fergie setelah tiga tahun memoles United, sekaligus juga penyelamat kariernya di Old Trafford. Ini juga hukum kehidupan, semuanya berpasangan, ada sukses ada juga gagal. Siapapun manusia itu, baik ia ‘merasa’ sukses atau ‘merasa’ gagal, semuanya hanya menjalankan peran kehidupannya masing-masing, sebagai ujian dari Tuhan sejauh mana ia akan bersyukur pada-Nya dan berterima kasih pada lingkungannya. Oleh karena itu tak ada tempat bagi kesombongan di hati manusia. Kesederhanaan dan rendah hati justru akan membuat manusia semakin dihormati alih-alih menyombongkan diri. Karena, kehidupan ini akan berjalan terus, berubah, mengalir, tak ada yang abadi, panta rei…

Tabik.

Saat senja menyapa Legoso, Tangerang Selatan, 17 Mei 2013
Alex+Ferguson+Blackburn+Rovers+v+Manchester+38gZQMYWeaMl

Kenapa United…?

•8 Mei 2013 • 1 Komentar

me and my brother, manchunian di acara wisuda, hehehe

me and my brother, manchunian di acara wisuda, hehehe


KENAPA UNITED…?
By; Syukri Rifai
Anda kini adalah hasil masa lalu Anda. Ya, perjalanan hidup seseorang dipengaruhi oleh sejarahnya sendiri. Apa yang berkesan, dilihat, didengar, dirasakan, dihirup, dialami, dibaca, diajarkan, ditulis, atau ditonton akan bermuara pada pembentukan pribadi seseorang. Itu juga yang menjadi alasan kuat seseorang menjadi suka atau tidak suka pada suatu hal. Pengalaman menjadi key word pada titik ini. Karena pengalaman itu juga yang akhirnya membuat saya dan my little brother (selanjutnya disebut; kami) menyukai sepakbola. Suka dalam bentuk games di lapangan sekaligus dalam bentuk suguhan tontonan favorit.
Bermula di pertengahan tahun 1997, kala itu di salah satu saluran TV swasta nasional, RCTI, ada acara liputan khusus sepakbola yang dipandu oleh Dik Doank dan Ucok Baba, “Planet Football”. Kalau tidak salah acara ini tayang di hari Ahad, pukul 13.00. Saat itu pilihan saluran TV belum banyak, media cetak pun belum beragam dan sebebas sekarang, apalagi jaringan internet, masih menjadi makhluk langka. Sehingga, peran RCTI dalam tayangan dunia bal-balan begitu dominan. Lega Calcio Serie A dan Liga Champions menjadi bintangnya dan disusul berikutnya oleh English Premier League. “Planet Football” tentu saja menjadi acara olahraga favorit kami.
Memang, di awal memasuki jenjang SMP, kami baru ‘menikmati’ tontonan sepakbola. Belajar begadang dan menjadi penguasa remote control saluran TV kala ada tayangan sepakbola. Dan, disinilah titik itu menjadi sejarah dan membentuk kecintaan kami terhadap sebuah klub English Premier League, Manchester United dengan pasukan Class of ‘92’nya. Benih-benih fanatisme pun mulai tersemai.
Saat kami mulai suka terhadap The Red Devils, sebenarnya klub asuhan Sir Alex Ferguson tersebut baru saja ditinggalkan oleh bintang kharismatiknya; King Eric Cantona. Namun, berita-berita tentang aksi ciamik The New Wonderkid; David Beckham, lebih menyedot perhatiam kami. Dekade 1990’an memang miliknya United, bahkan dominasinya di Negeri Ratu Elizabeth hingga kini. Tropi silih berganti mengisi lemari museum di Old Trafford. Puncaknya, di tahun 1999, saat treble winner itu terjadi, kami menonton semua pertandingan terakhir United di semua ajang. Rivalitas dengan Arsenal hingga di penghujung musim Premier League saat MU menuntaskan perlawanan Spurs, perjuangan fantastis semi final Piala FA lagi-lagi melawan Arsenal yang diwarnai gol brilian Giggsy dan pertandingan final melawan Newcastle United di Wembley dengan skor 2-0 untuk United, hingga final dramatis Liga Champions di Nou Camp, Barcelona yang mengkandaskan harapan Bayern Muenchen. Semua pertandingan historis itu tak satupun yang terlewatkan. Semuanya begitu membekas dalam memori kami. Berkesan!!!
Sejatinya, hari bersejarah bagi para Manchunian itu telah terjadi 14 tahun silam, tepat di Bulan Mei. Kemudian, perjalanan United dari musim ke musim, dengan para pesaing yang silih berganti dengan satu misi; hendak menggoyang singgasana The Ferguson Babes, dari mulai Newcastle United dengan Shearer-nya, Arsenal sejak kedatangan Wenger, Liverpool saat ditukangi Benitez, hingga Chelsea di era Mourinho, dan kini saudara tua nan gaduh, Manchester City di bawah coach Mancini, justru semakin menebalkan rasa fanatisme itu terhadap Red Devils. Saat bergelimang gelar maupun musim paceklik yang terasa pahit, menambah kecintaan itu.
Akhirnya, kembali ke kalimat awal tulisan ini, manusia adalah makhluk sejarah dan dibentuk oleh sejarah itu sendiri. Sehingga, jika kini kita lihat fenomena para pecinta sepakbola di negeri ini mulai meningkat dan variatif, itu semuanya produk sejarah. Peran besar media tentunya yang membuat fans Barcelona meningkat tajam, pendukung Chelsea mulai menggunung, pecinta City perlahan muncul, penikmat Dortmund mengemuka, penyuka Napoli terlahir kembali, bahkan penggila Malaga pun mulai membasiskan diri, semuanya terbentuk mengikuti trend dan sejarahnya. Satu hal, para Manchunian di Indonesia takkan susut, bahkan tidak bisa terbendung dan semakin massif. Karena tinta sejarah begitu lekat dan berkesan di memori manusia. Dan, sejarah United tidak akan berhenti. Bagaimana dengan Anda???
Tabik.
Cakung, 8 Mei 2013

100_8708

Nama untuk Putri Sulungku

•1 Mei 2013 • 4 Komentar
Syamla usia 4 hari,,,

Syamla usia 4 hari,,,

NAMA UNTUK PUTRI SULUNGKU
By; Syukri Rifai
Nak, entah di usia berapa kamu bisa baca sekaligus juga paham tulisan ini. Ayah hanya ingin memberikan kado istimewa di usia kamu genap satu pekan. Semoga tulisan ini menjadi rekaman sejarah dan kenangan buat kehidupanmu kelak.
Cerita ini berawal ketika gemerlap Ciputat mulai beringsut sepi, di pertengahan malam Rabu, saat jarum jam mengarah ke angka 23.30 WIB, bundamu menelepon dengan suara samar beriring tangisan mengatakan hendak ke bidan. Ayah yakin tangisan itu muncul karena menahan nyeri yang sangat di perutnya. Memang sudah waktunya kamu melihat dunia, putriku. Diliputi harap, cemas dan mulut yang tak henti merapal kalimat thayyibah, ayah berangkat menuju Pondok Ungu, Bekasi.
Sejam kemudian, ayah sudah berada di hadapan bundamu yang tengah merintih menahan nyeri. Kakek dan nenekmu terlihat tenang menjaga bunda, meski mereka tak bisa menyembunyikan wajah cemasnya seraya berusaha melawan rasa kantuk. Ternyata bunda harus diinduksi hingga 2 kantung untuk mendorong putri sulungku lahir. Menurut bidan, rasa mules bunda kurang dan mesti diinduksi, disamping air ketuban yang sudah lebih dulu keluar. Dengan diinduksi berarti rasa sakitnya bertambah, begitu menurut pengakuan bidan. Oleh sebab itu, bunda kerap meracau. Namun, dengan sabar nenek terus menasehati bunda seraya memijit badan anaknya itu dengan rasa sayangnya yang tak berbatas. Ayah juga mendampingi bunda dan selalu mengingatkan agar tak lupa baca shalawat dan selalu memotivasi untuk lahir normal, bukan dengan jalan ceasar.
Alhamdulillah, sebelas jam setelah diinduksi, pada hari Rabu, 17 April 2013 tepat pukul 10.25 WIB, suaramu memecah kecemasan, mengundang syukur tiada henti. Kamu lahir dengan normal, berat badan 3,7 kg dan panjang 4,8 inchi. Subhanallah, putri sulung ayah besar dan sehat. Tak berapa lama, kalimat azan ayah lantunkan dekat telingamu, Nak.
Dua hari setelah dilahirkan, menjelang kepulangan bunda dan kamu ke rumah, bu bidan menghampiri ayah dan menyodorkan form untuk pembuatan akte kamu. Niscaya ayah dan bunda harus sepakat dan seiya tentang nama kamu. Oh iya, jauh hari sebelumnya ayah dan bunda sebenarnya telah menyiapkan banyak opsi untuk nama kamu, terutama untuk nama perempuan. Cleara, Syamla, Nurbelieva, Gifta, dan Shofi diantaranya. Sedangkan untuk nama laki-laki memang masih mencari. Akhirnya, setelah berdiskusi dan sedikit berfilosofi, kami sepakat memberikan nama untukmu; SYAMLA SHAFIYYA GIFTA RIFAI.
SYAMLA, sejatinya adalah akronim dari nama ayah dan bunda; Syukri dan Camelia. Tapi, Syamla memiliki makna jauh dan dalam daripada sekadar gabungan kata. Secara harfiah syamla berasal dari kata syumul, yang berarti menyeluruh; meliputi; komprehensif. Dalam pendekatan agama, sebenarnya syamla sepadu padan dengan kata kaffah. Menukil tulisan Prof. Azyumardi Azra yang berjudul “Religion is Good for You” dalam tajuk Resonansi Harian Republika edisi Kamis (25/04/2013) dikatakan bahwa beragama secara kaffah atau syumul berarti menjalankan agama dengan tiga aspek, meyakini (believing), mengamalkan (practicing), dan merasakan atau mengalami (experiencing). Itulah maksud dari Syamla. Ayah selalu berdoa kamu akan ber-Islam sesuai dengan makna nama yang kamu sandang, Nak.
SHAFIYYA, diambil dari bahasa Latin, ’shopia’ berarti pengetahuan, kebijaksanaan, hikmah, wisdom. Sedangkan jika ditinjau dari bahasa Arab, shafiyya berarti murni, suci, jernih, tenang, indah, perempuan berbudi luhur, teman terbaik. Makna intrinsik dari nama kamu ini, ayah berharap kelak kamu akan menjadi seorang ilmuan, pecinta pengetahuan, yang memiliki akhlak dan budi pekerti luhur. Filosuf yang sufi. Ustadzah yang intelek atau Ilmuwan yang religius.
GIFTA, diambil dari bahasa Inggris, gift; pemberian. Ini merupakan ejawantah dari rasa syukur ayah dan bunda kepada Zat Illahi yang telah memberikan hadiah bagi kehidupan rumah tangga kami. Amanah yang sangat indah. Alhamdulillahirabbil ‘alamien.
RIFAI. The last name ini memang diambil dari nama ayah sendiri. Berarti tinggi, luhur, atau Zat Yang Maha Tinggi. Jika digabung kedua nama terakhir, Gifta Rifai berarti pemberian dari Zat yang Maha Tinggi.
Anakku, tentu nanti engkau boleh menginterpretasi nama kamu sendiri. Tapi, kalau boleh ayah gabungkan nama kamu, maknanya kurang lebih adalah perempuan berbudi luhur, bijak, berpengetahuan, beragama kaffah, pemberian dari Zat yang Maha Tinggi. Panjang ya, Nak…??? ^_^
Tabik.

Kala senja di Ciputat, 25 April 2013

MENAKAR MODEL PESANTREN MODERN DAN TRADISIONAL

•16 Desember 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

MENAKAR MODEL PESANTREN MODERN DAN TRADISIONAL;

Studi Kasus Pondok Modern Darussalam Gontor dengan Pondok Buntet Pesantren Cirebon

 

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I

 

  1. A.      Pembukaan

Pesantren, secara sederhana mulanya dimengerti sebagai tempat mangkalnya sekelompok orang saleh yang ingin mendalami agama Islam, dengan seorang kyai tertentu sebagai tokoh spiritual mereka. Kata “santri” sendiri sebenarnya punya dua pengertian. Pertama, bisa berarti orang mendalami agama Islam. Kedua, bisa berarti juga orang saleh yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Pada perkembangan selanjutnya, setiap orang yang bermukim di pesantren, entah karena dipaksa oleh orang tua lantaran biaya pendidikan yang mahal, atau karena frustasi dan karenanya ia tetap bandel di pesantren tanpa menunjukkan sedikitpun tanda-tanda orang saleh,  tetap disebut santri, itu soal lain.

Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam Tradisional di mana para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Berdasarkan jumlah siswa atau santrinya, pesantren dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, antara lain: pesantren kecil, yaitu pesantren yang biasanya mempunyai jumlah santri di bawah seribu dan pengaruhnya terbatas pada tingkat kabupaten, pesantren menengah, yaitu pesantren yang memiliki jumlah santri antara 1000 sampai dengan 2000 orang, pesantren menengah ini biasanya memiliki pengaruh dan menarik santri-santri dari beberapa kabupaten, dan pesantren besar, yaitu pesantren yang mempunyai jumlah santri lebih dari 2000 orang yang berasal dari berbagai kabupaten dan propinsi. (Dhofier: 1994).

Selain itu, dikenal pula istilah-istilah pesantren, seperti: Pesantren Tradisional,  Pesantren Modern dan Pesantren Kilat. Pesantren tradisional atau  pesantren salafi adalah pesantren yang  tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Sistem madrasah atau jenjang-jenjang juga diterapkan untuk lebih memudahkan sisten pengajaran yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, pesantren ini tidak mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Misalnya, Pesantren Lirboyo dan Ploso di Kediri, Pesantren Aslakul Huda di Pati dan pesantren Tremas di Pacitan. Pesantren modern atau pesantren khalafi adalah pesantren yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam sistem madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau membuka tipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren.Misalnya, Pondok Modern Gontor di Ponorogo yang tidak lagi mengajarkan kitab-kitab Islam klasik atau Pesantren Tebuireng dan Rejoso di Jombang yang telah membuka SMP, SMA dan universitas namun tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.  Adapun pesantren kilat merupakan kegiatan dalam pesantren yang diselenggarakan hanya dalam beberapa minggu saja (15-40 hari). Aktifitas ini biasanya bertujuan untuk mengisi waktu kosong (libur) dari para santri maupun orang di luar pesantren (anak-anak yang bersekolah di sekolah umum) dengan belajar dan memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam dan amalan-amalan yang harus dilakukan, seperti: sholat, membaca Al-Qur’an, belajar bahasa Arab, menghafalkan doa-doa dan sebagainya. Biasanya para orang tua yang mempunyai anak yang bersekolah di sekolah umum mengirim mereka ke pesantren kilat supaya anak mereka memiliki pengetahuan yang seimbang antara pengetahuan umum dan agama. Pesantren kilat ini biasanya diselenggarakan pada masa liburan sekolah umum atau pada bulan Ramadhan. (Dhofier: 1994)

Di Indonesia, pesantren dikenal sebagai tradisi belajar dan mengajar yang intensif, yang paling sesuai dengan kultur masyarakat Islam negeri ini. Karena Islam di Nusantara, dari sumber penyebaran pertamanya di Aceh, menjalar secara terorganisasi dan terencana pertama kali justru dari tradisi pesantren ini. Syaikh Maulana Malik Ibrahim, wali pertama dari wali songo yang berjasa menyiarkan agama Islam pertama kali di jazirah Nusantara, adalah pendiri pertama pesantren di Indonesia. Dari pesantrennya inilah kemudian menyebar ribuan muballigh ke seluruh Tanah Jawa dan daerah-daerah sekitarnya. (Rahardjo: 1988)

Pendidikan dan pengajaran di pesantren berurat akar ke bawah, mendapat dukungan dari masyarakat dan hidup di tengah masyarakat serta mengabdi pada kepentingan rakyat. Pesantren memiliki jiwa gotong royong atau kekeluargaan, oleh karenanya lembaga ini tidak mengenal hubungan kepegawaian, buruh majikan, dengan sendirinya seluruh karyawan pendidikannya tidak mengenal istilah gaji. Sesuai dengan kenyataan tersebut dan karena itu sistim ujian, ijazah yang mengarah kepada sifat intelektualisme dan verbalisme dalam pendidikan dan pengajarannya sehingga pendidikan intelek mengalahkan pendidikan kepribadian yang integral dari manusia juga tak dikenal, dan diganti dengan in service teacher role yang terkenal dengan istilah sistem lurah pondok.

Secara natural  tidak ada gejala sosial di dunia ini yang selalu tetap dan tidak berubah. Begitu pula halnya dengan dunia pesantren, meskipun dalam gambaran masyarakat umum pesantren merupakan “pribadi” yang sukar diajak berbicara mengenai perubahan, sulit dipahami pandangan dunianya dan karena itu pula orang enggan membicarakannya. Sementara itu sebagian orang merasa punya kuasa atau mempunyai pengaruh lalu berusaha untuk menggalakkan perhatian umum mengenai lembaga yang didiamkan dalam “cagar masyarakat” itu. Walhasil, masyarakat umum memandang dunia pesantren hampir-hampir sebagai lambang keterbelakangan dan ketertutupan (Rahardjo: 1988). Karena itulah, ketika kebetulan pemerintah – dalam hal ini Departemen Agama atau Menteri Agama – membicarakan, bahkan menjadikan pesantren sebagai “sasaran pembangunan”, maka dunia pesantren pun menerimanya dengan terkejut dan kemudian “curiga”.

 

  1. B.       Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG)
    1. 1.      Sejarah

Didirikan pada tgl 20 September 1926/ 12 Rabi’ul Awwal 1345 oleh tiga bersaudara: K.H. Ahmad Sahal (1901 – 1977), K.H. Zainudin Fananie (1908 – 1967), dan K.H. Imam Zarkasyi (1910 – 1985).

Pada tanggal 5 Syawwal 1355/19 Desember 1936 Kulliyatu-l Mu’allimin al-Islamiyah  (KMI), didirikan oleh K.H. Imam Zarkasyi. Sebuah sekolah tingkat menengah, masa belajar 6 th, untuk mencetak guru-guru Islam, dengan sistem pesantren, mengajar-kan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum secara seimbang. Pelajaran agama dan bahasa (Arab dan Inggris) disampaikan dengan bahasa pelajaran (tidak diterjemahkan). (Zarkasyi: 2005, 92)

Di tahun 1948terjadi Pemberontakan PKI di Madiun, Para Kyai di wilayah Madiun dan sekitarnya ditangkap dan ditawan oleh gerombolan PKI, termasuk Kyai Gontor. Sebagian besar mereka dibantai, namun para Kyai Gontor selamat berkat bala bantuan dari Pasukan Siliwangi. Kemudian, pada tanggal 28 Rabi’u Awal 1378/ 12 Oktober 1958,para pendiri Pondok mewakafkan PMDG kepada Umat Islam. Sebuah pengorbanan kepemilikan pribadi demi kemaslahatan umat. Pihak penerima amanat diwakili oleh 15 anggota IKPM yang kemudian menjadi Badan Wakaf PMDG.

Pada tanggal 29 Jumadi Tsaniyah 1383/ 17 Nopember 1963Perguruan Tinggi Darussalam berdiri. Sejak 1996 diubah namanya menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID).
ISID mempunyai 3 fakultas: Tarbiyah; jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pengajaran Bahasa Arab. Ushuluddin; jurusan Perbandingan Agama, Filsafat Pemikiran Islam. Syari’ah; jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum; dan jurusan Manajemen & Lembaga Keuangan Islam.

7 Dzulhijjah 1386/ 19 Maret 1967 Terjadi pemberontakan terhadap Kyai/Pimpinan Pondok, didalangi oleh sebagian santri senior, bertujuan mengambil alih kepemimpinan di Pondok. Kyai/Pimpinan Pondok memulangkan seluruh santrinya. Pondok untuk sementara waktu diliburkan. Hanya sebagian santri yang dipanggil oleh Pimpinan Pondok yang boleh kembali belajar/nyantri di PMDG. Pasca peristiwa, semakin banyak santri yang datang dan Pondok bertambah maju pesat.

30 Rajab 1405/ 21 April 1985, K.H. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok terakhir, wafat. Sidang Badan Wakaf menetapkan tiga pimpinan baru: K.H. Shoiman Luqmanul Hakim, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A., K.H. Hasan Abdullah Sahal. Tahun 1999, K.H. Shoiman Luqmanul Hakim wafat, digantikan oleh Drs. K.H. Imam Badri yang wafat 8 Juni 2006. (Zarkasyi: 2005, 88).

 

  1. 2.      Visi, Misi, Tujuan, dan Nilai Dasar

a)        Visi
Sebagai lembaga pendidikan pencetak kader-kader pemimpin umat, menjadi tempat ibadah talab al-’ilmi; dan menjadi sumber pengetahuan Islam, bahasa al-Qur’an, dan ilmu pengetahuan umum, dengan tetap berjiwa pesantren. (gontor.ac.id)

b)     Misi

  • Membentuk generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah.
  • Mendidik dan mengembangkan generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
  • Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju terbentuknya ulama yang intelek.
  • Mewujudkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. (gontor.ac.id)

c)        Tujuan

  1. Terwujudnya generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah.
  2. Terbentuknya generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
  3. Lahirnya ulama intelek yang memiliki keseimbangan dzikir dan pikir.
  4. Terwujudnya warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. (gontor.ac.id)

d)       Motto

Berbudi tinggi, Berbadan sehat, Berpengetahuan luas, Berpikiran bebas.

 

 

e)        Nilai Dasar

Panca Jiwa, meliputi: Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, Jiwa Bebas.

Panca Jangka, meliputi: Pendidikan dan Pengajaran, Kaderisasi, Pergedungan, Pengadaan Sumber Dana, dan Kesejahteraan Keluarga Pondok.

 

  1. 3.      Kurikulum dan Program

Orientasi Pendidikan & Pengajaran

  • Keislaman
  • Keilmuan
  • Kemasyarakatan

Strategi Pendidikan

  • Kehidupan Pondok dengan segala TOTALITASNYA menjadi media pembelajaran dan pendidikan.
  • Pendidikan berbasis komunitas: segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami oleh para santri dan warga Pondok dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Kurikulum KMI

  • Kurikulum KMI terdiri dari Ilmu Pengetahuan Umum 100%, Ilmu Pengetahuan Agama 100%.
  • Hal ini menunjukkan bahwa antara ilmu agama dan umum tidak dapat dipisahkan, semuanya ilmu Islam. Semua bersumber dari Allah dengan segala ciptaan-Nya atau segala sesuatu yang lahir dari ciptaan-Nya.
  • Secara mendasar, tujuan pengajaran kedua macam ilmu tersebut adalah untuk membekali siswa dengan dasar-dasar ilmu menuju kesempurnaan menjadi ‘abid dan khalifah.
  • Kurikulum KMI tidak terbatas pada pelajaran di kelas saja, melainkan keseluruhan kegiatan di dalam dan di luar kelas merupakan proses pendidik-an yang tak terpisahkan.

Isi Kurikulum

  • Bahasa Arab
  • ‘Ulum Islamiyah; utk kls II ke atas menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar.
  • Keguruan
  • Bahasa Inggris
  • Ilmu Pasti; Matematika dan IPA
  • Ilmu Pengetahuan Sosial
  • Keindonesiaan/Kewarganegaraan

Guru KMI Gontor

  • Berasal dari tamatan KMI Gontor, atau lulusan KMI yang telah tamat belajar di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri; dan wajib bertempat tinggal di asrama.
  • Tugas: Sebagai guru/pendidik; sebagai mahasiswa ISID; sebagai pembantu Pondok: tata usaha, pengurus unit usaha, pembimbing kegiatan santri, dll.

 

Pengakuan kurikulum PMDG, diantaranya: Menteri Pendidikan dan Pengajaran Republik Arab Mesir (tahun 1957), Kementerian Pengajaran Kerajaan Arab Saudi (tahun 1967), University of the Punjab, Lahore, Pakistan (tahun 1991), Dirjen Binbaga Islam Depag RI (tahun 1998), Menteri Pendidikan Nasional RI (tahun 2000).

Kegiatan Ekstrakurikuler meliputi: Pramuka, Olahraga, Kesenian, Latihan Pidato (bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris), Khutbah Jum’at, Tau’iyah Diniyah, Diskusi, Kursus Komputer, Praktek di Laboratorium Bahasa, Kursus Jurnalistik, Majalah Dinding (bahasa Arab dan Inggris), Baca buku di Perpustakaan, Keterampilan, Praktek Manajemen Organisasi dan Koperasi, Bersih Lingkungan, dan lain-lain.

 

  1. C.      Pondok Buntet Pesantren
    1. 1.    Sejarah

Pondok Buntet Pesantren adalah nama sebuah Pondok Pesantren yang umurnya cukup tua. Berdiri sejak abad ke 18 tepatnya tahun 1785. Menurut catatan sejarah seperti yang tertulis dalam buku Sejarah Pondok Buntet Pesantren karya H. Amak Abkari, bahwa tokoh Ulama yang pertama kali mendirikan Pesantren ini adalah seorang Mufti Besar Kesultanan Cirebon bernama Kyai Haji Muqoyyim (Mbah Muqoyyim).

Bermula karena beliau memiliki sikap non kooperatif terhadap penjajah Belanda waktu itu, sehingga lebih kerasan (betah) tinggal dan mengajar di tengah masyarakat ketimbang di Istana Kesultanan Cirebon. Rupanya, setelah merasa cocok bertempat tinggal di perkampungan dan memberikan dakwah keagamaan, akhirnya beliau mendirikan sebuah pondok pesantren yang cukup terekenal bernama Pondok Buntet Pesantren.

Di tempat yang sekarang ini berada, pesantren ini posisinya ada di antara dua Desa: + 80% Pesantren ini menjadi wilayah administratif Desa Mertapada Kulon dan sisanya bagian Barat milik Desa Munjul. Pesantren ini sendiri bukanlah nama Desa, melainkan hanya tempat/padepokan santri. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dari ratusan tahun yang lalu, penduduk pesantren ini makin lama makin berkembang. Kepadatannya cukup besar.

Berbeda dengan Pondok Pesantren lain, keberadaan Pesantren Buntet ini cukup unik karena komunitasnya yang homogen; antara santri dan penduduk asli pesantren ini sulit dibedakan, terutama bila dipandang oleh orang lain. Orang yang mengenal Buntet sebagai sebuah pesantren, ketika bertemu dengan salah seorang lulusan pesantren ini, dianggapnya sebagai santri sehingga kesan yang timbul adalah berdekatan dengan ilmu keagamaan dan ubudiah. Karena memang tidak bisa dipungkiri, baik penduduk asli pesantren ini ataupun santri, keberadaan sehari-hari, tidak lepas dari aktivitas nyantri (mengaji).

Setidaknya ada tiga jenis masyarakat penghuni pesantren: Pertama, masyarakat keturunan kyai. Dari catatan silsilah keturunan Kyai Buntet, hampir seluruh Kyai di Pesantren ini adalah anak cucu dari keturunan Syarif Hidayatullah, salah seorang anggota Walisongo. Kedua, Masyarakat biasa. Asal mula mereka adalah para santri atau teman-teman Kyai yang sengaja diundang untuk menetap di Buntet. Ketiga, masyarakat santri. Merekalah yang membesarkan nama baik Buntet Pesantren.

Dalam perkembangan selanjutnya, kepemimpinan Pondok Buntet Pesantren dipimpin oleh seorang Kyai yang seolah-olah membawahi kyai-kyai lainnya yang memimpin masing-masing asrama (pondokan). Segala urusan ke luar diserahkan kepada sesepuh ini. (http://buntetpesantren.org).

 

  1. 2.    Program

Untuk mewujudkan upaya pengembangan kuallitas sumber daya manusia secara terarah, terpadu, dan menyeluruh Pondok Buntet Pesantren merencanakan program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Program Jangka Pendek

  1. Peningkatan sumber daya manusia
  2. Pengembangan sarana dan prasarana
  3. Penambahan tenaga pengajar definitive
  4. Pemberdayaan balai pengobatan
  5. Penambahan buku-buku perpustakaan
  6. Pengadaan sarana ibadah (Masjid Kampus AKPER)
  7. Penerbitan jurnal ilmiah “Rehal”
  8. Revitalisasi Lembaga Bahasa dan Komputer
  9. Cappacity Building dengan penguasan teknologi modern
  10. Up Grading Website, Internet dan Intranet Linkage

 

Program Jangka Menengah

  1. Pendirian Akademi Kebidanan
  2. Pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Buntet Pesantren
  3. Pendirian Program Profesi/Kejuruan Buntet Pesantren
  4. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
  5. Pendirian Akademi Bahasa Asing
  6. Pengembangan Usaha Wartel Tipe B menjadi Tipe A
  7. Balai Pengobatan / Klinik Kesehatan
  8. Pengadaan Percetakan
  9. Pendirian Akademi Komputer

 

Program Jangka Panjang

  1. Pendirian Universitas Buntet Pesantren
  2. Pendirian Rumah Sakit Kelas D

 

  1. 3.      Kurikulum

Keseluruhan kitab-kitab klasik yang diajarkan dapat dikelompokkan dalam 8 kelompok, antara lain: 1. nahwu (sintaksis) dan sharaf (morfologi), 2. fiqh (hukum Islam), 3.usul fiqh (pengetahuan tentang sumber-sumber dan sistem jurispudensi Islam), 4. hadits (ajaran-ajaran yang dilakukan nabi atau rosul), 5. tafsir (terjemahan Al-Qur’an), 6. Tauhid, 7. Tasawuf dan etika dan 8. cabang-cabang lain seperti  tarikh dan balaghah.

 

  1. D.      Komparasi Analitis Pondok Modern Darussalam Gontor dengan Buntet Pesantren

 

1)      Sistem Pengajaran

Sistem pengajaran yang dikenalkan di pesantren tradisional pada umumnya ada dua macam, yaitu sistem sorogan, di mana sistem ini biasanya diberikan kepada murid-murid yang telah menguasai pembacaan Al-Qur’an. Sistem ini merupakan sistem pengajian dasar di rumah-rumah, di langgar dan di masjid yang diberikan secara individual. Adapun sistem pengajaran yang lain adalah sistem bandongan. Sistem ini merupakan sistem utama di lingkungan pesantren. Dalam sistem ini sekelompok murid (5-500 orang) mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit. Bagi santri yang sudah mencapai ilmu yang cukup tinggi atau biasa disebut santri senior, biasanya masuk dalam anggota kelas musyawarah. Dalam kelas ini sistem pengajarannya sangat berbeda dengan sebelumnya. Para santri harus mempelajari sendiri kitab-kitab yang ditunjuk oleh kyai. Kemudian kyai akan memimpin kelas musyawarah ini seperti dalam sebuah seminar dan biasanya lebih banyak dalam bentuk tanya jawab atau diskusi.

Berbeda dengan sistem pengajaran di pesantren tradisional, maka di pesantren modern seperti di Gontor, transformasi ilmu pengetahuan berlangsung dengan sistem klasikal. Di Indonesia sendiri pesantren modern berkembang karena berdampingan dengan penyelenggaraan sekolah ‘umum’.

 

2)      Elemen-elemen Pesantren

Pondok

Pondok adalah asrama atau tempat tinggal bagi para santri. Pondok merupakan ciri khas tradisi pesantren yang dapat membedakannya dengan sistem pendidikan tradisional di masjid-masjid yang berkembang di kebanyakan wilayah Islam di negara-negara lain.

Di lihat dari segi fisik maupun manajerial sistem pondok yang ada di PMDG dengan Buntet Pesantren, perbedaan keduanya terletak dari besar bangunan dan pengasuh asrama. Kalau di PMDG, asrama di kelola oleh santri senior di bawah Kyai atau Pengasuh sedangkan di Buntet Pesantren pengelolaan asrama berada di bawah naungan kyai-kyai pengasuh sehingga bentuk fisik bangunannya tidak sebesar di PMDG.

 

Masjid

Masjid merupakan tempat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sembahyang lima waktu, khotbah, dan sembahyang Jum’at dan pengajian kitab-kitab Islam klasik. Dalam sistem pendidikan Islam dari zaman dahulu hingga sekarang masjid merupakan pusat pendidikan Islam. Kaum muslimin biasanya menggunakan masjid sebagai tempat pertemuan, pusat pendidikan, aktivitas administrasi dan kultural.

 

 

 

Pengajaran Kitab-kitab Klasik

Tujuan utama dari sebuah pesantren sesungguhnya adalah untuk mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Sementara pengajaran membaca Al-Qur’an dalam pengajian bukan merupakan tujuan utama dalam sistem pendidikan pesantren.

 

Santri

Dalam kultur Pesantren tradisional seperti di Buntet lazimnya dikenal dua kelompok santri:

1.      Santri mukim yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren.

2.      Santri kalong yaitu  murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren. Untuk mengikuti pelajarannya di pesantren, mereka bolak-balik (nglaju) dari rumahnya sendiri.

Adapun dalam kultur di Pesantren modern tidak mengenal istilah dikotomi santri. Hal ini dikarenakan setiap santri yang menuntut ilmu di pesantren modern diharuskan mukim di asrama.

 

Kyai

Kyai merupakan elemen yang paling esensial dari suatu pesantren. Kata kyai adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. Selain gelar kyai, ia biasanya juga sering disebut seorang alim (orang yang dalam pengetahuan Islamnya). Di Pesantren, kyai merupakan sosok yang tidak boleh didebat. Hal ini mengakibatkan bahwa antara kyai dan santri ada hubungan yang berjarak dalam sisi transformasi ilmu pengetahuan. (Huda: 2002, 208).

 

3)      Perguruan Tinggi dan Pesantren

Potensi Pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam di Indonesia cukup besar dan kuat. Besar dari segi kuantitas, dan menurut catatan Departemen Agama (1982) terdapat sejumlah 4.980 pesantren di Indonesia. Namun, dari jumlah yang demikian besar, hanya beberapa saja yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. (Azra: 1998, 102)

Menurut A. Malik Fadjar, perguruan tinggi dan pesantren adalah dua tradisi pendidikan yang banyak perbedaan. Perguruan tinggi merupakan gejala kota, sedang pesantren adalah gejala desa. Perguruan tinggi identik dengan kemodernan, sedangkan pondok pesantren identik dengan ketradisionalan. Perguruan tinggi lebih menekankan pendekatan yang bersifat liberal, sedang pesantren menekankan sikap konservatif yang berstandar dan berpusat pada figur sang kyai. (Fadjar: 2005, 219).

Meskipun pendapat di atas masih debatable, paling tidak dunia pesantren tidak selamanya menunjukkan perkembangan yang statis atau status quo. Gontor membuktikan bahwa sistem pendidikan yang modern dan mapan berarti harus ada kesinambungan. Hal ini yang menjadi salah satu dasar didirikannya KMI dan ISID. Sedangkan di Buntet sendiri meskipun belum memiliki perguruan tinggi, namun dari program jangka panjangnya jelas terlihat bahwa keberadaan perguruan tinggi yang bersinergi dengan pesantren adalah keniscayaan.

 

  1. E.       Penutup

Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan nasional di Indonesia, agaknya tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam local genus. Di kalangan umat Islam sendiri, pesantren sedemikian jauh telah dianggap sebagai model institusi pendidikan yang mempunyai keunggulan. Dan, secara ideal pesantren sesungguhnya mengemban fungsi mobilitas sosial pelestarian nilai etik serta pengembangan tradisi intelektual. Sehingga hal ini meniscayakan adanya independensi, interdependensi, otonomi, dan terbebas dari segala macam sekat dan belenggu.

Namun demikian, tak berarti pesantren lepas dari kelemahan. Justru dengan cepatnya perubahan di semua sektor dewasa ini, pesantren menyimpan banyak persoalan yang menjadikannya agak tertatih-tatih, kalau tidak malah kehilangan kreativitas dalam merespon perkembangan zaman. Untuk itu, pesantren dituntut kreatif untuk mempertahankan eksistensinya agar tidak tergerus oleh zaman. Untuk itu, eksistensinya akan selalu ditantang oleh perubahan sebagai sebuah kebutuhan yang mengalami pergeseran nilai. (Riyadi: 2006, 192).

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. F.       Referensi

 

  1. Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005

Abdullah Syukri Zarkasyi, Gontor dan Pembaharuan Pendidikan Pesantren, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005

Ahmad Ali Riyadi, Politik Pendidikan; Menggugat Birokrasi Pendidikan Nasional, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006

Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998

Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3ES, 1988

Nurul Huda, Cakrawala Pembebasan; Agama, Pendidikan, dan Perubahan Sosial, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai,Jakarta:  LP3ES, 1994

http://buntetpesantren.org

http://gontor.ac.id

Resensi Buku; Muhammad Al-Fatih 1453

•16 Desember 2012 • 1 Komentar

INFO BUKU             :

Judul               : Muhammad Al-Fatih 1453

Pengarang       : Felix Y. Siauw

Tahun Terbit    : Agustus 2011

Penerbit           : Khilafah Press

Tebal               : 320 hlm



NAPAK TILAS SANG PENAKLUK EROPA

Oleh; Syukri Rifai

Kota Konstantinopel atau yang kini dikenal sebagai kota Istanbul adalah salah satu kota pelabuhan paling sibuk di dunia pada masanya. Ini dikarenakan posisi strategisnya yang berada di tengah dunia, ‘jembatan’ antara Asia dengan Eropa. Kota ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya pada masa Kesultanan Turki Utsmani, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh Islam di banyak negara, terutama di Benua Biru Eropa. Konstantinopel ini didirikan tahun 330 M oleh Maharaja Bizantium yakni Constantine I dan menjadikan kota ini sebagai “kota yang paling diinginkan di seluruh dunia.” Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium. Bahkan, Jenderal Perancis di Perang Dunia I Napoleon Bonaparte pernah mengatakan, “apabila dunia ini adalah sebuah negara, maka tempat yang paling layak sebagai ibukotanya adalah Konstantinopel.”

Sejatinya, kisah tentang penaklukkan Konstantinopel sudah jauh hari dikabarkan Rasulullah Saw dalam satu hadisnya, dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab,”Kota Heraklius terlebih dahulu (Konstantinopel)”. [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]. Dengan demikian, ekspedisi Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II) bukanlah ekspedisi yang biasa, ekspedisi yang dipimpinnya kali ini adalah ekspedisi kerinduan selama 825 tahun.

Pijakan untuk memulai penyebaran Islam ke Eropa dimulai ketika pertama kalinya kontak fisik antara pasukan Muslim dengan pasukan Romawi bertemu di Mu’tah pada bulan September 629 M. Kemenangan saat itu memihak prajurit-prajurit Islam yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, Sang Pedang Allah. Pasca Mu’tah, konflik intens Romawi-Islam kerap terjadi yang memunculkan persaingan Barat dan Timur selama ratusan tahun. Dan, tujuan utama umat Islam; Konstantinopel.

Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Konstantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 669 M/44 H di zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan, khalifah pertama Daulah Umayyah. Akan tetapi, usaha itu gagal. Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190 H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656 H, usaha menawan Kostantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arselan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos (Romanus IV/Armanus), tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.

Awal kurun ke-8 hijriyah, Daulah Utsmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi nafas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sultan Yildirim Bayazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Bayazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinopel secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk.

Setelah Daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan makin terkonsolidasi, semangat jihad hidup kembali. Hasrat dan kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II), sultan ke-7 Daulah Utsmaniyyah. Ia jugalah yang kelak mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.

Dibentuk Sebagai Sang Penakluk

Sultan Mehmed II/Muhammad II (juga dikenal sebagai el-Fatih (الفاتح), “sang Penakluk”, 29 Maret 1432 – 3 Mei 1481) merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun. Semenjak kecil, Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Kostantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika beliau naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menaklukkan kota pelabuhan itu. Kekuatan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ulama terulung. Ayah Al-Fatih yaitu Sultan Murad II mengutus Syeikh Ahmad Al-Kurani  dan Syeikh Aaq Syamsuddin untuk menjadi pengajar Muhammad Al-Fatih. Sebelumnya, Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang ulama untuk mengajar anaknya itu, tetapi tidak diterima oleh Muhammad II. Lalu, dia menghantar Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Muhammad II jika membantah perintah gurunya.

Waktu bertemu Muhammad II dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sultan, Muhammad II tertawa. Dia lalu dipukul oleh Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Muhammad II lantas setelah itu dia terus menghafal Al-Qur’an dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Syeikh Aaq Syamsuddin, seorang ulama yang nasabnya bersambung pada Abu Bakar Assh-Shiddiq merupakan pengajar Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Muhammad II ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur’an, hadits, fiqih, bahasa (Arab, Persi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.

Syeikh Aaq Syamsuddin lantas meyakinkan Muhammad II bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah Saw. di dalam hadits pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Syamsuddin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Peperangan itu memakan waktu selama 54 hari. Persiapan pun dilakukan. Sultan berhasil menghimpun sebanyak 250 ribu tentara. Para mujahid lantas diberikan latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.

Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel tepat pada tanggal 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sultan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT.

Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Pekikan “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” terus membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan meruntuhkan langit kota itu. Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan dzikir. Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentara Utsmaniyyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka.

Buku ini dengan runut mengisahkan kejayaan Al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel. Kupasan kepemimpinannya, pilihan taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga proses rekrutment prajuritnya dibahas secara lugas. Dengan diperkuat gambar dan ilustrasi menurut sumber aslinya mengajak pembaca seperti sedang menelusuri jejak-jejak kejayaan Islam di abad pertengahan. Terlepas dari misi penulisnya untuk menegakkan khilafah Islam yang tercantum di beberapa lembar akhir buku ini, tentunya buku ini amat layak dibaca sebagai referensi, terutama bagi mereka yang tak ingin terdistorsi dan tercerabut dari rajutan sejarah manusia.