PENDIDIKAN JASMANI MENURUT AS-SUNNAH

PENDIDIKAN JASMANI MENURUT AS-SUNNAH

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I
1. Pentingnya Pendidikan Jasmani dalam Islam untuk Menjaga Kesehatan
Al Qur’an memperhatikan dan menekankan di beberapa ayat akan pentingnya membentuk jasmani yang kuat, sebagaimana firman Allah Swt, artinya,
…        
“Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat fisiknya lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashash: 26).

Senada dengan ayat di atas, terdapat pula ayat di mana Allah Swt. menjelaskan tentang Thalut penguasa Bani Israil, yaitu firman Allah Swt.,
…   •          …. 
artinya, “…(Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (QS. Al Baqarah: 247).
Pendidikan jasmani dalam Islam bukan hanya dalam pengertian fisik yang kuat, tetapi juga dalam arti menjaga kesehatan dan kebersihan fisik/tubuh. Dalam Islam sendiri, menjaga kebersihan itu dimulai dari tubuh sendiri, pakaian, tempat dan lingkungan. Anjuran untuk menjaga kebersihan fisik/tubuh sebagaimana dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya:
خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ الْخِتَانِ وَاْلاِسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيْمُ الْاَظَافِرِ وَنَتْفُ الْاِبْطِ (رواه البخاري و مسلم عن ابي هريرة)
Artinya: “Ada 5 dari kesucian; yaitu berkhitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.”
Dari ayat dan hadis di atas mengindikasikan bahwa perhatian Islam terhadap masalah kesehatan dan kebersihan jasmani amat besar. Jadi, secara konseptual sebenarnya Islam telah mengajarkan umatnya untuk hidup bersih dan sehat. Walaupun dalam tataran praktis, hal ini masih perlu pembenahan.
2. Orang Islam yang Kuat Lebih Baik daripada Orang Islam yang Lemah
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda;
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ
لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih dicintai oleh Allah SWT dan dorongan-dorongan agar kaum muslimin itu optimis dalam bekerja serta tabah dalam menghadapi segala kemungkinan.
Mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik ketimbang mukmin yang lemah. Kuat bisa bermacam-macam; kuat badan, kuat ekonomi, kuat kedudukan, kuat mental dan lain-lain yang dapat diperbandingkan dengan yang lain. Kuat secara sendiri-sendiri atau kuat secara bersama-sama. Menurut sunah Allah, seorang menjadi kuat, ditentukan oleh faktor penunjang. Kuat badan ditunjang oleh kekekaran dan kesempurnaan susunan tubuh. Itu juga ditentukan oleh gizi.
Kuat ekonomi, ditunjang oleh harta yang dihasilkan oleh kerja keras penuh perhitungan. Kuat kedudukan ditunjang oleh kelebihan yang dimiliki, ilmu, akhlak dan cara mainnya. Kuat mental, karena iman dan kepercayaan kepada diri sendiri. Dan seterusnya. Jadi sebelum seorang mukmin menjadi “kuat”, dia harus siap dengan faktor penunjang kekuatan itu. Maka dia akan lebih disukai dan lebih baik di sisi Allah.
Ada yang menjelaskan bahwa mukmin yang kuat di sini bukanlah yang dimaksudkan adalah mukmin yang kekar badannya, perkasa dan sehat. Semacam ini yang sering dipahami sebagian orang tatkala mendengar hadits ini. Yang dimaksud dengan mukmin yang kuat di sini adalah mukmin yang kuat imannya. Bukan yang dimaksudkan dengan kuat di sini adalah mukmin yang kuat badannya. Karena kuatnya badan biasanya akan menimbulkan bahaya jika kekuatan tersebut digunakan dalam hal maksiat. Namun pada asalnya, kuat badan tidak mesti terpuji dan juga tidak mesti tercela. Jika kekuatan tersebut digunakan untuk hal yang bermanfaat untuk urusan dunia dan akhirat, maka pada saat ini terpuji. Namun jika sebaliknya, digunakan dalam perbuatan maksiat kepada Allah, maka pada saat inilah tercela. Jadi, yang dimaksudkan kuat di sini adalah kuatnya iman. Kita dapat saja menyebut seorang itu kuat, maksudnya adalah dia perkasa dengan kejantanannya. Begitu pula kita dapat menyebut kuat dalam masalah iman.
Yang dimaksud dengan kuatnya iman di sini adalah seseorang mampu melaksanakan kewajiban dan dia menyempurnakannya pula dengan amalan sunnah. Sedangkan seorang mukmin yang lemah imannya kadangkala tidak melaksanakan kewajiban dan enggan meninggalkan yang haram. Orang seperti inilah yang memiliki kekurangan.
Lalu yang dimaksudkan bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada yang lemah adalah orang mukmin yang kuat imannya lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya.
Kemudian Nabi Saw. mengatakan bahwa mereka semua (yaitu mukmin yang kuat imannya dan mukmin yang lemah imannya) sama-sama memiliki kebaikan. Beliau menyebutkan demikian agar jangan disalahpahami bahwa mukmin yang lemah imannya tidak memiliki kebaikan sama sekali. Mukmin yang lemah imannya masih tetap memiliki kebaikan dan dia tentu saja lebih baik daripada orang kafir. Namun sekali lagi diingat bahwa mukmin yang kuat imannya tentu saja lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya.
Hadis di atas mengandung tiga dorongan dan dua macam larangan yaitu;
Pertama, iman, yakni pusat kebahagiaan dunia dan akhirat manakala diikuti dengan amal saleh, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firmannya: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl:97)
Keimanan tiap-tiap orang berbeda, ada yang kuat dan ada yang lemah. Orang yang kuat imannya sangat terdorong untuk mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya, suka amar ma’ruf dan nahi mungkar, gemar berjihad, tidak takut rintangan dalam mengajak kebaikan, sabar dalam melaksanakan hak-hak Allah seperti salat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
Namun orang yang lemah imannya lengah dan lalai untuk beramal saleh dan cita-citanya untuk mencapai kebahagiaan akhirat lemah. Orang kuat imannya lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya. Apa yang dikerjakan oleh masing-masingnya mengandung kebaikan, namun orang yang kuat imannya selalu menyuburkan imannya dengan amal saleh sehingga imannya semakin rindang dan akarnya semakin menghujam ke dalam hati sanubarinya.
Kedua, Rasulullah saw. menganjurkan kepada kita untuk tangkas mencari segala sesuatu yang membawa kemanfaatan baik kemanfaatan dunia maupun kemanfaatan akhirat. Seorang mukmin jangan sampai mengosongkan waktu, sehingga waktu itu berjalan tanpa meninggalkan bekas kecuali ketuaan belaka. Namun istilah waktu dengan kegiatan mencari ilmu, harta, menolong anak yatim, membaca Alquran, selawat dan lain sebagainya.
Ketiga, dalam menghadapi segala usaha dan rencana hendaklah mohon pertolongan kepada Allah, karena yang memutuskan dan menentukan segala sesuatu hanyalah Allah semata.
Keempat, Rasulullah saw. melarang kita lemah dalam mencapai cita-cita, namun hendaknya kita optimis dalam usaha kita. Jiwa harus penuh kepercayaan kepada Allah agar apa yang kita cita-citakan tercapai disertai usaha yang benar-benar, tidak boleh malas-malasan dan berdiam diri tanpa usaha. Nabi saw. telah mengajarkan doa kepada kita antara lain, “Ya Allah, saya mohon perlindungan kepada-Mu dari lemah dan malas.” (H.R. Abu Dawud).
Kelima, apabila kita tertimpa suatu hal yang tidak menyenangkan, Rasul saw. melarang kita untuk mengucapkan pengandaian (seandainya). Karena kata ini dapat membuka pintu pekerjaan setan. Dengan kata-kata itu seolah-olah kita dapat menghindarkan diri dari takdir Allah, padahal takdir Allah mustahil tidak terlaksana, yang benar, untuk menanggapi peristiwa yang telah lampau kita katakan Allah telah menakdirkannya dan apa yang dikehendaki oleh Allah niscaya diperbuat-Nya.
Sedangkan untuk menghadapi sesuatu yang akan datang kita persiapkan sepenuhnya dan hendaklah kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah kita alami pada waktu yang lampau, jangan sampai kita terperosok dua kali dalam satu lubang. Oleh karenanya hendaklah jangan sampai kita melakukan sebab-sebab yang mengakibatkan kegagalan.
Secara keseluruhan, hadis di atas menganjurkan agar orang beriman tidak berhenti berjuang, amar ma’ruf, nahi mungkar dan bersabar, apabila suatu saat kesandung aral. Tidak dianggap benar, orang mukmin yang malas, lebih suka “enak saja”, menunda-nunda urusan dan memulangkan semua kegagalan atau keberhasilan kepada pengandaian.

3. Rasulullah Menganjurkan untuk Mengajarkan Berenang, Memanah, dan Berkuda

Rasulullah bersabda;
عَلِّمُوْا اَوْلَادَكُمْ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَنِعْمَ لَهُوَ الْمُؤْمِنَةِ فِي بَيْتِهَا الْمِغْزَلِ وَاِذَا دَعَاكَ اَبَوَاكَ فَاَجِبْ اُمُّكَ (رواه الديلمي)
Artinya: “Ajarkanlah anak-anakmu berenang dan memanah, dan sebaik-baiknya permainan wanita mukmin dalam rumahnya adalah memintal (tenun) benang, dan apabila menyeru kepadamu kedua orang tuamu, maka perkenankanlah lebih dahulu ibumu.”

Olah raga berkuda, memanah, dan berenang, selain memerlukan kekuatan fisik, juga membutuhkan intelektualitas yang tinggi. Pada zaman kejayaan Islam, pasca-Nabi Muhammad Saw (antara tahun 750-1924), kekuatan para prajurit Islam benar-benar tertumpu pada keahlian berkuda, memanah, dan berenang.
Ketika menaklukkan Mesopotamia (Irak) dan Persia (Iran), pasukan Muslim terdiri dari para penunggang kuda yang piawai. Mereka juga harus mampu berenang mengarungi sungai-sungai Tigris dan Eufrat, serta menembus sasaran dengan panah (cikal bakal pasukan kavaleri dan artileri sekarang).
Begitu pula dengan pasukan Turki Ustmani di bawah Sultan Muhammad Al Fath. Ketika merebut Konstatinopel pada abad 14, harus terlebih dulu berenang mengarungi Selat Bospurus (karena laju kapal dihadang oleh armada Romawi Byzantium di sepanjang pantai), baru naik kuda untuk mengobrak-abrik pasukan musuh dengan serangan panah bertubi-tubi.
Bahkan pada zaman Nabi Muhammad saw, ketika terjadi perang-perang besar melawan kaum musyrikin dan kafirin, adu kepandaian berkelahi orang per orang –baik menggunakan tangan kosong, maupun menggunakan senjata (pedang atau tombak)– seakan-akan menjadi tradisi “pembukaan perang” massal.
Pada Perang Badar (bulan Ramadan tahun 2 Hijrah), misalnya, Sayyidina Ali dan Sayyidina Hamzah tampil melawan jago-jago berkelahi dari pihak kafir Quraisy. Setelah jago-jago Quraisy tersungkur mati, barulah perang massal dimulai. Dalam keadaan berpuasa waktu itu dan berkekuatan 313 orang saja, umat Islam berhasil mengalahkan para musyrikin Quraisy yang berjumlah 950 orang dan dipimpin para pakar perang berpengalaman, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan, dan Khalid bin Walid. Kemenangan kaum Muslimin dalam perang Badar tercantum dalam Alquran, surat Al Anfal ayat 1-10.
Melatih fisik dengan berenang dan memanah dianjurkan oleh Rasulullah kepada para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Hal ini dipertegas oleh Umar bin Khatthab Ra. yang berkata, “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan perintahkanlah mereka untuk melompat ke atas kuda.”
Uqbah bin Amir Ra. selalu ingin latihan memanah padahal beliau telah lanjut usia, sehingga pernah ada yang mengatakan kepadanya, “Anda mengerjakan itu padahal Anda telah lanjut usia dan itu memberatkan Anda.” Beliau menjawab, “Kalau bukan karena sabda Rasulullah Saw., aku tidak akan mengerjakannya lagi. Rasulullah Saw. bersabda,
مَنْ عَلِمَ الرَّمْىَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى
“Barangsiapa yang tahu memanah kemudian meninggalkannya, maka ia bukan golongan kami—atau beliau bersabda, “Maka ia telah berbuat maksiat.” (HR. Muslim).

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Ismail ‘As adalah seorang pemanah. Demikian pula dengan nabi kita Muhammad Saw. juga adalah seorang pemanah ulung. Uqbah Ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda—saat itu beliau berada di atas mimbar,
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah, kekuatan itu adalah dengan melempar—beliau mengucapkannya tiga kali).” (HR. Muslim).

Melempar dalam hadits ini bisa bermakna memanah, menombak, dan menembak dengan berbagai jenis senjata.
Dalam riwayat lain, Nabi Saw bersabda:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَاتِمٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَفَرٍ مِنْ أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْمُوا بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا ارْمُوا وَأَنَا مَعَ بَنِي فُلَانٍ قَالَ فَأَمْسَكَ أَحَدُ الْفَرِيقَيْنِ بِأَيْدِيهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكُمْ لَا تَرْمُونَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْمِي وَأَنْتَ مَعَهُمْ قَالَ ارْمُوا وَأَنَا مَعَكُمْ كُلِّكُمْ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaybah ibn Sa’id, telah bercerita Hatim dari yazid bin Abi ‘Ubaid dari salamah, telah menceritakan kepada kami samah ra berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW bersua dengan sekelompok orang dari Bani Aslam yang sedang berlomba memanah, maka beliau SAW bersabda: Memanahlah kalian, hai bani Ismail, sebab nenek moyangmu dahulu (Ibrahim As) adalah seorang pemanah.Panahlah dan saya bersama bani fulan. Maka salah satu kelompok berhenti. Rasul bersabda: kenapa kamu tidak memanah, maka mereka berkata: wahai Rasulullah SAW kami memamah tapi kamu memihak kepada mereka, Rasul pun bersabda: Panahlah dan saya bersama kalian semuanya.

Tidak ada jenis olahraga yang dapat menguatkan tulang, melenturkan urat saraf dan menambahkan ketangkasan seperti olahraga renang. Berenang melibatkan semua otot di seluruh bagian tubuh. Semua organ vital, seperti jantung dan paru-paru ikut terlatih. Ini sangat menyehatkan dan membuat tubuh bertambah bugar. Daya tahan tubuh pun meningkat. Renang membuat otot dada dan paru-paru mengembang yang membuat kapasitasnya makin besar. Berenang sangat efektif membakar lemak. Berdasarkan penelitian, sekitar 25% kalori bisa terbakar dengan berenang.
Pengajaran memanah dan menunggang kuda menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memasukkan aspek jasmani sebagai satu aspek yang dibina dalam kurikulum pendidikan. Pengajaran ini mempunyai faedah yang besar dalam menciptakan kesehatan mental dan memberi ruang untuk melampiaskan motivasi-motivasi serta keinginan-keinginannya, menciptakan kesehatan jasmani, keserasian, kekuatan dan pertumbuhan yang sesuai, serta mempersiapkan diri untuk menanggung kehidupan dan berjuang pada jalan Allah SWT.

4. Rasulullah Menyukai Olahraga Gulat

Dalam sirahnya, Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa ada seorang yang berbadan kuat di kota Makkah bernama Rukanah. Manusia banyak yang mendatanginya untuk bergulat. Suatu hari, Rasulullah Saw. berada di dataran yang luas, lalu datang Rukanah menghadap beliau dengan membawa anak-anak kambingnya. Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Wahai Rukanah, bertakwalah kepada Allah, apakah kamu tidak mau menyambut dakwahku?” Rukanah balik bertanya, “Apakah ada bukti untuk kejujuranmu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Iya. Bagaimana menurutmu jika aku bisa mengalahkanmu dalam gulat, apakah kamu mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?” “Iya. Mari kita bergulat,” jawab Rukanah. Rasulullah Saw. kemudian mengambil kuda-kuda untuk mulai bergulat. Beliau bergulat dengan sigap hingga membuat Rukanah terheran-heran dan Rasulullah Saw. dapat mengalahkannya dalam waktu singkat. Rukanah meminta diulang hingga tiga kali. Namun Rasulullah Saw.tetap memenangkan gulat tersebut hingga Rukanah bersedia menyatakan masuk Islam.
Bayangkan, jika seorang non Muslim menantang Anda bergulat atau jenis adu kekuatan lainnya dengan taruhan, jika kalah dia akan masuk Islam, siapkah Anda memanfaatkan peluang ini? Ternyata, fisik yang kuat pun bisa menjadi penunjang dakwah seorang dai.
Olahraga gulat dan sejenisnya memang bisa juga dijadikan sarana untuk berdakwah. Yang perlu dipertegas adalah tentang bagaimana tujuan awal dari olahraga itu. Hal ini amat urgen mengingat banyak pula olahraga sejenis gulat yang dalam realitanya hanyalah menampilkan kekerasan semata tanpa memiliki unsur-unsur edukatif. Jadi, setiap muslim terutama para orang tua dan pendidik harus jeli untuk memilih dan memilah olahraga mana yang layak untuk ditonton dan diajarkan kepada anak-anak.

~ oleh ka uki pada 26 Mei 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: