ISLAM DI SPANYOL

ISLAM DI SPANYOL;

Peretas Jalan Renaissance dan Babak Baru Sejarah Manusia

 

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I

 

  1. A.      Pendahuluan

Sebelum memulai pembahasan terinci mengenai Islam di Spanyol, ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu tentang kontak awal dunia Arab ketika mencapai puncak peradaban di zaman Islam klasik dengan Eropa. Secara geografis maupun konteks historis, kontak tersebut terajut melalui tiga ‘pintu’; Andalusia, Pulau Sicilia dan Byzantium, serta perang Salib.[1]

Andalusia merupakan mata rantai pertama dan terpenting tempat terjadinya kontak antara orang-orang Arab Islam dengan orang-orang Kristen Eropa pada tahun 711 M. Andalusia yang kini merupakan bagian provinsi dari negara Spanyol sekaligus wilayah Eropa pertama yang mampu dikuasai oleh umat Islam. Sejak pertama kali menapakkan kaki di daratan Eropa, sejarah mencatat masyarakat muslim di Spanyol bergerak naik turun antara kekuatan dan kelemahan, antara ekspansi dan penolakan diri.

Lebih jauh kemudian, Andalusia atau Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) sendiri merupakan jembatan penghubung yang mentransmisikan peradaban Islam ke wilayah Eropa lainnya hingga benua Amerika. Bahkan sebelum Spanyol mampu merebut kembali (reconquista) wilayah mereka dari kaum muslimin dan mengusir penduduk muslim dari wilayah tersebut. Hal ini tak dapat dipungkiri mengingat Spanyol dan Portugal merupakan negara Eropa pertama yang melakukan perjalanan penting di luar wilayahnya pada abad ke-16. Beberapa tahun setelah mereka dapat mengusir umat Islam dari Semenanjung Iberia.

Setelah itu, lahirlah sebuah babak baru dalam lembaran sejarah manusia ketika ratusan ribu bangsa Eropa menaklukkan bangsa-bangsa lainnya di belahan bumi, dari ujung benua Afrika, benua Amerika hingga Asia. Islam di Spanyol juga menjadi peretas kejayaan Eropa hingga berabad-abad lamanya ketika Benua Biru ini mencapai zaman aufklarung dan masa renaissance hingga revolusi industri sebagai penanda era modern.

 

 

 

  1. B.       Masuknya Islam ke Andalusia (Spanyol)

Andalusia[2] atau Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal termasuk selatan Perancis sekarang) mulai ditaklukan oleh umat Islam pada zaman khalifah Bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul Malik (86-89 H/705-715 M). Sebelumnya, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara ini terjadi pada masa Abdul Malik bin Marwan (685-705 M), dimana dia mengangkat Hasan bin Nu’man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Penaklukan atas Afrika Utara memakan waktu selama 53 tahun.[3] Setelah kawasan ini dikuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya ke Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.[4]

Selanjutnya dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair. Tharif ibn Malik dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik, ia pergi ke Eropa dengan satu pasukan perang, lima ratus orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian, ratu penguasa wilayah Septah[5] (Spanyol: Ceuta). Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Kemudian, Musa bin Nushair pada tahun 711 M mengirimkan lagi pasukan ke Andalusia sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad.[6]

Thariq bin Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar (Moor) yang didukung oleh Musa bin Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah Al-Walid bin Abdul-Malik. Pasukan ini kemudian menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad, dan menguasai sebuah gunung dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Kemudian dalam pertempuran yang dikenal dengan Pertempuran Guadalete, Raja Roderic (Spanyol: Rodrigo), Raja Gothik terakhir,dapat dikalahkan. Dari situ Thariq bin Ziyad dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo.[7] Sebelum Thariq bin Ziyad menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa bin Nushair di Afrika Utara, yang kemudian mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq bin Ziyad seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Goth yang jauh lebih besar, 100.000 orang.[8]

Kemenangan yang dicapai oleh Thariq bin Ziyad membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa bin Nushair melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan tersebut. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Zaragoza sampai Navarre.[9]

Gelombang perluasan wilayah berikutnya ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan dilanjutkan oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordeux, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, di antara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol. Sesudah itu, Avirignon, Lyon dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, seperti Mallorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayah.[10]

 

  1. C.      Periodisasi Islam di Andalusia (Spanyol)

Islam di Spanyol yang berlangsung lebih dari tujuh setengah abad memainkan peranan yang sangat besar. Sejarah panjang yang dilalui Umat Islam di Spanyol ini dapat dibagi menjadi enam periode[11], yaitu :

  1. 1.      Periode Pertama (711-755 M)

Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna. Terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.[12] Perbedaan pandangan politik menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama, antara Barbar dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang terus-menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik, sehingga di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama.[13]

 

  1. 2.      Periode Kedua (755-912 M)

Pada periode ini. Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar ‘Al-Dakhil’ (Yang Masuk ke Spanyol). Oleh Al-Mansur (pendiri Daulah Abbasiyah), ia diberi gelar ‘Sakhar Quraisy’ (Garuda Kaum Quraisy).[14] Memang, setelah Abbasiyah berdiri para khalifahnya mengambil tindakan keras terhadap Bani Umayyah untuk menjaga jangan timbul lagi gerakan dari Bani Umayyah untuk merebut kekhilafahan. Akibatnya banyak pemimpin Bani Umayyah yang lari ke Afrika, Andalusia, dan sebagainya.[15] Abdurrahman I adalah salah satu keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas setelah melewati Irak, mengarungi gurun Syiria, melewati Palestina lalu menyeberangi gurun Sinai di Mesir dan beberapa wilayah Afrika sebelum sampai ke Andalusia dengan pengikut sekitar 400 orang.[16] Ia kemudian berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah II di Spanyol.

Dengan demikian, di penghujung akhir kekuasaan Abbasiyah, muncul beberapa daulah islamiyah sebagai pesaingnya, seperti Daulah Umayyah di Spanyol, Daulah Fathimiyah di Mesir dan Daulah Qaranitah di Jazirah Arab.[17] Adapun para penguasa Bani Umayyah di Spanyol pada periode ini adalah Abdurrahman al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman al-Ausath, Muhammad ibn Abdurrahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.

Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abdurrahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam I dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam I dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Sedangkan Abdurrahman al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.[18]

Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi. Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan (martyrdom). Namun, Gereja Kristen lainnya di seluruh Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan itu, karena pemerintah Islam mengembangkan kebebasan beragama.[19]

 

  1. 3.      Periode Ketiga (912-1013 M)

Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar An-Nasir sampai munculnya “raja- raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaif. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Al-Muqtadir, Khalifah Daulat Abbasiyah di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang, yaitu Abdurrahman III al-Nashir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).[20]

Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan. Abdurrahman al-Nashir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi 400 jilid buku. Selanjutnya al-Nashir digantikan oleh putranya, Hakam II yang mewarisi semangat ayahnya sebagai pelindung ilmu dan seni, ia juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Cordova menjadi mercusuar bagi dunia pendidikan di Timur dan Barat.[21] Bahkan, selain membangun perpustakaan, Hakam II juga mengaturnya dengan cara yang sistematik sesuai dengan klasifikasi dan teknik yang baik. Sehingga, para ahli mencatat perpustakaan di zaman ini adalah yang terbesar dan paling indah sampai abad pertengahan.[22] Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota pun berlangsung cepat dan teratur.

Awal dari kehancuran Khilafah Bani Umayyah II di Spanyol adalah ketika Hisyam III naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibn Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Ibn Abi Amir digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri. Beberapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.[23] Dengan demikian, pada zaman Hisyam III ini, jatuhlah kedaulatan khalifah Umayyah di negeri Spanyol.

 

  1. 4.      Periode Keempat (1013-1086 M)

Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Muluk al-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Sevilla, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Pemimpin yang terkenal ialah Al-Wazir Abu Muhammad Jahur bin Muhammad yang bergelar ‘Amirul Jamaah’ dan Hisyam bin Muhammad yang bergelar ‘Al-Murtadho’ di Cordova. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Dengan demikian, raja-raja Kristen Spanyol semakin bertambah senang dengan adanya perpecahan kekuatan kaum muslimin.[24] Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini.

 

  1. 5.      Periode Kelima (1086-1248 M)

Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan Daulah Murabithun (860-1143 M) dan Daulah Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah berjuang mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia.[25]

Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1118 M, Zaragoza jatuh ke tangan Kristen. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh Daulah Muwahhidun. Pada tahun 1146 M penguasa Dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart (w. 1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abdul Mun’im. Antara tahun 1114 dan 1154 M, kota-kota muslim penting, Cordova, Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasaannya.[26]

Untuk beberapa dekade, daulah ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami kehancuran. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Keadaan Spanyol kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Sevilla jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuatan Islam.[27]

 

 

  1. 6.      Periode Keenam (1248-1492 M)

Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an-Nashir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta.[28]

Sejarah mencatat, perkawinan politik antara Raja Ferdinand (Aragon) dengan Ratu Isabella (Castille) terjadi di tahun 1469. Dengan demikian, keduanya mempersatukan dua kerajaan besar Kristen Spanyol. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Granada.[29] Abu Abdullah akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinand dan Isabella setelah pasukannya mengalami kekalahan. Ia sendiri kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M.[30] Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Setelah tahun 1525 M, seluruh Spanyol resmi memeluk agam Kristen.[31]

 

  1. D.      Kemajuan Peradaban

Umat Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual.

 

 

 

 

  1. 1.      Kemajuan Intelektual

Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya berimbas pada banyaknya tokoh pemikir yang lahir. Berikut ini adalah beberapa bidang intelektual yang mencapai kejayaan di masa Islam Spanyol;

 

a. Filsafat

Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan YunaniArab ke Eropa pada abad ke-12.[32]

Tokoh pertama dalam sejarah filsafat ArabSpanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Dilahirkan di Saragossa, ia pindah ke Sevilla dan Granada. Magnum opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hayy ibn Yaqzhan.[33]

Di akhir abad ke-12 M lahirlah seorang filosuf Islam terbesar, yaitu Ibn Rusyd (1126-1198 M) dari Cordova. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayatul Mujtahid. Selain itu, karya-karyanya dalam bahasa Arab kira-kira ada 78 buah, yang masih tersimpan dan terawat dengan baik di perpustakaan Escurial, di Madrid, Spanyol. 24 buah diantaranya tentang kedokteran, dan 4 buah mengenai astronomi.[34]

 

b. Sains

IImu-ilmu sains di zaman Spanyol Islam berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas (ilmu kimia dan astronomi) ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash (ilmu astronomi) dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Ummul Hasan binti Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.

Dalam bidang sejarah dan geografi, ada Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) yang menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibnul Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunisia adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika.

 

c. Fiqh

Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan madzhab ini di sana adalah Ziyad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya di antaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.

 

d. Musik dan Kesenian

Dalam bidang musik dan suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan Ibn Nafi’ yang dijuluki Zaryab. Setiap kali diselenggarkan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimiliknya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.

 

e. Bahasa dan Sastra

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor-duakan bahasa asli mereka. Bahasa Arab menjadi bahasa umum di kalangan berbagai ras yang bercampur di sana.[35] Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Alfiyah, Ibn Khuruf, Ibnul-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-‘Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi yang lain.

  1. 2.      Kemegahan Pembangunan Fisik

Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian ummat Islam sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun. Dalam bidang pertanian diperkenalkan sistem irigasi. Dam, kanal, saluran dan jembatan air didirikan. Orang-orang Arab memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk tujuan irigasi. Pengaturan hidrolik itu dibangun dengan memperkenalkan roda air (water wheel) asal Persia yang dinamakan naurah (Spanyol: noria).[36]

Industri, disamping pertanian dan perdagangan, juga merupakan tulang punggung ekonomi Spanyol Islam. Di antaranya adalah tekstil, kayu, kulit, logam, dan industri barang-barang tembikar. Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, dan taman-taman. Di antara pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota az-Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana al-Makmun, masjid Sevilla, dan istana al-Hambra di Granada.

 

a. Cordova

Cordova adalah ibu kota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah. Oleh penguasa muslim, kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan besar dibangun melintang di atas sungai Al-Wadi Al-Kabier (Spanyol: Guadalquivier) yang mengalir di tengah kota.[37] Taman-taman dibangun untuk menghiasi ibu kota Spanyol Islam itu. Pohon-pohon dan bunga-bunga diimpor dari Timur. Di seputar ibu kota berdiri istana-istana yang megah yang semakin mempercantik pemandangan, setiap istana dan taman diberi nama tersendiri dan di puncaknya terpancang istana Damsyik. Di antara kebanggaan kota Cordova lainnya adalah Masjid Cordova (Spanyol: La Mesquite Al Yama). Pada masa An-Nashir, penduduknya mencapai ½ juta jiwa, terdapat 700 masjid berikut 300 kamar mandinya.[38] Masjid Cordova dibangun tahun 170 H/768 M oleh Ad-Dakhil. Kemudian Hisyam membangun menara pertama, dan renovasi serta pengembangan masjid ini terus berlangsung hingga Masjid Besar Cordova luasnya mencapai 180 m x 135 m.[39] Di sekitarnya berdiri perkampungan-perkampungan yang indah.

 

b. Granada

Granada adalah tempat pertahanan terakhir ummat Islam di Spanyol. Di sana berkumpul sisa-sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Cordova diambil alih oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol. Arsitektur-arsitektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana al-Hambra yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang tidak kalah indahnya. Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih bisa diperpanjang dengan kota dan istana az-Zahra, istana al-Gazar, menara Girilda dan lain-lain.

 

  1. 3.      Faktor-faktor Pendukung Kemajuan

Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman al-Dakhil, Abdurrahman al-Ausath dan Abdurrahman an-Nashir. Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah seperti Muhammad ibn Abdurrahman (852-886M) dan al-Hakam II al-Muntashir (961-976M).

Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol. Untuk orang-orang Kristen, sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk, terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa. Dengan ditegakkannya toleransi beragama, komunitas-komunitas itu dapat bekerja sama dan menyumbangkan kelebihannya masing masing.

Disintegrasi negara-negara muslim pada abad ke-11 dan sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban. Masa itu, bahkan merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian, dan kebudayaan Spanyol Islam. Setiap dinasti (raja) di Malaga, Toledo, Sevilla, Granada, dan lain-lain berusaha menyaingi Cordova. Kalau sebelumnya Cordova merupakan satu-satunya pusat ilmu dan peradaban Islam di Spanyol, Muluk ath-Thawa’if berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru yang di antaranya justru lebih maju.[40]

 

  1. E.       Pengaruh Peradaban Spanyol Islam di Eropa

Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap peradaban Islam, baik dalam hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antar negara. Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik. Memang banyak saluran bagaimana peradaban Islam memengaruhi Eropa, seperti Sicilia, Turki Ottoman di Bizantium dan Perang Salib, tetapi saluran yang terpenting adalah Spanyol Islam.[41]

Tanpa diragukan lagi, seseorang tak dapat berbicara tentang abad pertengahan tanpa mengingat kegemilangan muslim Spanyol. Para pemimpin muslim telah mengisi salah satu lembaran sejarah paling gemilang di Eropa.[42] Mereka telah membuktikan pengaruhnya sampai titik kulminasi pemikiran abad pertengahan bahkan jauh sebelum adanya St. Thomas dan Dante. Beberapa abad sebelum renaissans lahir, arus peradaban berasal dan berkembang dari Eropa dan ditransmisi ke dunia modern.[43] Yang terpenting di antaranya adalah pemikiran Ibn Rusyd (1120-1198 M). Ia melepaskan belenggu taqlid dan menganjurkan kebebasan berpikir. Jauh sebelum Descartes lahir dan terkenal dengan ucapannya; cogito ergo sum. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, hingga di Eropa timbul gerakan Averroeisme (Ibn Rusydisme) yang menuntut kebebasan berpikir. Ibnu Rusyd berpendapat bahwasanya akal (reason) merupakan basis bagi pengetahuan manusia terhadap wujud ketuhanan, dan dan bahwa al-Qur’an merupakan sebuah ungkapan alegoris yang memerlukan penafsiran rasional.[44]

Berawal dari gerakan Averroeisme inilah di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M. Buku-buku Ibn Rusyd dicetak di Venezia tahun 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500 M. Bahkan edisi lengkapnya terbit pada tahun 1553 dan 1557 M. Karya-karyanya juga diterbitkan pada abad ke-16 M di Napoli, Bologna, Lyon, dan Strassbourg, dan di awal abad ke 17 M di Jenewa. Pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti Universitas Cordova, Sevilla, Malaga, Granada, dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan muslim.[45]

Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas di Eropa adalah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Di akhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Di dalam universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh dari universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.[46]

Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Islam memberikan suasana hidup baru bagi Eropa. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan sumbangan peradaban Islam yang paling penting bagi dunia modern.[47] Setelah berakhirnya periode klasik Islam, ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbelakangannya.

 

  1. F.       Andalusia; Mengais Sisa-sisa Kebesaran Islam di ‘Negeri Matador’; Sebuah Refleksi

 

Umat Islam datang ke tanah Andalusia dengan aksi heroik yang berbalut ghirah menegakkan panji-panji Islam di tanah Eropa.Dimulai dari perjalanan “spionase” Tharif bin Malik hingga takluknya Spanyol di bawah pasukan Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair. Selama delapan abad selanjutnya merupakan perjalanan panjang Islam dalam membangun peradaban, transmisi ilmu pengetahuan dan sains hingga membawa Eropa berada di “garis startrenaissance dan menjadi bangsa yang membawa umat manusia ke babak baru sejarah; kolonialisme dan modernisme.

Namun, perjalanan yang dimulai dengan heroik ini harus berakhir tragis bagi umat Islam sendiri. Tak ada sisa-sisa kejayaan masa lalu di Spanyol yang bisa kita saksikan saat ini kecuali Istana AlHambra dan Masjid Cordova yang bahkan kini telah berganti rupa menjadi sebuah katedral, tempat pemujaan Katolik terbesar kedua setelah Vatikan Roma. Sebuah paradoks dengan Gereja Aya Shopia di Istambul yang kini diubah menjadi masjid. Ironi yang getir.

Namun, sejarah adalah ‘cermin’. Dari sejarah di masa lalu, manusia belajar untuk tidak terperosok di kubangan yang sama. Untuk itu, penulis mencatat beberapa penyebab kemunduran dan kehancuran Umat Islam di Spanyol agar tidak terjadi lagi “Islam Andalusia Jilid II”.

 

1. Konflik IslamKristen

Kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Hal ini diakibatkan karena penguasa Islam sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata. Namun demikian, pengaruh Arab di Spanyol tidak bisa sampai keluar batas-batas kota, dan para petani Spanyol tidak menganut Islam. Justru kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Karena alasan inilah, maka bersamaan dengan jatuhnya kekuasaan Arab (bangsa Moor), Islam juga kehilangan pengaruhnya di Spanyol.[48]

 

2. Tidak Adanya Persatuan di Kalangan Umat Islam

Kisah Umat Islam di Spanyol seperti kisah yang sama di Perang Salib. Mereka hancur akibat tidak adanya persatuan. Ketika di bawah Saladin mereka bersatu dan tidak terkalahkan, namun ketika mereka saling berperang di kalangan sendiri mereka dengan mudah dapat dikalahkan.[49] Pun demikian keadaan dengan umat Islam di Spanyol

 

 3. Perubahan Sistem Sosial dan Munculnya Negara-Bangsa

Para penguasa Arab di Spanyol tidak melakukan islamisasi secara sempurna. Hal ini karena mereka menerapkan sistem sosial yang berbeda dengan sistem sosial yang berlaku di kalangan para penguasa sebelumnya serta penduduk setempat.[50] Sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi, mereka masih memberi istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para muallaf itu, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Dan akhirnya, perlakuan yang berbeda antar kelompok ini memunculkan ide tentang negara bangsa. Ini menggantikan ide panglima suku dan raja-raja yang saling berperang. Spanyol adalah yang pertama muncul sebagai negara bangsa di Eropa. Hasilnya, Spanyol menjadi kekuatan imperial utama Eropa dengan jajahan terluas di Amerika.[51]

 

3. Kesulitan Ekonomi dan Keterpencilan

Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat “serius”, sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi.Selain itu, secara geografis, Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di sana.[52]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995, Cet. V.

A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2, Jakarta: AlHusna Zikra, 1997, Cet. 9.

Abul Hasan Ali Nadwi, Islam dan Dunia, (penj.) Adang Affandi, Bandung: Angkasa, 1996, Cet. II.

Akbar S. Ahmed, Rekonstruksi Sejarah Islam; Di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban, (penj.) Amru Nst., Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002, Cet. I.

Ali Audah, Dari Khazanah Dunia Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999, Cet. I.

Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, Cet. I.

Ashgar Ali Engineer, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, (penj.) Imam Baehaqi, Yogyakarta: Insist dan Pustaka Pelajar, 1999, Cet. I.

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000, Cet. 11.

Bernard Lewis, The Muslim Discovery of Europe, London: Phoenix, 1994.

Carl Brockelmann, History of The Islamic Peoples, London: Rotledge & Kegan Paul, 1980.

Didin Saefuddin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007, Cet. I.

Haidar Bammate, Kontribusi Intelektual Muslim Terhadap Peradaban Dunia, (penj.) Fikri, Jakarta: Darul Falah, 2000, Cet. I.

Hamka, Sejarah Umat Islam, Edisi Baru, Singapura: Pustaka Nasional Pte. Ltd., 2001, Cet. III.

Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, Jakarta: UI Press, 1985, Cet. 5.

Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000, Cet. V.

Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, Edisi I, (penj.) Ghufron A. Mas’adi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999,  Cet. I.

Komisi Nasional Mesir untuk UNESCO, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan, Bandung: Pustaka, 1986.

M. Ishom El-Saha, 55 Ilmuwan Muslim Terkemuka, Tangerang: Darul Ilmi, 2008, Cet. I.

Majid Fakhri, Sejarah Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986.

Muhammad Iqbal, 100 Tokoh Islam Terhebat dalam Sejarah, Jakarta: Intimedia & Ladang Pustaka, 2003.

Philip K. Hitti, History of The Arabs, London: MacMillan Press, 1970.

Robert Mantran (Ed)., Great Dates in Islamic History, New York: Facts on File, Inc., 1996.

S. I. Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern, Jakarta: P3M, 1986, Cet. II.

Teguh Setiawan dan Sri Budi Eko Wardani (peny.), Denyut Islam di Eropa, Jakarta: Republika, 2002, Cet. I.

Thomas W. Arnold, Sejarah Da’wah Islam, (penj.) A. Nawawie Rambe, Jakarta: Widjaya, 1977.

W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia; Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, (pent.) Hendro Prasetyo, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995.

——-, Kejayaan Islam; Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.

Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Ibn Rusyd, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

 


[1] Komisi Nasional Mesir untuk UNESCO, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan, Bandung: Pustaka, 1986, h. 7-8.

[2] Jazirah ini dulunya bernama Iberia, yang dihubungkan dengan Bangsa Iberia sebagai bangsa tertua di semenanjung itu. Setelah bangsa Romawi menguasai wilayah itu di abad ke-2 M, mereka menamainya “Asbania” yang berarti “Pantai Marmot”. Boleh jadi asal nama ini karena orang-orang Punisia ketika singgah di pantai itu melihat kawanan marmot. Sesudah bangsa Romawi, bagian selatan semenanjung itu pernah takluk kepada suku-suku bangsa Vandal, sehingga bagian tersebut dinamai “Vandalisia”. Ketika kaum muslimin sampai ke sana, mereka menamakan semenanjung itu dengan nama “Al-Andalus”, terambil dari kata Vandalisia itu. Lihat, A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2, Jakarta: Al Husna Zikra, 1997, Cet. 9, h. 156.

[3] A. Syalabi, Sejarah dan…, h. 154.

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000, Cet. 11, h. 88.

[5] A. Syalabi, Sejarah dan…, h. 158. Lihat juga, Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, Cet. I, h. 76-77.

[6] Philip K. Hitti, History of The Arabs, London: MacMillan Press, 1970, h. 493.

[7] A. Syalabi, Sejarah dan…, h. 161.

[8] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 89.

[9] Carl Brockelmann, History of The Islamic Peoples, London: Rotledge & Kegan Paul, 1980, h. 14.

[10] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, Jakarta: UI Press, 1985, Cet. 5, h. 62.

[11] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 93-99. Bandingkan dengan pemikiran Prof. Dr. Hamka yang membagi kekuasaan Islam di Spanyol menjadi tiga masa; 1) masa ketika menjadi provinsi bagian dari Bani Umayyah di Damaskus, 2) masa keamiran, 3) masa Daulah Umayyah II (kekhalifahan sendiri). Lihat Hamka, Sejarah Umat Islam, Edisi Baru, Singapura: Pustaka Nasional Pte. Ltd., 2001, Cet. III., h. 293-294.

[12] Didin Saefuddin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007, Cet. I., h. 99.

[13] Hamka, Sejarah Umat…, h. 295.

[14] Hamka, Sejarah Umat…, h. 293.

[15] A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995, Cet. V., h. 221.

[16] Muhammad Iqbal, 100 Tokoh Islam Terhebat dalam Sejarah, Jakarta: Intimedia & Ladang Pustaka, 2003, h. 32.

[17] Ali Mufrodi, Islam di…, h. 105., Lihat juga Robert Mantran (Ed)., Great Dates in Islamic History, New York: Facts on File, Inc., 1996, h. 46.

[18] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 95.

[19] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 95.

[20] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 96.

[21] Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000, Cet. V., h. 136.

[22] Ali Audah, Dari Khazanah Dunia Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999, Cet. I, h. 218.

[23] W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam; Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990, h. 217-218.

[24] Hamka, Sejarah Umat…, h. 300.

[25] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 98.

[26] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 98-99

[27] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 99. Lihat Hamka, Sejarah Umat…, h. 301. Lihat pula W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia; Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, (pent.) Hendro Prasetyo, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995, h. 66-67.

[28] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 99.

[29] Ira Lasmidara, “Spanyol: Hancur karena Kediktatoran”, dalam Teguh Setiawan dan Sri Budi Eko Wardani (peny.), Denyut Islam di Eropa, Jakarta: Republika, 2002, Cet. I., h. 135-136.

[30] Bernard Lewis, The Muslim Discovery of Europe, London: Phoenix, 1994, h. 33.

[31] Ira Lasmidara, “Spanyol: Hancur…, h. 136.

[32] Majid Fakhri, Sejarah Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986, h. 357.

[33] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 101.

[34] M. Ishom El-Saha, 55 Ilmuwan Muslim Terkemuka, Tangerang: Darul Ilmi, 2008, Cet. I, h. 139-140.

[35] Komisi Nasional Mesir untuk UNESCO, Sumbangan Islam…, h. 12.

[36] Didin Saefuddin, Sejarah Peradaban…, h. 107-108.

[37] Ali Audah, Dari Khazanah…, h. 220.

[38] Husayn Ahmad Amin, Seratus…, h. 135.

[39] Ali Audah, Dari Khazanah…, h. 221.

[40] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, Edisi I, (penj.) Ghufron A. Mas’adi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999,  Cet. I., h. 591-594.

[41]  Komisi Nasional Mesir untuk UNESCO, Sumbangan Islam…, h. 7-8.

[42] Thomas W. Arnold, Sejarah Da’wah Islam, (penj.) A. Nawawie Rambe, Jakarta: Widjaya, 1977, h. 118.

[43] Cl. Sanchez-Albornoz, “L’Espagne et L’Islam” sebagaimana dikutip oleh Haidar Bammate, Kontribusi Intelektual Muslim Terhadap Peradaban Dunia, (penj.) Fikri, Jakarta: Darul Falah, 2000, Cet. I, h. 40-41.

[44] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial…, h. 593.

[45] S. I. Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern, Jakarta: P3M, 1986, Cet. II, h. 67.

[46] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Ibn Rusyd, Jakarta: Bulan Bintang, 1975, h. 148-149.

[47] Abul Hasan Ali Nadwi, Islam dan Dunia, (penj.) Adang Affandi, Bandung: Angkasa, 1996, Cet. II., h. 76-77

[48] Ashgar Ali Engineer, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, (penj.) Imam Baehaqi, Yogyakarta: Insist dan Pustaka Pelajar, 1999, Cet. I, h. 323.

[49] Akbar S. Ahmed, Rekonstruksi Sejarah Islam; Di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban, (penj.) Amru Nst., Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002, Cet. I, h. 111.

[50] Ashgar Ali Engineer, Asal-Usul…, h. 323.

[51]  Akbar S. Ahmed, Rekonstruksi Sejarah…, h. 112.

[52] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, h. 107-108.

~ oleh ka uki pada 16 Desember 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: