KERAJAAN MUGHAL DAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA

KERAJAAN MUGHAL

DAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA

 

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I

  1. A.      Pendahuluan

Kerajaan Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa Khalifah al-Walid, dari Dinasti Bani Umayyah. Penaklukkan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani Umayyah di bawah pimpinan Muhammad ibn Qasim.[1]

Dinasti Changtai (1227-1369 M) yang didirikan oleh putra Jengis Khan, Changtai, merupakan cikal bakal Kerajaan Mughal di India. Karena Babur adalah keturunan Raja Changtai. Dinasti Ilkhan (1256-1335 M) yang didirikan oleh cucu Jengis Khan, Raja ke-7, Ghazan, juga seorang Muslim dan pada masanya, Ilkhan mencapai kejayaan. Kemaharajan Mughal, (Mughal Baadshah atau sebutan lainnya Mogul) adalah sebuah kerajaan yang pada masa jayanya memerintah Afghanistan, Balochistan, dan kebanyakan anak benua India antara 1526 dan 1858 M. Kerajaan ini didirikan oleh keturunan Mongol, Babur, pada 1526.[2] Kata mughal adalah versi Indo-Aryan dari Mongol . Dinasti Mughal berdiri tegak selama kurang lebih tiga abad (1526–1858 M) di India. Dalam kurun waktu tersebut, Islam telah memberi warna tersendiri di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas memeluk agama Hindu. Hingga kini, gaung kebesaran Islam warisan Dinasti Mughal memang sudah tidak terdengar lagi. Tetapi, lahirnya Negara Islam Pakistan tidak terlepas dari perkembangan Islam pada masa dinasti tersebut.

Pada fase desintegrasi, Dinasti Ghaznawi mengembangkan kekuasaannya di India di bawah pimpinan Sultan Mahmud dan pada tahun 1020 M, ia berhasil menaklukkan seluruh kerajaan Hindu di wilayah ini, sekaligus mengislamkan sebagian masyarakatnya.[3] Setelah Dinasti Ghaznawi hancur, muncul Dinasti-Dinasti kecil seperti Mamluk (1206-1290 M), Khalji (1296-1316 M), Tuglug (1320-1412 M) dan Dinasti-Dinasti lain.[4]

B. Asal-Usul Kerajaan Mughal

Mughal merupakan kerajaan Islam di anak benua India, dengan Delhi sebagai ibukotanya, berdiri antara tahun 1526-1858 M. Dinasti Mughal di India didirikan oleh seorang penziarah dari Asia tengah bernama Zahiruddin Muhammad Babur (1482-1530 M), salah satu cucu dari Timur Lenk dari etnis Mongol, keturunan Jengis Khan yang telah masuk Islam dan pernah berkuasa di Asia Tengah pada abad ke 15. Kerajaan ini berdiri pada saat di Asia kecil berdiri tegak sebuah kerajaan Turki Usmani dan di Persia kerajaan Safawi. Ketiganya pada saat yang sama menjadi sebuah negara-negara adikuasa di dunia. Mereka juga menguasai perekonomian, politik serta militer dan mengembangkan kebudayaan.[5]

Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana

dari orang tuanya dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Setelah naik tahta ia mencanangkan obsesinya untuk menguasai seluruh Asia Tengah, sebagaimana Timur Lenk tempo dulu. Namun, ambisinya itu terhalang oleh kekuatan Uzbekiztan, dan mengalami kekalahan. Namun berkat bantuan Ismail I (1500-1524 M), raja Safawi, Babur dapat menguasai Samarkand tahun 1494 M. Pada tahun 1504 M, ia menduduki Kabul, ibukota Afganistan.

Dari sini ia memperluas kekuasaannya ke sebelah Timur (India). Saat itu, Ibrahim Lodi, penguasa India, di landa krisis sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Daulah Khan, Gubernur Lahore dan Alam Khan, paman Ibrahim sendiri melakukan pembangkangan pada tahun 1524 terhadap pemerintahan Ibrahim Lodi, dan meminta bantuan Babur untuk merebut Delhi. Tiga kekuatan itu bersatu untuk menyerang kekuatan Ibrahim, tetapi gagal memperoleh kemenangan. Mereka melihat bahwa Babur tidak sungguh-sungguh membantu mereka.[6]

Ketidakseriusan Babur menimbulkan kecurigaan di mata Daulah Khan dan Alam Khan, sehingga keduanya berbalik menyerang Babur. Kesempatan itu tidak disia-siakan Babur, ia berusaha keras untuk mengalahkan gabungan dua kekuatan tersebut. Daulah Khan dan Alam Khan dapat dikalahkan, Lahore dikuasainya pada tahun 1525 M. Dari Lahore ia terus bergerak ke selatan hingga mencapai Panipat. Di sinilah ia berjumpa dengan pasukan Ibrahim maka terjadilah pertempuran yang dahsyat. Ibrahim beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu.[7] Babur memperoleh kemenangan yang amat dramastis dalam pertempuran Panipat I (1526 M) itu, karena hanya dengan didukung 26.000 personel angkatan perang, ia dapat melumpuhkan kekuatan Ibrahim yang di dukung oleh 100.000 personel dan 1.000 pasukan gajah. Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana.

Dengan demikian berdirilah kerajaan Mughal di India. Kemenangannya yang begitu cepat mengundang reaksi dari para penguasa Hindu setempat. Proklamasi 1526 M yang dikumandangkan Babur mendapat tantangan dari Rajput dan Rana Sanga didukung oleh para kepala suku India tengah dan umat Islam setempat yang belum tunduk pada penguasa yang baru tiba itu, sehingga ia harus berhadapan langsung dengan dua kekuatan sekaligus. Tantangan tersebut dihadapi Babur pada tanggal 16 Maret 1527 M di Khanus dekat Agra. Babur memperoleh kemenangan dan Rajput jatuh ke dalam kekuasaannya.

Setelah Rajput dapat ditundukkan, konsentrasi Babur diarahkan ke Afganistan, yang saat itu dipimpin oleh Mahmud Lodi saudara Ibrahim Lodi. Kekuatan Mahmud dapat dipatahkan oleh babur tahun 1529 M sehingga Gogra dan Bihar jatuh ke bawah kekuasaannya. Pada tahun 1530 M Babur meninggal Dunia dalam usia 48 tahun setelah memerintah selama 30 tahun, dengan meninggalkan kejayaan-kejayaan yang cemerlang.

Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh anaknya Humayun. Humayun, putra sulung Babur dalam melaksanakan pemerintahan banyak menghadapi tantangan. Sepanjang masa kekuasaannya selama sembilan tahun (1530-1539 M) negara tidak pernah aman. Ia senantiasa berperang melawan musuh. Diantara tantangan yang muncul adalah pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang memisahkan diri dari Delhi. Pemberontakan ini dapat dipadamkan. Bahadur Syah melarikan diri dan Gujarat dapat dikuasai. Pada tahun 1540 M terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Dalam pertempuran ini Hamayun mengalami kekalahan. Ia terpaksa melarikan diri ke Kandahar dan selanjutnya ke Persia. Di Persia ia menyusun kembali tentaranya. Kemudian dari sini ia menyerang musuh-musuhnya dengan bantuan raja Persia, Tahmasp. Humayun dapat mengalahkan Sher Khan Shah setelah hampir 15 tahun berkelana meninggalkan Delhi. Ia kembali ke India dan menduduki tahta kerajaan Mughal pada tahun 1555 M. Setahun setelah itu (1556 M) ia meninggal Dunia karena terjatuh dari tangga perpustakaanya, Din Panah.[8] Sepeninggalnya kerajaan Mughal diperintah oleh anaknya yang bernama Akbar.

C. Masa Kejayaan Kerajaan Mughal

Masa kejayaan Mughal dimulai pada masa pemerintahan Akbar (1556-1605) dan tiga raja penggantinya, yaitu Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M), Aurangzeb (1658-1707 M). Setelah itu, kemajuan kerajaan Mughal tidak dapat dipertahankan oleh raja-raja berikutnya. Akbar menggantikan ayahnya, pada saat ia berusia 14 tahun, sehingga seluruh urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam Kahan, seorang Syi’i. Pada masa pemerintahannya, Akbar melancarkan serangan untuk memerangi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang berkuasa di Punjab. Pemberontakan lain dilakukan oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pemberontakan tersebut disambut oleh Bairam Khan sehingga terjadilah peperangan dahsyat, yang disebut Panipat I tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh.[9]

Setelah Akbar dewasa, ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M. Setelah persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia dapat menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan militeristik.[10]

Hal itu membuat kerajaan Mughal menjadi sebuah kerajaan besar. Wilayah Kabul dijadikan sebagai gerbang ke arah Turkistan dan kota Kandahar sebagai gerbang ke arah Persia. Akbar berhasil menerapkan bentuk politik sulakhul (toleransi universal), yaitu politik yang mengandung ajaran bahwa semua rakyat India sama kedudukannya, tidak dapat dibedakan oleh etnis atau agama. Keberhasilan yang dicapai Akbar dapat dipertahankan oleh penerusnya yang bernama Jehangir, Syah Jehan dan Aurangzeb yang mana mereka memang terhitung raja-raja yang besar dan kuat. Segala macam pemberontakan dapat dipadamkan, sehingga rakyat merasa aman dan damai.

Pada masa Syah Jehan banyak pendatang Portugis yang bermukim di Hugli Bengala, menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka dengan jalan menarik pajak dan menyebarkan agama Kristen. Kemudian Syah Jehan meninggal pada tahun 1658 M dan terjadinya perebutan tahta kerajaan di kalangan istana. Mughal terpecah menjadi beberapa bagian. Shuja menobatkan dirinya sebagai Raja di Bengala. Murad menobatkan dirinya sebagai Raja di Ahmadabad. Shuja bergerak memasuki pemerintahan di Delhi. Namun pasukan Aurangzeb berhasil mengalahkannya pada tahun 1658 M. kemudian Aurangzeb memerangi pasukan Murad dan dimenangkan oleh Aurangzeb. Oleh karena itu, Aurangzeb secara resmi dinobatkan menjadi Raja Mughal. Langkah pertama yang dilakukan oleh Aurangzeb menghapuskan pajak, menurunkan bahan pangan dan memberantas korupsi, kemudian ia membentuk peradilan yang berlaku di India yang dinamakan fatwa alamgiri sampai akhirnya meninggal pada tahun 1707 M. Selama satu setengah abad, India di bawah Dinasti Mughal menjadi salah satu negara adikuasa. Ia menguasai perekonomian Dunia dengan jaringan pemasaran barang-barangnya yang mencapai Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Cina. Selain itu, India juga memiliki pertahanan militer yang tangguh yang sukar ditaklukkan dan kebudayaan yang tinggi.

Kemantapan stabilitas politik karena sistem pemerintahan yang diterapkan Akbar membawa kemajuan dalam bidang-bidang yang lain. Dalam bidang ekonomi, kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan dan perdagangan. Akan tetapi, sumber keuangan negara lebih banyak bertumpu pada sektor pertanian. Di samping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil pertanian itu diekspor ke Eropa, Afrika, Arabia dan Asia Tenggara bersamaan dengan hasil kerajinan, seperti pakaian tenun dan kain tipis bahan gordiyn yang banyak di produksi di Bengal dan Gujarat. Untuk meningkatkan produksi, Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat.[11]

Bersamaan dengan majunya bidang ekonomi, bidang seni dan budaya juga berkembang. Karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya sastra gubahan penyair istana, berbahasa Persia dan India. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi, dengan karyanya berjudul Padmavat, sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan jiwa manusia.[12] Pada masa Aurangzeb, muncul seorang sejarawan bernama Abu Fadl dengan karyanya Akhbar Nama dan Aini Akhbari, yang memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figure pemimpinnya. Karya seni yang dapat dinikmati sampai sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai oleh kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa Akbar di bangun istana Fatpur Sikri di Sikri, Villa dan masjid-masjid yang indah. Pada masa Syah Jehan dibangun masjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra, masjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore.[13]

D. Masa Kemunduran Kerajaan Mughal

Setelah satu setengah abad Dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran, kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu para pedagang Inggris yang diijinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.

Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya. Sepeninggal Aurangzeb (1707 M), tahta kerajaan dipegang oleh Muazzam, putra tertua Aurangzeb yang sebelumnya menjadi penguasa di Kabul. Putra Aurangzeb ini kemudian bergelar Bahadur Syah (1707-1712 M). Ia menganut aliran Syi’ah. Pada masa pemerintahannya yang berjalan selama lima tahun, ia dihadapkan pada perlawanan penduduk Lahore karena sikapnya yang terlampau memaksakan ajaran Syi’ah kepada mereka.[14]

Setelah Bahadur Syah meninggal, dalam jangka waktu yang cukup lama, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana, Bahadur Syah diganti oleh anaknya, Azimus Syah. Akan tetapi, pemerintahannya ditantang oleh Zulfiqar Khan, putra Azad Khan, Wazir Aurangzeb. Azimur Syah meninggal tahun 1712 M, dan diganti oleh putranya, Jihandar Syah, yang mendapat tantangan dari Farukh Siyar, adiknya sendiri. Jihandar Syah dapat disingkirkan oleh Farukh Siyar tahun 1713 M. Farukh Siyar berkuasa sampai tahun 1719 M dengan dukungan kelompok sayyid, tapi ia tewas di tangan para pendukungnya sendiri (1719M). Sebagai penggantinya diangkat Muhammad Syah (1719-1748 M). Namun ia dan pendukungnya terusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadir Syah yang sebelumnya telah berhasil melenyapkan kekuasaan Safawi di Persia. Keinginan Nadir Syah untuk menundukkan kerajaan Mughal terutama karena menurutnya, kerajaan ini banyak sekali memberikan bantuan kepada pemberontak Afghan di daerah Persia.[15] Oleh karena itu, pada tahun 1739 M, dua tahun setelah menguasai Persia, ia menyerang kerajaan Mughal. Muhammad Syah tidak dapat bertahan dan mengaku tunduk kepada Nadir Syah. Muhammad Syah kembali berkuasa di Delhi, setelah ia bersedia memberi hadiah yang sangat banyak kepada Nadir Syah. Kerajaan Mughal baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama setelah jabatan wazir dipegang oleh Chin Qilich Khan yang bergelar Nizam al-Mulk (1722-1732 M) karena mendapat dukungan dari Marathas. Akan tetapi tahun 1732 M, Nizam al-Mulk meninggalkan Delhi menuju Hiderabad dan menetap di sana.

Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah. Pemerintahan daerah satu persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat, bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahananya masing-masing. Hiderabad dikuasai Nizam al-Mulk, Marathas dikuasai Shivaji, Rajput menyelenggarakan pemerintahan sendiri di bawah pimpinan Jai Singh dari Amber, Punjab dikuasai oleh kelompok Sikh. Oudh dikuasai oleh Sadat Khan, Bengal dikuasai oleh Syuja’ al-Din, menantu Mursyid Qulli, penguasa Bengal yang diangkat Aurangzeb. Sementara wilayah-wilayah pantai banyak yang dikuasai para pedagang asing, terutama EIC dari Inggris.[16]

Setelah Muhamamd Syah meninggal, tahta kerajaan dipegang oleh Ahmad Syah (1748-1754 M) kemudian diteruskan oleh Alamghir II (1754-1759 M), dan kemudian diteruskan oleh Syah Alam (1761-1806 M). Pada tahun 1761 M, kerajaan Mughal diserang oleh Ahmad Khan Durrani dari Afghan. Kerajaan Mughal tidak dapat bertahan dan sejak itu Mughal berada di bawah kekuasaan Afghan. Meskipun Syah Alam tetap diijinkan memakai gelar sultan. Ketika kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti ni, pada tahun itu juga, perusahaan Inggris (EIC) yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan pemerintah kerajaan Mughal. Peperangan berlangsung berlarut-larut. Akhirnya, Syah Alam membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Qudh, Bengal dan Orisa kepada Inggris.[17] Sementara itu, Najib al-Daula, wazir Mughal dikalahkan oleh aliansi Sikh-Hindu, sehingga Delhi di kuasai oleh Sindhia dari Marathas. Akan tetapi Sindhia dapat dihalau kembali oleh Syah Alam dengan bantuan Inggris (1803 M).[18]

Syah Alam meninggal tahun 1806 M. Tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh Akbar II (1806-1837 M). Pada masa pemerintahannya Akbar memberi konsesi kepada EIC untuk mengembangkan usahanya di anak benua India sebagaimana yang diinginkan Inggris, tapi pihak perusahaan harus menjamin kehidupan raja dan keluarga istana. Dengan demikian, kekuasaan sudah berada di tangan Inggris, meskipun kedudukan dan gelar sultan dipertahankan. Bahadur Syah (1837-1858 M), penerus Akbar, tidak menerima isi perjanjian antara EIC dengan ayahnya itu, sehingga terjadi konflik antara kedua kekuatan tersebut.

Pada waktu yang sama, pihak EIC mengalami kerugian, karena penyelenggaraan administrasi perusahaan yang kurang efisien, padahal mereka harus tetap menjamin kehidupan istana. Untuk menutupi kerugian dan sekaligus memenuhi kebutuhan istana, EIC mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditekan, maka mereka, baik yang beragama Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan. Mereka meminta kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambang perlawanan itu dalam rangka mengembalikan kekuasaan kerajaan Mughal di India. Dengan demikian, terjadilah perlawanan rakyat India terhadap kekuatan Inggris pada bulan Mei 1857 M.

Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah, karena Inggris mendapat dukungan dari beberapa penguasa lokal Hindu dan Muslim. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota Delhi. Rumah-rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858M). Dengan demikian berakhirlah sejarah kekuasaan Dinasti Mughal di daratan India dan tinggallah disana umat Islam yang harus berjuang mempertahankan eksistensi mereka.

 

E. Pendidikan Islam pada Masa Kerajaan Mughal

Pada masa kerajaan Islam Mughal, pendidikan memperoleh perhatian yang cukup besar. Untuk keperluan ini pihak kerajaan mendorong untuk menjadikan masjid selain sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat belajar agama bagi masyarakat. Di masjid memang telah tersedia ulama yang akan memberikan pengajaran berbagai cabang ilmu agama. Bahkan, di masjid juhga telah disediakan ruangan khusus bagi para pelajar yang ingin tinggal di masjid selama mengikuti pendidikan. Karena itu, hampir setiap masjid merupakan pengembang ilmu-ilmu agama tertentu dengan guru-guru spesialis. Dalam perkembangannya, masjid raya telah berkembang menjadi sebuah universitas.[19] Seorang ilmuwan muslim, Sidi Gazalba bahkan mengatakan bahwa di masa Kerajaan Mughal pendidikan didorong dengan hadiah uang untuk masjid. Semua masjid selalu mempunyai sekolah rendah.[20]

Ini berarti perhatian sejumlah penguasa Mughal terhadap pembinaan agama dengan membangun sejumlah masjid misalnya amat bermanfaat bagi pengembangan pendidikan Islam dan ajaran Islam di kalangan masyarakat. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi orang-orang kaya, pihak kerajaan juga telah menyediakan madrasah-madrasah khusus. Pendidikan atau sekolah khusus ini juga disediakan bagi orang Hindu yang disebut Pat Shala. Namun demikian, di samping sekolah khusus bagi kelompok agama tertentu pihak kerajaan juga menyediakan sekolah tempat anak-anak muslin dan Hindu belajar bersama.[21]

Selain masjid, juga terdapat khanqah (pesantren) yang dipimpin ulama atau wali, yang secara umum ada di daerah-daerah pedalaman. Khanqah pada era ini merupakan pusat studi Islam yang dinilai baik. Di khanqah diajarkan berbagai ilmu pengetahuan seperti matematika, mantik/logika, filsafat, tafsir Qur’an, hadits, fiqih, sejarah, dan geografi. Bahasa Persia pada masa itu merupakan bahasa pengantar dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran agama Islam. Pendidikan yang diselenggarakan ini diikuti oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Karena itu sejumlah kaum wanita dari keluarga terdidik, misalnya Gulbadan Begum, Maham Anga, Nur Jahan, Mumtaz Mahal, Jahan Ara Begum, dan Zaibun Nisa yang kemudian menjadi penulis terampil.[22]

Selain itu, pihak kerajaan juga menyediakan perpustakaan yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Akbar dikenal sebagai raja yang gemar membaca dan mengoleksi buku. Pada era ini juga banyak buku-buku terjemahan yang diterbitkan. Diantaranya buku terjemahan kisah Mahabaratha dan Ramayana yang dibuat oleh Badayuni ke dalam bahasa Persia. Raja lainnya, Jahangir dikenal sebagai raja pelindung para ilmuwan. Ia juga menulis biografinya sendiri dengan judul Tuzk-i-Jahangiri.[23]

Di masa Syah Jahan didirikan perguruan tinggi di Delhi. Aurangzeb mendirikan pusat pendidikan di Lucknow. Tiap masjid mempunyai lembaga tingkat dasar yang dipimpin oleh seorang guru. Sejak berdiri banyak ilmuan yang belajar di India. Sedangkan Aurangzeb dikenal banyak orang sebagai lelaki yang saleh, adil, keras dan energetik yang menjadi teladan kerajaan Islam. Hidupnya ditandai kesederhanaan dan tenaga yang tak terbatas. Dialah yang paling terpelajar di antara semua penguasa Mughal.[24]

Berbagai kegiatan tulis menulis dalam masalah agama, sejarah, maupun syair, ikut melengkapi koleksi perpustakaan kerajaan sekaligus penyebaran ilmu pengetahuan. Karena itu tidak sedikit dijumpai perpustakaan yang ada di berbagai wilayah kerajaan Mughal. Pada tahun 1641 misalnya, terdapat sebuah perpustakaan di Agra yang memiliki koleksi 20.000 buku. Karena itu, semangat dan perkembangan agama Islam yang telah berkembang di kalangan kerajaan maupun masyarakat pada umumnya sebetulnya bersamaan dengan tumbuhnya lembaga-lembaga keagamaan, pendidikan, dan ilmu pengetahuan.[25]

Dalam penggalan sejarah Dinasti Mughal, tampil dua penguasa paling berpengaruh: Akbar Khan dan Aurangzeb. Meskipun keduanya memerintah dalam dekade yang berbeda, tetapi kebijakan Akbar Khan dan Aurangzeb, khususnya berkaitan dengan pengembangan Islam di India, memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Akbar mengembangkan pola Islam sinkretis. Sebaliknya, Aurangzeb mengembangkan pola Islam puritan.

Dalam perspektif politik, langkah Akbar ini dianggap sah, bahkan cerdas. Sebab, substansi politik adalah tercapainya tujuan, meskipun pada saat bersamaan terdapat aspek-aspek tertentu yang terabaikan. Orang boleh melakukan apa saja dalam konteks politik. Akbar telah memposisikan Islam tidak lebih dari sekedar simbol formal tanpa makna. Karena itu, dia dengan mudah meleburkan dan mencampuradukkan Islam dengan berbagai kepercayaan lain. Dalam situasi ini, Islam kehilangan identitasnya. Ketinggian dan keluhuran ajaran Islam juga tereduksi sedemikian rupa. Hal ini menyebabkan ketegangan dengan para penganut Ahlusunah wal jamaah.

Lain dengan Akbar Khan, lain pula dengan Aurangzeb. Wajah Islam di India pada masa Aurangzeb tampak lebih dominan. Dia berusaha mengangkat kembali citra Islam yang tampak “redup” beberapa dasawarsa sebelumnya. Ia giat mengembalikan kemurnian Islam. Usaha ini patut dihargai. Sebab, dari sini terlihat kecintaan seorang Aurangzeb terhadap Islam. Namun, perlu diingat, Islam adalah agama yang mensponsori perdamaian, tanpa paksaan, dan tidak mentolelir berbagai tindak kekerasan terhadap pemeluk agama lain. Memurnikan ajaran Islam dengan merusak tempat ibadah agama lain, bukanlah pesan Islam.

Kebijakan Aurangzeb untuk menghancurkan kuil-kuil Hindu, meletakkan arca di jalan-jalan agar selalu diinjak tampaknya menjadi sebuah kekeliruan. Hal ini menyebabkan terjadinya pemberontakan hebat dari kalangan Hindu. Pada 1739 M. Mughal dikalahkan oleh pasukan dari Persia dipimpin oleh Nadir Shah. Pada 1756 M. pasukan Ahmad Shah merampok Delhi lagi. Kerajaan Britania yang masuk ke India pada 1600 M. dan mulai melakukan penaklukkan terhadap kerajaan Mughal pada 1757 M. serta membubarkannya tahun 1858 M. setelah mengalahkan pesaingnya, Perancis.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam di masa kerajaan Islam Mughal memang tidak segemilang masa Islam klasik sebelumnya. Hal ini didasari oleh beberapa alasan; 1) metode berpikir dalam bidang teologi di masa ini adalah metode berpikir tradisional setelah metode berpikir rasional Mu’tazilah padam. 2) Kebebasan berpikir ala pemikiran filsafat Yunani menurun setelah al-Ghazali melontarkan kritik terhadap filsafat dan di sisi yang lain ajaran tasawuf yang mengesampingkan kehidupan dunia berkembang pesat. 3) Sarana-sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran, seperti perpustakaan dan karya ilmiah asing banyak yang hancur di masa Islam klasik, sehingga di masa Mughal seperti ada rantai pengetahuan yang terputus.[26]

Sumbangan peradaban Islam kepada kebudayaan bangsa India teramat penting. Dalam bangunan sosial budaya masyarakat India yang berbeda-beda, banyak ciri yang maju, seperti penghormatan kepada wanita dan hak-hak mereka. Tidak salah kalau dinyatakan bahwa setelah fajar Islam, bangsa India berhutang budi kepada Islam dan kaum muslimin.[27]

F. Penutup

Sisa-sisa kejayaan Dinasti Mughal dapat dilihat dari bangunan-bangunan bersejarah yang masih bertahan hingga sekarang. Misalnya Taj Mahal di Agra, makam megah yang dibangun pada masa Syah Jahan untuk mengenang permaisurinya, Mumtaz Mahal, adalah saksi bisu kemajuan arsitektur Islam pada masa dinasti ini. Sayangnya, kemajuan pendidikan Islam yang dicapai tidak segemilang masa Islam klasik sebelumnya. Bangsa Turki dan Mongol memang lebih dikenal sebagai bangsa yang suka berperang ketimbang bangsa yang suka ilmu.

Kehidupan seperti roda berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Demikian halnya Dinasti Islam Mughal di India. Sebagaimana dinasti-dinasti Islam lainnya, dinasti ini pun mengalami siklus: berdiri, berkembang, mencapai puncak, mengalami kemunduran, lalu hancur.

 

G. Sumber Rujukan

Abdullah, Taufik, et.al, (Ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 2, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002

Ahmad, Kh. Jamil, Seratus Muslim Terkemuka, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Volume 3, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993

Gazalba, Sidi, Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Al-Husna, 1994

Hamka, Sejarah Umat Islam 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1981, Cetakan VI

Holt, P. M., Ann K.S. Lambton and Bernard Lewis, The Cambridge History of Islam, London: Cambridge University Press, 1970

Ikram, S.M., Muslim Civilization in India, New York: Columbia University Press, 1965

Mahmudunnasir, Syed, Islam: Konsepsi dan Sejarahnya, Bandung, Rosdakarya, 2005

Mujib, M, The Indian Muslim, London: George Alen, 1967

Nadwi, Abul Hasan Ali, Islam dan Dunia, Bandung: Angkasa, 1995

Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I., Jakarta: UI Press, 1985

Panikkar, Kavalam Madhava, Asia and Western Dominance; A Survey of the Vasco Da Gama Epoch of Asian History, 1498-1945, G. Allen and Unwin, 1957

Soebardi dan Harsojo, Pengantar Sejarah dan Ajaran Islam, Bandung: Binacipta, 1986

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta,RajaGrafindo Persada, 2000


[1] Syed Mahmudunnasir, Islam: Konsepsi dan Sejarahnya, Bandung, Rosdakarya, 2005, h. 163

[2] Soebardi dan Harsojo, Pengantar Sejarah dan Ajaran Islam, Bandung: Binacipta, 1986, h. 100

[3] Syed Mahmudunnasir, Islam: Konsepsi…, h. 163

[4] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I., Jakarta: UI Press, 1985, h. 82

[5] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Volume 3, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993, h. 239

[6] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam…, h. 239

[7] P. M. Holt, Ann K.S. Lambton and Bernard Lewis, The Cambridge History of Islam, London: Cambridge University Press, 1970, h. 22

[8] Syed Mahmudunnasir, Islam: Konsepsi…, h. 265-266

[9] Syed Mahmudunnasir, Islam: Konsepsi…, h. 265-266

[10] M. Mujib, The Indian Muslim, London: George Alen,1967, h. 254-255

[11]  M. Mujib, The Indian…, h. 256

[12]  P. M. Holt, Ann K.S. Lambton and Bernard Lewis, The Cambridge…, h. 57

[13] S. M. Ikram, Muslim Civilization in India, New York: Columbia University Press, 1965, h. 247

[14] S. M. Ikram, Muslim Civilization…, h. 254-255

[15] Hamka, Sejarah Umat Islam 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1981, Cetakan VI, h. 163

[16]  Kavalam Madhava Panikkar, Asia and Western Dominance; A Survey of the Vasco Da Gama Epoch of Asian History, 1498-1945, G. Allen and Unwin, 1957, h. 187

[17] Hamka, Sejarah Umat …, h. 164

[18] S. M. Ikram, Muslim Civilization…, h. 286

[19] Taufik Abdullah, et.al, (Ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 2, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002, h. 297.

[20] Sidi Gazalba, Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Al-Husna, 1994, h. 287

[21] Taufik Abdullah, et.al, (Ed), Ensiklopedi Tematis…, h. 297.

[22] Taufik Abdullah, et.al, (Ed), Ensiklopedi Tematis…, h. 297-298.

[23] Taufik Abdullah, et.al, (Ed), Ensiklopedi Tematis…, h. 298.

[24] Kh. Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000, h. 416

[25] Taufik Abdullah, et.al, (Ed), Ensiklopedi Tematis…, h. 298-299.

[26] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000, h. 152-153

[27] Abul Hasan Ali Nadwi, Islam dan Dunia, Bandung: Angkasa, 1995, h. 77

~ oleh ka uki pada 16 Desember 2012.

Satu Tanggapan to “KERAJAAN MUGHAL DAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA”

  1. terima kasih..
    mohon share ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: