MENAKAR MODEL PESANTREN MODERN DAN TRADISIONAL

MENAKAR MODEL PESANTREN MODERN DAN TRADISIONAL;

Studi Kasus Pondok Modern Darussalam Gontor dengan Pondok Buntet Pesantren Cirebon

 

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I

 

  1. A.      Pembukaan

Pesantren, secara sederhana mulanya dimengerti sebagai tempat mangkalnya sekelompok orang saleh yang ingin mendalami agama Islam, dengan seorang kyai tertentu sebagai tokoh spiritual mereka. Kata “santri” sendiri sebenarnya punya dua pengertian. Pertama, bisa berarti orang mendalami agama Islam. Kedua, bisa berarti juga orang saleh yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Pada perkembangan selanjutnya, setiap orang yang bermukim di pesantren, entah karena dipaksa oleh orang tua lantaran biaya pendidikan yang mahal, atau karena frustasi dan karenanya ia tetap bandel di pesantren tanpa menunjukkan sedikitpun tanda-tanda orang saleh,  tetap disebut santri, itu soal lain.

Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam Tradisional di mana para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Berdasarkan jumlah siswa atau santrinya, pesantren dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, antara lain: pesantren kecil, yaitu pesantren yang biasanya mempunyai jumlah santri di bawah seribu dan pengaruhnya terbatas pada tingkat kabupaten, pesantren menengah, yaitu pesantren yang memiliki jumlah santri antara 1000 sampai dengan 2000 orang, pesantren menengah ini biasanya memiliki pengaruh dan menarik santri-santri dari beberapa kabupaten, dan pesantren besar, yaitu pesantren yang mempunyai jumlah santri lebih dari 2000 orang yang berasal dari berbagai kabupaten dan propinsi. (Dhofier: 1994).

Selain itu, dikenal pula istilah-istilah pesantren, seperti: Pesantren Tradisional,  Pesantren Modern dan Pesantren Kilat. Pesantren tradisional atau  pesantren salafi adalah pesantren yang  tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Sistem madrasah atau jenjang-jenjang juga diterapkan untuk lebih memudahkan sisten pengajaran yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, pesantren ini tidak mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Misalnya, Pesantren Lirboyo dan Ploso di Kediri, Pesantren Aslakul Huda di Pati dan pesantren Tremas di Pacitan. Pesantren modern atau pesantren khalafi adalah pesantren yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam sistem madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau membuka tipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren.Misalnya, Pondok Modern Gontor di Ponorogo yang tidak lagi mengajarkan kitab-kitab Islam klasik atau Pesantren Tebuireng dan Rejoso di Jombang yang telah membuka SMP, SMA dan universitas namun tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.  Adapun pesantren kilat merupakan kegiatan dalam pesantren yang diselenggarakan hanya dalam beberapa minggu saja (15-40 hari). Aktifitas ini biasanya bertujuan untuk mengisi waktu kosong (libur) dari para santri maupun orang di luar pesantren (anak-anak yang bersekolah di sekolah umum) dengan belajar dan memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam dan amalan-amalan yang harus dilakukan, seperti: sholat, membaca Al-Qur’an, belajar bahasa Arab, menghafalkan doa-doa dan sebagainya. Biasanya para orang tua yang mempunyai anak yang bersekolah di sekolah umum mengirim mereka ke pesantren kilat supaya anak mereka memiliki pengetahuan yang seimbang antara pengetahuan umum dan agama. Pesantren kilat ini biasanya diselenggarakan pada masa liburan sekolah umum atau pada bulan Ramadhan. (Dhofier: 1994)

Di Indonesia, pesantren dikenal sebagai tradisi belajar dan mengajar yang intensif, yang paling sesuai dengan kultur masyarakat Islam negeri ini. Karena Islam di Nusantara, dari sumber penyebaran pertamanya di Aceh, menjalar secara terorganisasi dan terencana pertama kali justru dari tradisi pesantren ini. Syaikh Maulana Malik Ibrahim, wali pertama dari wali songo yang berjasa menyiarkan agama Islam pertama kali di jazirah Nusantara, adalah pendiri pertama pesantren di Indonesia. Dari pesantrennya inilah kemudian menyebar ribuan muballigh ke seluruh Tanah Jawa dan daerah-daerah sekitarnya. (Rahardjo: 1988)

Pendidikan dan pengajaran di pesantren berurat akar ke bawah, mendapat dukungan dari masyarakat dan hidup di tengah masyarakat serta mengabdi pada kepentingan rakyat. Pesantren memiliki jiwa gotong royong atau kekeluargaan, oleh karenanya lembaga ini tidak mengenal hubungan kepegawaian, buruh majikan, dengan sendirinya seluruh karyawan pendidikannya tidak mengenal istilah gaji. Sesuai dengan kenyataan tersebut dan karena itu sistim ujian, ijazah yang mengarah kepada sifat intelektualisme dan verbalisme dalam pendidikan dan pengajarannya sehingga pendidikan intelek mengalahkan pendidikan kepribadian yang integral dari manusia juga tak dikenal, dan diganti dengan in service teacher role yang terkenal dengan istilah sistem lurah pondok.

Secara natural  tidak ada gejala sosial di dunia ini yang selalu tetap dan tidak berubah. Begitu pula halnya dengan dunia pesantren, meskipun dalam gambaran masyarakat umum pesantren merupakan “pribadi” yang sukar diajak berbicara mengenai perubahan, sulit dipahami pandangan dunianya dan karena itu pula orang enggan membicarakannya. Sementara itu sebagian orang merasa punya kuasa atau mempunyai pengaruh lalu berusaha untuk menggalakkan perhatian umum mengenai lembaga yang didiamkan dalam “cagar masyarakat” itu. Walhasil, masyarakat umum memandang dunia pesantren hampir-hampir sebagai lambang keterbelakangan dan ketertutupan (Rahardjo: 1988). Karena itulah, ketika kebetulan pemerintah – dalam hal ini Departemen Agama atau Menteri Agama – membicarakan, bahkan menjadikan pesantren sebagai “sasaran pembangunan”, maka dunia pesantren pun menerimanya dengan terkejut dan kemudian “curiga”.

 

  1. B.       Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG)
    1. 1.      Sejarah

Didirikan pada tgl 20 September 1926/ 12 Rabi’ul Awwal 1345 oleh tiga bersaudara: K.H. Ahmad Sahal (1901 – 1977), K.H. Zainudin Fananie (1908 – 1967), dan K.H. Imam Zarkasyi (1910 – 1985).

Pada tanggal 5 Syawwal 1355/19 Desember 1936 Kulliyatu-l Mu’allimin al-Islamiyah  (KMI), didirikan oleh K.H. Imam Zarkasyi. Sebuah sekolah tingkat menengah, masa belajar 6 th, untuk mencetak guru-guru Islam, dengan sistem pesantren, mengajar-kan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum secara seimbang. Pelajaran agama dan bahasa (Arab dan Inggris) disampaikan dengan bahasa pelajaran (tidak diterjemahkan). (Zarkasyi: 2005, 92)

Di tahun 1948terjadi Pemberontakan PKI di Madiun, Para Kyai di wilayah Madiun dan sekitarnya ditangkap dan ditawan oleh gerombolan PKI, termasuk Kyai Gontor. Sebagian besar mereka dibantai, namun para Kyai Gontor selamat berkat bala bantuan dari Pasukan Siliwangi. Kemudian, pada tanggal 28 Rabi’u Awal 1378/ 12 Oktober 1958,para pendiri Pondok mewakafkan PMDG kepada Umat Islam. Sebuah pengorbanan kepemilikan pribadi demi kemaslahatan umat. Pihak penerima amanat diwakili oleh 15 anggota IKPM yang kemudian menjadi Badan Wakaf PMDG.

Pada tanggal 29 Jumadi Tsaniyah 1383/ 17 Nopember 1963Perguruan Tinggi Darussalam berdiri. Sejak 1996 diubah namanya menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID).
ISID mempunyai 3 fakultas: Tarbiyah; jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pengajaran Bahasa Arab. Ushuluddin; jurusan Perbandingan Agama, Filsafat Pemikiran Islam. Syari’ah; jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum; dan jurusan Manajemen & Lembaga Keuangan Islam.

7 Dzulhijjah 1386/ 19 Maret 1967 Terjadi pemberontakan terhadap Kyai/Pimpinan Pondok, didalangi oleh sebagian santri senior, bertujuan mengambil alih kepemimpinan di Pondok. Kyai/Pimpinan Pondok memulangkan seluruh santrinya. Pondok untuk sementara waktu diliburkan. Hanya sebagian santri yang dipanggil oleh Pimpinan Pondok yang boleh kembali belajar/nyantri di PMDG. Pasca peristiwa, semakin banyak santri yang datang dan Pondok bertambah maju pesat.

30 Rajab 1405/ 21 April 1985, K.H. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok terakhir, wafat. Sidang Badan Wakaf menetapkan tiga pimpinan baru: K.H. Shoiman Luqmanul Hakim, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A., K.H. Hasan Abdullah Sahal. Tahun 1999, K.H. Shoiman Luqmanul Hakim wafat, digantikan oleh Drs. K.H. Imam Badri yang wafat 8 Juni 2006. (Zarkasyi: 2005, 88).

 

  1. 2.      Visi, Misi, Tujuan, dan Nilai Dasar

a)        Visi
Sebagai lembaga pendidikan pencetak kader-kader pemimpin umat, menjadi tempat ibadah talab al-’ilmi; dan menjadi sumber pengetahuan Islam, bahasa al-Qur’an, dan ilmu pengetahuan umum, dengan tetap berjiwa pesantren. (gontor.ac.id)

b)     Misi

  • Membentuk generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah.
  • Mendidik dan mengembangkan generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
  • Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju terbentuknya ulama yang intelek.
  • Mewujudkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. (gontor.ac.id)

c)        Tujuan

  1. Terwujudnya generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah.
  2. Terbentuknya generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
  3. Lahirnya ulama intelek yang memiliki keseimbangan dzikir dan pikir.
  4. Terwujudnya warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. (gontor.ac.id)

d)       Motto

Berbudi tinggi, Berbadan sehat, Berpengetahuan luas, Berpikiran bebas.

 

 

e)        Nilai Dasar

Panca Jiwa, meliputi: Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, Jiwa Bebas.

Panca Jangka, meliputi: Pendidikan dan Pengajaran, Kaderisasi, Pergedungan, Pengadaan Sumber Dana, dan Kesejahteraan Keluarga Pondok.

 

  1. 3.      Kurikulum dan Program

Orientasi Pendidikan & Pengajaran

  • Keislaman
  • Keilmuan
  • Kemasyarakatan

Strategi Pendidikan

  • Kehidupan Pondok dengan segala TOTALITASNYA menjadi media pembelajaran dan pendidikan.
  • Pendidikan berbasis komunitas: segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami oleh para santri dan warga Pondok dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Kurikulum KMI

  • Kurikulum KMI terdiri dari Ilmu Pengetahuan Umum 100%, Ilmu Pengetahuan Agama 100%.
  • Hal ini menunjukkan bahwa antara ilmu agama dan umum tidak dapat dipisahkan, semuanya ilmu Islam. Semua bersumber dari Allah dengan segala ciptaan-Nya atau segala sesuatu yang lahir dari ciptaan-Nya.
  • Secara mendasar, tujuan pengajaran kedua macam ilmu tersebut adalah untuk membekali siswa dengan dasar-dasar ilmu menuju kesempurnaan menjadi ‘abid dan khalifah.
  • Kurikulum KMI tidak terbatas pada pelajaran di kelas saja, melainkan keseluruhan kegiatan di dalam dan di luar kelas merupakan proses pendidik-an yang tak terpisahkan.

Isi Kurikulum

  • Bahasa Arab
  • ‘Ulum Islamiyah; utk kls II ke atas menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar.
  • Keguruan
  • Bahasa Inggris
  • Ilmu Pasti; Matematika dan IPA
  • Ilmu Pengetahuan Sosial
  • Keindonesiaan/Kewarganegaraan

Guru KMI Gontor

  • Berasal dari tamatan KMI Gontor, atau lulusan KMI yang telah tamat belajar di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri; dan wajib bertempat tinggal di asrama.
  • Tugas: Sebagai guru/pendidik; sebagai mahasiswa ISID; sebagai pembantu Pondok: tata usaha, pengurus unit usaha, pembimbing kegiatan santri, dll.

 

Pengakuan kurikulum PMDG, diantaranya: Menteri Pendidikan dan Pengajaran Republik Arab Mesir (tahun 1957), Kementerian Pengajaran Kerajaan Arab Saudi (tahun 1967), University of the Punjab, Lahore, Pakistan (tahun 1991), Dirjen Binbaga Islam Depag RI (tahun 1998), Menteri Pendidikan Nasional RI (tahun 2000).

Kegiatan Ekstrakurikuler meliputi: Pramuka, Olahraga, Kesenian, Latihan Pidato (bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris), Khutbah Jum’at, Tau’iyah Diniyah, Diskusi, Kursus Komputer, Praktek di Laboratorium Bahasa, Kursus Jurnalistik, Majalah Dinding (bahasa Arab dan Inggris), Baca buku di Perpustakaan, Keterampilan, Praktek Manajemen Organisasi dan Koperasi, Bersih Lingkungan, dan lain-lain.

 

  1. C.      Pondok Buntet Pesantren
    1. 1.    Sejarah

Pondok Buntet Pesantren adalah nama sebuah Pondok Pesantren yang umurnya cukup tua. Berdiri sejak abad ke 18 tepatnya tahun 1785. Menurut catatan sejarah seperti yang tertulis dalam buku Sejarah Pondok Buntet Pesantren karya H. Amak Abkari, bahwa tokoh Ulama yang pertama kali mendirikan Pesantren ini adalah seorang Mufti Besar Kesultanan Cirebon bernama Kyai Haji Muqoyyim (Mbah Muqoyyim).

Bermula karena beliau memiliki sikap non kooperatif terhadap penjajah Belanda waktu itu, sehingga lebih kerasan (betah) tinggal dan mengajar di tengah masyarakat ketimbang di Istana Kesultanan Cirebon. Rupanya, setelah merasa cocok bertempat tinggal di perkampungan dan memberikan dakwah keagamaan, akhirnya beliau mendirikan sebuah pondok pesantren yang cukup terekenal bernama Pondok Buntet Pesantren.

Di tempat yang sekarang ini berada, pesantren ini posisinya ada di antara dua Desa: + 80% Pesantren ini menjadi wilayah administratif Desa Mertapada Kulon dan sisanya bagian Barat milik Desa Munjul. Pesantren ini sendiri bukanlah nama Desa, melainkan hanya tempat/padepokan santri. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dari ratusan tahun yang lalu, penduduk pesantren ini makin lama makin berkembang. Kepadatannya cukup besar.

Berbeda dengan Pondok Pesantren lain, keberadaan Pesantren Buntet ini cukup unik karena komunitasnya yang homogen; antara santri dan penduduk asli pesantren ini sulit dibedakan, terutama bila dipandang oleh orang lain. Orang yang mengenal Buntet sebagai sebuah pesantren, ketika bertemu dengan salah seorang lulusan pesantren ini, dianggapnya sebagai santri sehingga kesan yang timbul adalah berdekatan dengan ilmu keagamaan dan ubudiah. Karena memang tidak bisa dipungkiri, baik penduduk asli pesantren ini ataupun santri, keberadaan sehari-hari, tidak lepas dari aktivitas nyantri (mengaji).

Setidaknya ada tiga jenis masyarakat penghuni pesantren: Pertama, masyarakat keturunan kyai. Dari catatan silsilah keturunan Kyai Buntet, hampir seluruh Kyai di Pesantren ini adalah anak cucu dari keturunan Syarif Hidayatullah, salah seorang anggota Walisongo. Kedua, Masyarakat biasa. Asal mula mereka adalah para santri atau teman-teman Kyai yang sengaja diundang untuk menetap di Buntet. Ketiga, masyarakat santri. Merekalah yang membesarkan nama baik Buntet Pesantren.

Dalam perkembangan selanjutnya, kepemimpinan Pondok Buntet Pesantren dipimpin oleh seorang Kyai yang seolah-olah membawahi kyai-kyai lainnya yang memimpin masing-masing asrama (pondokan). Segala urusan ke luar diserahkan kepada sesepuh ini. (http://buntetpesantren.org).

 

  1. 2.    Program

Untuk mewujudkan upaya pengembangan kuallitas sumber daya manusia secara terarah, terpadu, dan menyeluruh Pondok Buntet Pesantren merencanakan program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Program Jangka Pendek

  1. Peningkatan sumber daya manusia
  2. Pengembangan sarana dan prasarana
  3. Penambahan tenaga pengajar definitive
  4. Pemberdayaan balai pengobatan
  5. Penambahan buku-buku perpustakaan
  6. Pengadaan sarana ibadah (Masjid Kampus AKPER)
  7. Penerbitan jurnal ilmiah “Rehal”
  8. Revitalisasi Lembaga Bahasa dan Komputer
  9. Cappacity Building dengan penguasan teknologi modern
  10. Up Grading Website, Internet dan Intranet Linkage

 

Program Jangka Menengah

  1. Pendirian Akademi Kebidanan
  2. Pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Buntet Pesantren
  3. Pendirian Program Profesi/Kejuruan Buntet Pesantren
  4. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
  5. Pendirian Akademi Bahasa Asing
  6. Pengembangan Usaha Wartel Tipe B menjadi Tipe A
  7. Balai Pengobatan / Klinik Kesehatan
  8. Pengadaan Percetakan
  9. Pendirian Akademi Komputer

 

Program Jangka Panjang

  1. Pendirian Universitas Buntet Pesantren
  2. Pendirian Rumah Sakit Kelas D

 

  1. 3.      Kurikulum

Keseluruhan kitab-kitab klasik yang diajarkan dapat dikelompokkan dalam 8 kelompok, antara lain: 1. nahwu (sintaksis) dan sharaf (morfologi), 2. fiqh (hukum Islam), 3.usul fiqh (pengetahuan tentang sumber-sumber dan sistem jurispudensi Islam), 4. hadits (ajaran-ajaran yang dilakukan nabi atau rosul), 5. tafsir (terjemahan Al-Qur’an), 6. Tauhid, 7. Tasawuf dan etika dan 8. cabang-cabang lain seperti  tarikh dan balaghah.

 

  1. D.      Komparasi Analitis Pondok Modern Darussalam Gontor dengan Buntet Pesantren

 

1)      Sistem Pengajaran

Sistem pengajaran yang dikenalkan di pesantren tradisional pada umumnya ada dua macam, yaitu sistem sorogan, di mana sistem ini biasanya diberikan kepada murid-murid yang telah menguasai pembacaan Al-Qur’an. Sistem ini merupakan sistem pengajian dasar di rumah-rumah, di langgar dan di masjid yang diberikan secara individual. Adapun sistem pengajaran yang lain adalah sistem bandongan. Sistem ini merupakan sistem utama di lingkungan pesantren. Dalam sistem ini sekelompok murid (5-500 orang) mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit. Bagi santri yang sudah mencapai ilmu yang cukup tinggi atau biasa disebut santri senior, biasanya masuk dalam anggota kelas musyawarah. Dalam kelas ini sistem pengajarannya sangat berbeda dengan sebelumnya. Para santri harus mempelajari sendiri kitab-kitab yang ditunjuk oleh kyai. Kemudian kyai akan memimpin kelas musyawarah ini seperti dalam sebuah seminar dan biasanya lebih banyak dalam bentuk tanya jawab atau diskusi.

Berbeda dengan sistem pengajaran di pesantren tradisional, maka di pesantren modern seperti di Gontor, transformasi ilmu pengetahuan berlangsung dengan sistem klasikal. Di Indonesia sendiri pesantren modern berkembang karena berdampingan dengan penyelenggaraan sekolah ‘umum’.

 

2)      Elemen-elemen Pesantren

Pondok

Pondok adalah asrama atau tempat tinggal bagi para santri. Pondok merupakan ciri khas tradisi pesantren yang dapat membedakannya dengan sistem pendidikan tradisional di masjid-masjid yang berkembang di kebanyakan wilayah Islam di negara-negara lain.

Di lihat dari segi fisik maupun manajerial sistem pondok yang ada di PMDG dengan Buntet Pesantren, perbedaan keduanya terletak dari besar bangunan dan pengasuh asrama. Kalau di PMDG, asrama di kelola oleh santri senior di bawah Kyai atau Pengasuh sedangkan di Buntet Pesantren pengelolaan asrama berada di bawah naungan kyai-kyai pengasuh sehingga bentuk fisik bangunannya tidak sebesar di PMDG.

 

Masjid

Masjid merupakan tempat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sembahyang lima waktu, khotbah, dan sembahyang Jum’at dan pengajian kitab-kitab Islam klasik. Dalam sistem pendidikan Islam dari zaman dahulu hingga sekarang masjid merupakan pusat pendidikan Islam. Kaum muslimin biasanya menggunakan masjid sebagai tempat pertemuan, pusat pendidikan, aktivitas administrasi dan kultural.

 

 

 

Pengajaran Kitab-kitab Klasik

Tujuan utama dari sebuah pesantren sesungguhnya adalah untuk mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Sementara pengajaran membaca Al-Qur’an dalam pengajian bukan merupakan tujuan utama dalam sistem pendidikan pesantren.

 

Santri

Dalam kultur Pesantren tradisional seperti di Buntet lazimnya dikenal dua kelompok santri:

1.      Santri mukim yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren.

2.      Santri kalong yaitu  murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren. Untuk mengikuti pelajarannya di pesantren, mereka bolak-balik (nglaju) dari rumahnya sendiri.

Adapun dalam kultur di Pesantren modern tidak mengenal istilah dikotomi santri. Hal ini dikarenakan setiap santri yang menuntut ilmu di pesantren modern diharuskan mukim di asrama.

 

Kyai

Kyai merupakan elemen yang paling esensial dari suatu pesantren. Kata kyai adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. Selain gelar kyai, ia biasanya juga sering disebut seorang alim (orang yang dalam pengetahuan Islamnya). Di Pesantren, kyai merupakan sosok yang tidak boleh didebat. Hal ini mengakibatkan bahwa antara kyai dan santri ada hubungan yang berjarak dalam sisi transformasi ilmu pengetahuan. (Huda: 2002, 208).

 

3)      Perguruan Tinggi dan Pesantren

Potensi Pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam di Indonesia cukup besar dan kuat. Besar dari segi kuantitas, dan menurut catatan Departemen Agama (1982) terdapat sejumlah 4.980 pesantren di Indonesia. Namun, dari jumlah yang demikian besar, hanya beberapa saja yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. (Azra: 1998, 102)

Menurut A. Malik Fadjar, perguruan tinggi dan pesantren adalah dua tradisi pendidikan yang banyak perbedaan. Perguruan tinggi merupakan gejala kota, sedang pesantren adalah gejala desa. Perguruan tinggi identik dengan kemodernan, sedangkan pondok pesantren identik dengan ketradisionalan. Perguruan tinggi lebih menekankan pendekatan yang bersifat liberal, sedang pesantren menekankan sikap konservatif yang berstandar dan berpusat pada figur sang kyai. (Fadjar: 2005, 219).

Meskipun pendapat di atas masih debatable, paling tidak dunia pesantren tidak selamanya menunjukkan perkembangan yang statis atau status quo. Gontor membuktikan bahwa sistem pendidikan yang modern dan mapan berarti harus ada kesinambungan. Hal ini yang menjadi salah satu dasar didirikannya KMI dan ISID. Sedangkan di Buntet sendiri meskipun belum memiliki perguruan tinggi, namun dari program jangka panjangnya jelas terlihat bahwa keberadaan perguruan tinggi yang bersinergi dengan pesantren adalah keniscayaan.

 

  1. E.       Penutup

Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan nasional di Indonesia, agaknya tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam local genus. Di kalangan umat Islam sendiri, pesantren sedemikian jauh telah dianggap sebagai model institusi pendidikan yang mempunyai keunggulan. Dan, secara ideal pesantren sesungguhnya mengemban fungsi mobilitas sosial pelestarian nilai etik serta pengembangan tradisi intelektual. Sehingga hal ini meniscayakan adanya independensi, interdependensi, otonomi, dan terbebas dari segala macam sekat dan belenggu.

Namun demikian, tak berarti pesantren lepas dari kelemahan. Justru dengan cepatnya perubahan di semua sektor dewasa ini, pesantren menyimpan banyak persoalan yang menjadikannya agak tertatih-tatih, kalau tidak malah kehilangan kreativitas dalam merespon perkembangan zaman. Untuk itu, pesantren dituntut kreatif untuk mempertahankan eksistensinya agar tidak tergerus oleh zaman. Untuk itu, eksistensinya akan selalu ditantang oleh perubahan sebagai sebuah kebutuhan yang mengalami pergeseran nilai. (Riyadi: 2006, 192).

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. F.       Referensi

 

  1. Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005

Abdullah Syukri Zarkasyi, Gontor dan Pembaharuan Pendidikan Pesantren, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005

Ahmad Ali Riyadi, Politik Pendidikan; Menggugat Birokrasi Pendidikan Nasional, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006

Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998

Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3ES, 1988

Nurul Huda, Cakrawala Pembebasan; Agama, Pendidikan, dan Perubahan Sosial, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai,Jakarta:  LP3ES, 1994

http://buntetpesantren.org

http://gontor.ac.id

~ oleh ka uki pada 16 Desember 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: