Resume Buku; FIKIH PENDIDIKAN

RESUME BUKU

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I

Judul                          : FIKIH PENDIDIKAN

Pengarang                : Heri Jauhari Muchtar, Drs.

Penerbit                     : Remaja Rosda Karya, Bandung

Tahun                                    : 2005

Tebal Buku               : 244 hlm + xiv

ISBN                           : 979-692-515-X

 

Berbicara pendidikan adalah berbicara tentang keyakinan, pandangan dan cita-cita tentang hidup dan kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi. Pendidikan tidak dapat dipahami secara terbatas hanya ‘proses pengajaran’mentransfer pengetahuan, melainkan menanam nilai-nilai sikap dan tingkah laku (akhlaq) serta menumbuh-kembangkan kecakapan hidup (life skill) manusia.

Pendidikan merupakan proses pendewasaan dan sekaligus ‘memanusiakan’ manusia. Dengan pendidikan, manusia diharapkan dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan sempurna, sehingga ia dapat melaksanakan tugas sebagai manusia sejati.

Pendidikan pada hakikatnya adalah kerja akal budi atas fitrah yang dibekalkan Tuhan kepadanya. Potensi yang diberikan oleh Tuhan memang masih setengah jadi, sehingga butuh proses pendidikan agar potensi tersebut berkembang maksimal. Dalam Islam, mengenyam pendidikan dipandang sebagai kewajiban personal sepanjang hayat manusia (life long education).

Pendidikan adalah suatu proses untuk mendewasakan manusia. Sedangkan Fiqih hingga kini masih sering dihubungkan atau dikaitkan hanya dalam lingkup ibadah fardhu saja. Padahal sebenarnya fiqih biasa merambah kepada lingkup yang lebih luas lagi. Misalnya pendidikan, ekonomi, sosial, politik, hukum, dan sebagainya.

Buku ‘Fikih Pendidikan’ ini mengemukakan tentang pentingnya kesadaran manusia atas peran dan tugasnya di muka bumi ini. Bila disadari secara benar, cakupan tugas dan kewajiban tersebut memang sangat luas, sehingga tepat buku ini diberi judul dengan ‘fikih pendidikan’.

Hingga kini, istilah ‘fiqih’seringkali dimaknai sebatas urusan ibadah fardlu; shalat, zakat, shaum, dan haji. Padahal, istilah fiqh sebenarnya bisa merambah ke dalam lingkup yang lebih luas lagi, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, politik, hukum, dan sebagainya.

Secara etimologis, kata ‘fiqih’berarti tahu, paham, dan mengerti. Abu Hanifah (ahli hukum Islam Klasik) mendefinisikan sebagai ‘al-ma’rifah’ (pengetahuan) tentang hak dan kewajiban. Beliau juga menandaskan bahwa segala perkara yang berkaitan dengan agama; baik akidah, maupun ibadah dan muamalah adalah fiqih. Jadi, fiqh memuat segala perkara yang tidak saja berkaitan dengan agama (ibadah), melainkan juga bersentuhan dengan urusan sosial (muamalah). Dengan demikian, Fikih pendidikan yang dimaksud dalam buku ini yaitu bagaimana cara memahami pendidikan dalam arti dan lingkup yang lebih luas dan mendalam.

Muchtar dalam buku ini mengemukakan bahwa segala sesuatu yang tergelar di jagat raya ini pasti membutuhkan ilmu, baik ilmu duniawi maupun ukhrawi. Kedua ilmu tersebut harus dikuasai secara seimbang, karena ‘masa depan’ manusia juga ditentukan oleh seberapa jauh manusia menguasainya. Keberhasilan menggapai duniawi maupun ukhrawi akan sangat ditentukan kadar keilmuan yang diraihnya.

Ilmu dalam pendidikan adalah objek utama manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa ilmu dan pendidikan bagaikan dua sisi pada mata uang, keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan. Pendidikan sebagai proses ‘transfer’ ilmu yang umumnya dilakukan melalui tiga cara; lisan, tulisan, dan perbuatan.

Begitu pentingnya kedudukan ilmu, sehingga Islam menganjurkan manusia agar meraihnya sampai titik paripurna ilmu juga dipandang ikut mengiringi atau menentukan nasib baik buruk manusia. Dan pembicaraan ilmu dalam pendidikan fikih ini minimal mencakup tujuh unsur yaitu pendidikan keimanan, etika/akhlak,fisik/jasmani, rasio/akal, kejiwaan/hati nurani, sosial kemasyarakatan, dan seksual.

Fikih pendidikan kata Muchtar, harus dimulai dari pendidikan pribadi atau keluarga, lembaga, dan masyarakat. Ketiganya harus terjalin dan berlangsung secara terpadu, selaras, serasi, seimbang, dan harmonis. Pendidikan tidak akan berfungsi dengan baik bila hanya berjalan parsial. Karenanya dibutuhkan pengelolaan secara integratif dengan memadukan semua unsur yang mendukungnya. Dari sinilah pendidikan akan menghasilkan sosok pribadi yang tangguh.

Pendidikan harus dimulai dari institusi keluarga, sekolah dan masyarakat secara sinkron dan integrated dalam memberikan pengaruh pendidikan kepada anak. Problemnya kini banyak keluarga yang kurang perhatian dan tidak memberikan reference person (suri tauladan) kepada anak. Begitu pula dengan aturan-aturan masyarakat yang sangat longgar sehingga memunculkan pergaulan bebas yang mutatif. Padahal pendidikan keluarga dan masyarakat merupakan pendidikan yang bersifat pembentukan karakter dan tabi’at, ketimbang kognitif.

Selain pembentukan sosok pribadi di atas, tujuan pendidikan diharapkan mampu mencetak manusia berjiwa tauhid (berkedalaman spiritual), beramal shalih (berbuat dengan ilmunya), ulil albab (pemikir), dan berakhlak mulia. Tujuan pendidikan seperti ini sangat dinanti kehadirannya dewasa ini.

Untuk mewujudkan pendidikan yang ideal tersebut diperlukan usaha dan kerja keras serta dukungan dari berbagai pihak, terutama keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Bila perlu, rekonstruksi sistem pendidikan baik secara mikro maupun makro sudah harus dilakukan. Dengan berbekal masa lalu, pengalaman untuk menangani dan menyelesaikan persoalan pendidikan masa kini dan masa yang akan datang butuh penanganan secara lebih serius, matang dan cermat.

Ada lima kelebihan yang dimiliki oleh manusia. Kelebihan pertama, manusia diciptakan Allah dengan bentuk yang paling sempurna. Sebagaimana firman Allah QS. At-Tin ayat 4:

ô‰s)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þ’Îû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Kelebihan kedua, manusia dianugerahi akal oleh Allah. Kelebihan ketiga, manusia dianugerahi nafsu. Kelebihan keempat, manusia dianugerahi Allah berupa hati nurani (qalbu). Kelebihan kelima bagi manusia adalah diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, dalam hal apapun, kecuali takdir Allah.

Kemudian, yang dimaksud pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendidik manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang serta memiliki potensi atau kemampuan sebagaimana mestinya.

Tiga unsur utama yang harus terdapat dalam proses pendidikan, yaitu:

  1. Pendidik
  2. Peserta didik
  3. Ilmu atau pesan yang disampaikan

Selain tiga unsur tadi, ada unsur yang lain sebagai pendukung atau penunjang, yaitu:

  1. Sarana dan prasarana yang memadai
  2. Metode yang menarik
  3. Pengelolaan atau manajemen yang profesional

Materi pendidikan Islam menurut Dr. Abdullah Nasih Ulwan terdiri dari tujuh unsur, yaitu:

  1. Pendidikan Keimanan
  2. Pendidikan Moral
  3. Pendidikan Fisik/Jasmani
  4. Pendidikan Rasio/Akal
  5. Pendidikan Kejiwaan/Hati Nurani
  6. Pendidikan Sosial Kemasyarakatan
  7. Pendidikan Seksual

Secara garis besar, metode pendidikan Islam terdiri dari lima macam, yaitu:

  1. Metode Keteladanan (Uswah Hasanah)

Metode ini merupakan metode yang paling unggul dan paling jitu dibandingkan metode lainnya. Melalui metode ini orang tua, pndidik atau da’i memberi contoh atau teladan terhadap anak/peserta didik bagaimana cara berbicara, bersikap, mengerjakan saesuatu atau cara beribadah, dan sebagainya.

  1. Metode Pembiasaan

Untuk melaksanakan tugas atau kewajiban secara benar dan rutin terhadap anak atau peserta didik diperlukan pembiasaan. Misalnya agar anak atau peserta didik dapat melaksanakan salat lima waktu secara benar dan rutin maka mereka perlu dibiasakan salat sejak kecil.

  1. Metode Nasihat

Memberi nasihat merupakan kewajiban setiap muslim, karena agama itu berupa nasihat dari Allah kepada umat manusia melalui para Nabi dan Rasul-Nya agar mereka hidup bahagia, selamat dan sejahtera di dunia serta di akhirat.

  1. Metode Memberi Perhatian

Metode ini biasanya berupa pujian dan penghargaan. Betapa jarang orang tua atau pendidik memuji atau menghargai peserta didik. Padahal, sebenarnya tidaklah sukar untuk memuji atau menghargai mereka.

  1. Metode Hukuman

Metode ini berhubungan dengan pujian dan penghargaan. Imbalan atau tanggapan terhadap orang lain itu terdiri dari dua, yaitu penghargaan (reward/targhib) dan hukuman (punishment/tarhib). Hukuman diambil sebagai metode pendidikan apabila terpaksa atau tak ada alternatif lain yang bisa diambil.

Salah satu komponen penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan dalam mencapai tujuan adalah ketepatan menentukan metode, sebab tidak mungkin materi pendidikan dapat diterima dengan baik kecuali disampaikan dengan metode yang tepat. Metode  diibaratkan sebagai alat yang dapat digunakan dalam suatu proses pencapaian tujuan, tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efesien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.

Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”, kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Jika metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi Islami, selain itu metode dapat membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan  pendidikan. Alat ini mempunyai dua fungsi ganda, yaitu polipragmatis dan mono pragmatis. Polipragmatis bilamana metode mengandung kegunaan yang serba ganda, misalnya suatu metode tertentu pada suatu situasi kondisi tertentu dapat digunakan membangun dan memperbaiki. Kegunaannya dapat tergantung pada  si pemakai atau pada corak, bentuk, dan kemampuan dari metode sebagai alat, sebaliknya monopragmatis bilamana metode mengandung satu macam kegunaan untuk satu macam tujuan. Penggunaan mengandung implikasi bersifat konsisten, sistematis dan kebermaknaan menurut kondisi sasarannya mengingat sasaran metode adalah manusia, sehingga pendidik dituntut untuk berhati-hati dalam penerapannya.

Metode pendidikan yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses belajar mengajar, sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu metode yang diterapkan oleh seorang guru, baru berdaya guna dan berhasil guna jika mampu dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan. Dalam pendidikan Islam, metode yang tepat guna bila ia mengandung nilai nilai yang intrinsik dan eksrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam.

Dari rumusan-rumusan di atas dapat dimaknai bahwa metode pendidikan Islam adalah berbagai macam cara yang digunakan oleh pendidik agar tujuan pendidikan dapat tercapai, karena metode pendidikan hanyalah merupakan salah satu aspek dari pembelajaran, maka dalam menentukan metode apa yang akan digunakan, harus selalu mempertimbangkan aspek aspek lain dari pembelajaran, seperti karakter peserta didik, tempat, suasana dan waktu .

B. Prinsip Metode Pendidikan Islam

Agar proses pembelajaran tidak menyimpang dari tujuan pendidikan Islam, seorang pendidik dalam meggunakan metodenya harus berpegang kepada prinsip-prinsip yang mampu mengarahkan dan kepada tujuan tersebut. Dengan berpegang kepada prinsip-prinsip tersebut, seorang pendidik diharapkan mampu menerapkan metode yang tepat dan cocok sesuai dengan kebutuhannya.

Dengan berlandaskan kepada ayat-ayat al-Quran dan al-Hadis, M. Arifin menetapkan sembilan (9) prinsip yang harus dipedomani dalam menggunakan metode pendidikan Islam, kesembilan prinsip tersebut adalah: prinsip memberikan suasana kegembiraan, prinsip memberikan layanan dengan lemah lembut, prinsip kebermaknaan, prinsip prasyarat, prinsip komunikasi terbuka, prinsip pemberian pengetahuan baru, prinsip memberikan model prilaku yang baik, prinsip pengamalan secara aktif, prinsip kasih sayang

C. Metode Pendidikan Islam

Sebelum Nabi Muhammad SAW. memulai tugasnya sebagai Rasul, yaitu melaksanakan pendidikan Islam terhadap umatnya, Allah SWT. telah mendidik dan mempersiapkannya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna, melalui pengalaman, pengenalan serta peran sertanya dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan budayanya, dengan potensi fitrahnya yang luar biasa.

Dalam diri Nabi Muhammad SAW., seolah-olah Allah SWT. telah menyusun suatu metodologi pendidikan Islam yang sempurna, suatu bentuk yang hidup dan abadi selama sejarah kehidupan manusia masih berlangsung. Berbagai kepribadian terpuji terkumpul di dalam satu pribadi, yang masing-masing melengkapi bagian-bagian lain, seakan-akan pribadi itu sesuatu yang mempunyai banyak sisi yang berbeda, kemudian dipertautkan menjadi suatu benda yang lebih luas, tersusun rapi menjadi suatu lingkaran yang sangat sempurna dengan unsur-unsur pribadi yang disusun dengan baik dan teratur.

Sebagai manusia pilihan yang sudah dipersiapkan oleh Allah SWT. untuk menyampaikan risalah Islam, tentu saja dalam melaksanakan tugas tersebut selalu berada di bawah pengawasan dan bimbinganNya, akan tetapi sebagai manusia biasa yang diberikan akal, hati dan indra lainnya, Rasulullah SAW. adalah manusia yang sangat cerdas, kreatif, inovatif dalam menyampaikan risalah Islam yang sekaligus sebagai materi dari pendidikan yang menjadi tugas utama Nabi.

Sebagai pribadi, Rasulullah SAW. memiliki kepribadian dan nilai-nilai kepemimpinan serta pola manajemen yang baik, sehingga strategi pembelajaran Rasulullah SAW. dapat dilaksanakan dan berhasil dengan baik. Tidak dapat dipungkiri, bahwa Rasulullah SAW. adalah seorang Rasulullah yang tentunya berbeda dengan manusia biasa yang segala sikap dan tingkah laku serta perbuatannya sangat dipengaruhi bahkan selalu dalam bimbingan wahyu. Tetapi sebagai manusia, Rasulullah memang telah memiliki kepribadian yang terpuji sehingga beliau memperoleh predikat “al-amin” artinya yang jujur, begitupun dengan kemampuan beliau sebagai seorang pemimpin dan kombinasi dari kemampuan dan sikapnya yang mulia serta didukung oleh bimbingan Allah SWT. yang terus menerus, pembelajarannya dapat berhasil dengan baik.

Berdasarkan Hadis-Hadis yang ada, dalam kontek pembelajaran, Nabi Muhammad SAW. sangat kaya dengan  strategi dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikannya, sehingga tujuan pendidikan yang dikehendaki dapat tercapai dengan baik. Beberapa strategi pembelajaran yang dilakukan oleh  Nabi Muhammad SAW. antara lain :

 1.      Mendidik dengan Contoh Teladan

Nabi Muhammad SAW. Merepresentasikan dan mengekspresikan apa yang ingin diajarkan melalui tindakannya, dan kemudian menerjemahkan tindakannya ke dalam kata-kata. Bagaimana memuja Allah SWT., bagaimana bersikap sederhana, bagaimana duduk dalam shalat dan do’a, bagaimana sujud dengan penuh perasaan, bagaimana tunduk, bagaimana nangis kepada Allah SWT. di tengah malam, bagaimana makan, bagaimana tertawa, bagaimana berjalan- semuanya itu dilakukan oleh Rasulullah SAW. Seluruh perilaku Rasulullah SAW. tersebut  kemudian menjadi acuan bagi para sahabat sekaligus merupakan materi pendidikan yang tidak langsung.

Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah salah satu strategi pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya, hal ini sudah dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW.  Sebagai hasilnya, apapun yang diajarkan dapat diterima dengan segera dari dalam keluarga dan oleh masyarakat pengikutnya, karena ucapannya menembus ke hati mereka.  Segala yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam kehidupannya merupakan cerminan kandungan al-Qur’an secara utuh, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Ahzab: 21.

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ

 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Beberapa prilaku Nabi Muhammad SAW. yang menjadi “uswah hasanah” antara lain :

a.      Tentang Kesederhanaan Nabi Muhammad SAW.

Dalam kedudukannya seperti itu, Nabi Muhammad SAW. tidak pernah menganggap dirinya lebih besar dan lebih hebat dibandingkan dengan orang lain, ia tidak gila penghormatan dari orang lain, ia hidup dan berpakaian seperti orang paling miskin, ia duduk dan makan bersama-sama dengan masyarakat (termasuk budak dan hamba sahaya), tidurnya beralaskan tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma, sehingga ketika ia bangun dari tidurnya masih nampak goresan-goresan tikar di pipinya.

Kerendahan hati adalah salah satu sifat teragung Nabi Muhammad SAW. Dia mencapai derajat tertinggi setiap harinya, dia terus bertambah rendah hati dan tunduk kepada Allah SWT. Satu ketika Nabi Muhammad menggambarkan tentang bagaimana seharusnya seorang beriman hidup di dunia, dalam kata-katanya yang sangat pendek namun penuh makna, seperti Hadis riwayat Ahmad, Muslim dan Turmuzi dari Abu Hurairah berikut ini :

Dunia itu penjara bagi orang yang beriman dan syurga bagi orang kafir”

Nabi Muhammad SAW. tidak pernah tergoda untuk hidup bersenang-senang di dunia ini, ia telah mewakafkan seluruh kehidupannya untuk mengajak orang lain kembali kepada jalan yang benar, keyakinan bahwa dunia bersifat sementara untuk menuju kehidupan yang abadi di akhirat ia wujudkan dalam gaya hidup kesehariannya, sehingga Rasulullah SAW. benar-benar telah memberikan ketauladanan dalam kesederhanaan hidup di dunia ini.

 b. Tentang  Kedermawanan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW. selama hayatnya dikenal sebagai manusia yang sangat dermawan, ia suka memberikan apa saja yang dimilikinya, dia ikut dalam berdagang sampai ia menjadi Nabi dan mendapatkan banyak harta kekayaan, setelah itu dia dan isterinya membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT, sehingga ketika Hadijah istrinya meninggal dunia, tidak ada uang untuk membeli kain kafan. Rasulullah harus meminjam uang untuk biaya pemakaman istrinya.

Rasulullah SAW. diutus untuk membimbing manusia menuju kebenaran, karenanya ia menghabiskan hidup dan hartanya untuk tujuan tersebut. Jika ia mau, Rasulullah SAW. dapat menjadi orang terkaya di Mekkah, tetapi dia tidak pernah berpikir untuk diri sendiri, yang selalu ia pikirkan adalah umatnya. Rampasan perang yang diperolehnya tidak pernah dikuasai untuk kepentingannya, bahkan yang menjadi haknyapun diberikan kepada orang lain.

Rasulullah SAW. selalu memberi kepada setiap orang yang meminta kepadanya, ia tidak pernah mengatakan tidak kepada siapa saja yang membutuhkan pemberiannya, bahkan ketika ada yang meminta sesuatu dan Rasulullah SAW. dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, Rasulullah SAW. memberikan janji untuk memberi permintaan tersebut jika dirinya sudah memiliki

Rasulullah SAW. juga  selalu memberikan keyakinan kepada para sahabat, bahwa sifat dermawan tidak akan menyebabkan diri menjadi miskin, karena sesungguhhnya kekayaan yang paling berharga adalah  kekayaan yang dinafkahkan di jalan Allah SWT. seperti Nabi pernah bersabda kepada Bilal, karena Bilal menyimpan persediaan makanan, dengan dasar takut tidak ada makanan dikemudian hari.

 “Bersedekahlah hai Bilal, jangan engkau takut dari (Allah) yang mempunyai Arsy menjadi berkekurangan (miskin)”

Dalam hal kedermawanan, Rasulullah SAW. benar-benar telah memberikan suri tauladan yang dapat dipedomani, sehingga ketika beliau menganjurkan orang lain agar mau bersodaqah dan memiliki sifat pemberi, sesungguhnya beliau telah mencontohkan  dalam kehidupannya sehari-hari.

 c. Tentang tertawa Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW. tidak saja menjadi contoh dalam persoalan-persoalan yang besar, tetapi dalam hal-hal yang dianggap tidak begitu penting oleh sebagian besar manusia, Rasulullah SAW. tetap saja merupakan sosok yang patut diteladani. Dalam berbagai riwayat diceritakan bahwa Rasulullah SAW. adalah sosok manusia yang tidak pernah tertawa terbahak-bahak seperti layaknya kebanyakan orang, apabila menemui sesuatu yang lucu atau dalam keadaan gembira suka tertawa terbahak-bahak dalam waktu yang cukup lama, sampai-sampai sakit perutnya karena tertawa tersebut.

Rasulullah SAW. tidak pernah tertawa kecuali terseyum, senyum Rasulullah SAW. sangat mempesona, penuh dengan makna dan menjadikan dirinya semakin berkharisma, jika ia terlanjur tertawa maka Rasulullah segera menutupkan tangan ke mulutnya.Diriwayatkan oleh Ahmad dari  Jabir ibn Samurah ra. ia berkata :

 

“Adalah Rasulullah SAW. Itu lama diamnya, sedikit tertawanya”

 

d.  Senda Gurau Nabi Muhammad SAW.

Sebagai manusia biasa yang bergaul dengan masyarakat luas, Rasulullah SAW. tidak bisa melepaskan diri untuk tidak menyesuaikan suasana kehidupan bermasyarakat. Nabi Muhammad SAW. bukanlah seorang pemimpin yang kaku dan serba formal dalam bergaul, justru sebaliknya ia dapat hidup dengan sangat luwes dengan berbagai kalangan. Salah satu warna kehidupan bermasyarakat adalah suasana rileks dengan bersenda gurau, dalam hal demikian Nabi Muhammad SAW. ternyata pandai bersenda gurau, bahkan gurauan Nabi Muhammad SAW. adalah gurauan yang penuh dengan makna pendidikan.

Diriwayatkan oleh Al-Turmuzi dari Hasan al-Bisri, ia berkata : ”pada suatu hari ada seorang perempuan tua datang menghadap kepada Nabi lalu berkata; ”Ya Rasulallah, mohonkanlah kepada Allah, supaya Dia memasukan aku ke dalam sorga.”, mendengar permohonan itu, beliau bersabda    ”hai ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh seorang perempuan tua”. Perempuan itu lalu berpaling dan menangis, oleh karenanya Nabi mengerti bahwa perempuan tadi salah mengerti terhadap perkataan beliau, maka beliau memerintahkan kepada para sahabat (yang kebetulan ada waktu itu):

Beritahukanlah olehmu pada perempuan itu, sesungguhnya ia tidak akan masuk surga, karena ia seorang perempuan tua, karena Allah berfirman: bahwa sanya Kami menjadikan mereka (para perempuan) itu  dengan kejadian yang baru ; maka Kami menjadikan mereka itu gadis-gadis remaja putri, berkasih-kasihan dengan suami serta bersamaan usia”

Rasulullah adalah seorang yang bersifat ramah, sewaktu-waktu ia bersenda gurau dengan orang disekelilingnya, akan tetapi senda gurau Rasulullah adalah, tidak hanya sekedar melucu yang menyebabkan pendengarnya tertawa terbahak bahak, melainkan dalam senda gurau itu terdapat pesan-pesan kebenaran sebagai mana sabdanya

“Bahwasanya aku, sekalipun suka bersenda gurau dengan kamu, tetapi aku tidak akan berkata melainkan yang benar” (HR. Turmuzi dari Abi Hurairah ra.)

Biasanya para raja dan para pemimpin besar yang sangat dihormati dan disegani orang banyak, tidaklah meraka suka tertawa dan bergura dengan rakyat atau orang yang di bawah pimpinannya, karena untuk menjaga kehormatan dan kehebatannya, tetapi Nabi Muhammad SAW. sebagai pemimpin umat yang hakiki, tidaklah demikian, beliau tidak khawatir  akan hilangnya kehormatan dan kehebatan dirinya lantaran tertawa dan senda gurau itu. Bahkan senda gurau yang bersih, yang benar, yang pantas dan yang sopan itu menambahkan keeratan perhubungan beliau dengan para sahabatnya.

e. Pergaulan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW. adalah manusia ideal  yang patut dijadikan teladan dalam segala hal. Sebagai seorang pemimpin ia tidak pernah menyombongkan diri walaupun kepada orang yang lebih rendah darinya. Dalam pergaulan, Nabi Muhammad SAW. tidak pernah membedakan orang lain dari kedudukannya, ia memberikan penghormatan kepada semua orang, ia menghargai pendapat semua orang, ia bebicara lemah lembut kepada semua orang, baginya kemuliaan orang itu hanya akan dibedakan dihadapan Allah SWT.

Dalam pergaulan dengan orang lain, Nabi Muhammad SAW. tidak pernah mengucapkan perkataan-perkataan yang kurang sedap didengar dan mungkin menyinggung perasaan orang lain. Seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas ibn Malik ra., ia berkata:

 

“Aku melayani Rasulullah SAW., dalam waktu sepuluh tahun, demi Allah sekali kali beliau belum pernah berkata kepadaku :”uff” dan tidak pula beliau pernah berkata kepadaku yang ku kerjakan; “mengapa kamu mengerjakan demikian dan mengapa kamu tidak mengerjakan demikian?”

Hadis di atas sebagai bukti bahwa Rasulullah SAW. tidak pernah menyakiti orang lain dengan perkataannya, sekalipun kepada orang yang lebih rendah daripadanya, Anas ibn Malik merasa sangat tersanjung, karena  Rasulullah SAW. tidak pernah mencela pekerjaannya.

 2. Mendidik dengan Targhib dan Tarhib

Kata targhib berasal dari kata kerja ragghaba yang berarti; menyenangi, menyukai dan mencintai, kemudian kata itu diubah menjadi kata benda targhib yang mengandung makna “:suatu harapan untuk memperoleh kesenangan, kecintaan dan kebahagiaan. Semua itu dimunculkan dalam bentuk janji-janji berupa keindahan dan kebahagiaan yang dapat merangsang/mendorong seseorang sehingga timbul harapan dan semangat untuk memperolehnya. Secara psikologi, cara itu akan menimbulkan daya tarik yang kuat untuk menggapainya. Sedangkan istilah tarhib berasal dari kata rahhaba yang berarti; menakut nakuti atau mengancam. Lalu kata itu diubah menjadi kata benda tarhib yang berarti; ancaman hukuman.

Untuk kedua istilah itu, Al-Nahlawi mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan  yang membuat senang terhadap suatu yang maslahat, terhadap kenikmatan atau kesenangan  akhirat yang baik dan pasti serta suka kepada  kebersihan dari segala kotoran, yang kemudian diteruskan dengan melakukan amal saleh dan menjauhi kenikmatan selintas yang mengandung bahaya dan perbuatan buruk. Sementara tarhib ialah suatu ancaman atau siksaan sebagai akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dilarang Allah SWT., atau akibat lengah dalam menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW. dalam rangka menyampaikan pendidikan kepada masyarakat terkadang dengan ungkapan yang bersifat  pemberian rangsangan (targhib) atau dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat ancaman (tarhib), kedua sifat ungkapan ini dilakukan oleh Rasulullah SAW. semata-mata sebagai sebuah strategi, agar pesan-pesan pendidikan dapat sampai kepada obyek pendidikan.

Beberapa bentuk dari targhib dan tarhib yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. antara lain adalah:

a.      Bentuk-bentuk Targhib (rangsangan)

1)   Rangsangan untuk mau menolong antar sesama

Hadis riwayat Muslim dari Abu Qatadah ;

“ Barang siapa yang ingin diselamatkan Allah dari kesulitan kesulitan hari kiamat, maka hendaklah dia meringankan beban orang yang susah, atau mengapus utangnya”.

 2)   Rangsangan agar mau selalu beribadah

Hadis riwayat Imam Ahmad, Muslim, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Tsauban dan Abu Darda.

“hendaklah kamu banyak sujud kepada Allah, sebab tidaklah kamu sujud satu kali sujud kepada Allah, kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapusnya dari kamu satu kesalahan”

3)   Rangsangan untuk bersikap sabar

Hadis riwayat Imam Ahmad, Muslim, Tirmizi dari Abu Hurairah

“Sederhanalah dan berlaku luruslah, maka di dalam setiap musibah yang menimpa seseorang muslim adalah kafarah (penebus dosa) sampai kepada sebuah petaka yang menimpanya atau sebuah duri yang menusuknya”

4)   Rangsangan untuk beramal kebaikan

Hadis riwayat Bukhari dari Ma’qal ibn Yassar ra.

“Barang siapa menyingkirkan duri dari jalan dituliskan kebaikan baginya dan barang siapa diterima daripadanya suatu kebaikan niscaya dia masuk surga”

 5)   Rangsangan untuk selalu bekerja keras

Hadis riwayat Imam Ahmad dan Thabrany dari Abu Darda ra.

“Barang siapa menanam bibit tanaman (sekalipun) yang tidak dimakan oleh manusia dan tidak pula oleh makhluk Allah melainkan Allah menuliskan sedekah untuknya”

 

Dari beberapa ucapan Rasulullah SAW. di atas, sangat terlihat usaha Rasulullah SAW. untuk dapat membangkitkan semangat berbuat kebaikan bagi setiap manusia.

 b.   Bentuk-bentuk Tarhib (Ancaman)

 1) Ancaman bagi orang yang sombong

 

 “Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak menghormati yang besar”

 2) Ancaman bagi orang yang bersumpah palsu

Hadis riwayat Imam Ahmad dari Ahnaf ibn Qais ra.

“ Sesungguhnya tidalah seorang hamba atau seorang laki-laki memotong (mengambil) harta orang lain dengan sumpahnya, melainkan dia akan menemui Allah nanti pada hari yang dia menemuiNya  dalam keadaan terpotong (cacat tubuhnya)”.

3) Ancaman bagi yang memfitnah

Hadis riwayat Buhari Muslim dari Hudzaifah ra.

 “ Tidak akan masuk sorga seorang yang memfitnah (mengadu-adu)”

 4) Ancaman bagi yang berlaku zalim

Hadis riwayat Abd ibn Humaid dari Sa’id al-Khudri ra.

“ Wahai manusia, taqwalah kalian kepada Allah, demi Allah tidaklah seorang mukmin berlaku zalim kepada mukmin yang lain, melainkan Allah akan menyiksanya pada hari kiamat.

Ucapan-ucapan Rasulullah SAW. di atas menggambarkan, betapa Rasulullah SAW. berusaha untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan ancaman. Metode dengan ancaman perlu dilakukan, mengingat bahwa manusia memiliki tingkat kesadaran yang berbeda-beda. Ada orang yang sudah tersadarkan dan mau berbuat hanya dengan sebuah nasihat, tetapi ada tipe orang yang tidak bisa tersadarkan dan tidak mau berbuat sesuatu kecuali setelah ia memperoleh rangsangan (motivasi) atau memperoleh ancaman.

3. Mendidik dengan Perumpamaan  (Amtsal)

Perumpamaan dilakukan oleh Rasulullah SAW. sebagai salah satu strategi pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada obyek sasaran materi pendidikan semudah mungkin, sehingga kandungan maksud dari suatu materi pelajaran dapat dicerna dengan baik, strategi ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit.

Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah SAW. sebagai salah satu strategi pembelajaran selalu syarat dengan makna sehinga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna  menjadi sesuatu yang sangat jelas.

Beberapa contoh pendidikan Rasulullah SAW. yang menggunakan perumpamaan sebagai salah satu strateginya, antara lain sebagai berikut :

 a.  Perumpamaan orang bakhil dan dermawan

Hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra.

 “Rasulullah SAW. telah memberikan contoh perumpamaan orang yang bakhil dan orang dermawan, bagaikan dua orang yang memakai jubah (baju) besi yang berat bagian tangan ke teteknya dan tulang bahunya, maka yang dermawan tiap ia bersedekah makin melebar bajunya itu sehingga dapat menutupi hingga ujung jari kakinya dan menutupi bekas-bekas kakinya, sedang si bakhil jika ingin sedekah mengkerut dan tiap pergelangan makin seret dan tidak berubah dari tempatnya. Abu Hurairah berkata; Saya telah melihat Nabi SAW. ketika mencontohkan dengan tangannya keadaan bajunya dan andaikan ia ingin meluaskannya tidak dapat”

b.  Perumpamaan orang yang suka memberi dan suka meminta

Hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abdullah ibn Umar ra.

“ Ketika Nabi berkhutbah di atas mimbar dan menyebut sedekah dan minta-minta, maka bersabda; Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah, tangan yang di atas itu yang memberi dan yang di bawah yang meminta”

c.   Perumpamaan Kawan baik dan jelek

Hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abu Musa ra.

 “Perumpamaan duduk dengan orang baik-baik dibandingkan dengan duduk beserta orang-orang, bagaikan pemilik kasturi dengan dapur tukang besi; Engkau tidak akan lepas dari pemilik kasturi , adakalanya engkau membeli kasturi itu atau sekurang-kurangnya mencium baunya. Sedangkan dapur tukang besi membakar tubuhmu atau sekurang-kurangnya engkau mencium bau busuk”

 

Ketika Rasulullah SAW. memperagakan dengan baju yang dikenakannya untuk mengumpamakan antara orang  dermawan dengan orang yang bakhil akan sangat mudah dipahami oleh orang yang mendengar dan melihat, karena perumpamaannya sangat konkrit (sudah dikenal), pesan ini tentu saja diarahkan agar manusia menjadi orang dermawan, karena dengan sifat dermawan itulah Allah SWT. akan memberikan balasan, sebaliknya sifat bakhil hanya akan mempercepat kemiskinan.

Dalam memberikan pendidikan untuk mengarahkan agar manusia senantiasa berteman dengan orang-orang yang shalih, Rasulullah mengumpamakan bahwa bergaul dengan orang shalih bagaikan orang yang membawa minyak kasturi, artinya selalu wangi (orang yang bergaul dengan orang yang shalih akan terbawa nama baiknya) dan akan timbul sifat saling memberi dan menolong. Sedangkan orang yang jahat diumpamakan dengan pandai besi (jika tidak mempengaruhi kejahatannya paling tidak akan terbawa dengan identitas jeleknya).

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua orang dapat melakukan analisa seperti yang dilakukan oleh Najib Khalid di atas, karena kemampuan orang dalam menangkap pesan-pesan sangat tergantung kepada kecerdasannya, akan tetapi tanpa melakukan analisa seperti yang dilakukan Najib Khalid sekalipun perumpamaan yang diberikan oleh Rasulullah SAW. sangat bisa dipahami oleh umat manusia walaupun hanya garis besarnya saja.

Perumpamaan-perumpamaan yang diberikan oleh Rasulullah SAW. jika dimaknai dengan kesungguhan akan banyak ditemukan kandung hikmah  yang sangat dalam, sehingga kalimat-kalimat singkat dan sederhana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. tersebut mengandung banyak makna tetapi dapat dicerna dengan baik oleh siapapun yang mendengarkannya.

4. Mendidik dengan Nasihat

Nabi Muhammad SAW. sering sekali kedatangan masyarakat dari berbagai kalangan, mereka datang kepada Nabi Muhammad SAW.  khusus untuk meminta nasihat tentang berbagai hal,  siapa saja yang datang untuk meminta nasihat kepada Rasulullah SAW., beliau selalu memberikan nasihat sesuai dengan permintaan, selanjutnya nasihat tersebut dijadikan pegangan dan landasan dalam kehidupan mereka.

Dari banyak peristiwa tentang pemberian nasihat Nabi Muhammad SAW. kepada yang meminta nasihat (seperti tersebar dalam beberapa buku Hadis), penulis kemukakan beberapa contoh pembelajaran Nabi melalui nasihat antara lain sebagai berikut :

a.   Nasihat tentang menjaga amanat

Hadis riwayat  Bukhari , Abu Dawud, Al-Tirmizi dari Abu Hurairah

Tunaikan amanat itu untuk orang yang memberi kepercayaan kepadamu dan jangan engkau khianat terhadap orang yang telah berkhianat kepadamu “

 

Amanat adalah hak yang wajib dipelihara dan disampaikan kepada yang berhak menerimanya, memelihara amanat buah dari iman, jika iman berkurang, berkurang juga amanat, menunaikan amanat hukumnya wajib. Sebaliknya khianat hukumnya haram sekalipun terhadap yang mengkhianati kita, hal ini menunjukan bahwa kita terlarang bekerjasama dengan cara saling mengkhianati. Betapa Rasulullah SAW. memperhatikan persoalan amanah ini, hingga dalam kesempatan lain beliau bersabda yang menegaskan bahwa orang yang tidak melaksanakan amanah dengan benar termasuk salah satu ciri orang munafiq.

b.   Nasihat tentang memelihara ucapan

Hadis riwayat Ibnu Asakir dari Sha’sha’ah ibn Najiyah ra.

 

 “Kendalikanlah lidahmu“

 

Nasihat ini diberikan kepada Haris, ketika Haris bertanya perihal yang dapat memeliharanya, lalu Nabi menjawab seperti bunyi Hadis di atas. Lidah atau ucapan jika tidak dikendalikan dengan baik bisa menjadi masalah dalam kehidupan seseorang, sehingga hal ini termasuk yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW. dalam Hadis yang lain Rasulullah SAW. berpesan, jika kita tidak dapat berkata-kata yang bermanfaat lebih baik diam. Artinya, hendaklah setiap perkataan yang keluar dari mulut seseorang dapat bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, sehingga dengan perkataannya itu ia terpelihara, sebaliknya orang akan celaka jika tidak mampu menguasai lidahnya, sepeti kata seorang bijak “lidahmu adalah harimaumu yang sewaktu-waktu siap menerkam dirimu sendiri”

c.   Nasihat tentang kesadaran akan dosa

Hadis riwayat al-Turmuzi dari Uqbah ibn Amir

 

“Kuasailah lidahmu, lapangkanlah rumahmu, dan menangislah atas kesalahanmu”

 

Nasihat ini diberikan oleh Rasulullah SAW. kepada Uqbah ibn Amir ketika ia bertanya tentang arti keselamatan, lalu Nabi Muhammad SAW. menjawab seperti Hadis di atas. Menguasai lidah berarti mengendalikannya sehingga tidak membawa kepada kecelakaan, menjauhi fitnah dan menangis penuh penyesalan karena dosa yang dilakukan, karena Allah SWT. menyukai orang-orang yang bertaubat.

Banyak di antara manusia yang bisa berubah perilakunya dari yang kurang baik kepada prilaku yang lebih baik hanya karena ia mendengarkan nasihat, apalagi nasihat tersebut ia minta niscaya akan benar-benar dipedomani. Jika diamanati nasihat-nasihat Rasulullah SAW. di atas sangat pendek dan ringkas namun menunjukan kelugasan, sehingga penerima nasihat tidak perlu menafsirkan ucapan-ucapan Rasulullah SAW. tersebut. Kalimatnya pendek namun jelas tertuju kepada suatu masalah, seperti masalah pentingnya menjaga amanat, masalah bagaimana berbicara yang baik, masalah budi pekerti, masalah penyadaran akan dosa-dosa, semua disampaikan oleh Rasulullah SAW. dengan tidak bertele-tele.

5. Mendidik dengan cara memukul

Dalam hal tertentu, khususnya untuk membiasakan mengerjakan shalat bagi setiap muslim sejak dini, Rasulullah SAW. menganjurkan kepada setiap orang tua untuk menyuruh (dengan kata-kata) kepada setiap anaknya, ketika mereka berusia tujuh tahun  agar mau melaksanakan ibadah shalat, selanjutnya Rasulullah SAW. menganjurkan jika anak pada usia sepuluh tahun belum mau melaksanakan shalat maka pukullah ia.

Perintah memukul ini mengandung makna yang sangat dalam, mengingat Rasulullah SAW. sendiri dalam kontek pendidikan, tidak pernah memukul (dengan tangan) selama hidupnya. Perintah ini hanyalah menunjukan ketegasan Rasulullah SAW. untuk menanamkan kebiasaan positif  yang harus dimulai sejak anak-anak. Hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud dari Amir ibn Syuaib dari ayahnya dari kakeknya berkata ;

 

 “Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat di kala mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena mereka tidak mengerjakannya di kala mereka berumur 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya”

 

Memukul dalam hal ini tidak dilandasi oleh emosional dan kemarahan, tetapi sebaliknya memukul dalam konteks Hadis di atas harus dilandasi dengan kasih sayang, keikhlasan dan dengan tujuan semata-mata karena Allah SWT. Dalam peristiwa yang lain (bukan dalam hal shalat) Rasulullah SAW. bersabda; bahwa sebaiknya  pukulan itu dilakukan tidak berkali-kali, bahkan cukup satu kali saja. Hadis riwayat Bukhari dari Anas ibn Malik ra.

 

“ … Sesungguhnya kesabaran itu ketika pukulan pertama”

 Rasulullah SAW. sangat berhati-hati dalam setiap perkataannya, sehingga setiap orang yang mendengarkan sabdanya tidak salah dalam menafsirkan, dalam persoalan “memukul” Rasulullah SAW. membedakan antara pukulan dengan maksud pendidikan shalat (seperti Hadis di atas) dengan pukulan pada hukuman yang memang seharusnya dilakukan, seperti bunyi Hadis berikut ini. Hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abu Burdah ra., bahwa Nabi bersabda

“Tidak boleh dipukul dari sepuluh kali kecuali dalam had yang telah ditentukan hukum had oleh Allah SWT.”

 

Rasulullah SAW. tidak bermaksud “memukul” untuk menyakiti, karenanya beliau tidak memperkenankan memukul di bagian-bagian vital seperti muka, kepala dan dada. Sikap Rasulullah SAW. ini terbukti ketika dalam sebuah peristiwa perang terjadi perkelahian yang saling memukul muka (pipi), Rasulullah SAW.  sangat khawatir dengan pemandangan itu kemudian  bersabda :

“Apakah kau biarkan tangannya dimulutmu dan kau pecahkan dia seperti memecahkan kepala binatang” (H.R. al-Thahawi dan ‘Atha dari Shafwan ibn Ya’la ibn Umayah)

 

Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa perintah “memukul” hanya dalam masalah shalat, hal ini menggambarkan bahwa shalat adalah salah satu ibadah yang paling pokok dan tidak boleh diabaikan seperti juga sabda beliau bahwa

 

“Shalat itu merupakan tiang agama, barang siapa yang telah medirikan shalat maka ia telah mendirikan agama dan barang siapa yang meninggalkan shalat maka ia telah menghancurkan agama”.

 

Di sisi lain hal ini juga menggambarkan ketegasan Rasulullah SAW. dalam menerapkan kebiasaan beribadah sejak dini. Dari beberapa ucapan Rasulullah SAW. berkenaan dengan “memukul”, dapat juga dimaknai bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW. tidak menghendaki pemukulan itu terjadi pada diri anak, ucapan ini hanyalah merupakan ancaman, karena dalam konteks pendidikan ada tipe anak yang memerlukan ancaman  agar dapat melaksanakan perintah tentang kebenaran. Rasulullah SAW. adalah sosok manusia yang tegas dalam kata-kata dan lembut dalam perbuatan, walaupun ia menyuruh memukul, di sisi lain tidak ditemukan bukti-bukti bahwa Rasulullah SAW. pernah melakukan pemukulan terhadap peserta didiknya. Bukti-bukti yang ada justru menerangkan betapa Rasulullah SAW. memiliki perilaku yang lemah lembut dan dengan cara-cara yang baik dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Jangankan pemukulan yang melukai, menyinggung perasaan dengan kata-kata saja beliau tidak pernah melakukannya.

Buku ini mengungkapkan idealitas yang boleh dikata masih dalam tataran normatif. Walaupun begitu, tetap saja cukup penting untuk dicerna dan ditelaah secara mendalam. Belajar atau berilmu memang tiada batas, dan kehadiran buku ini sebagai memicu kita agar mau berilmu.

~ oleh ka uki pada 16 Desember 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: