SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI KESULTANAN SAMBAS

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI KESULTANAN SAMBAS

Oleh; Syukri Rifai

Sejarah Ringkas Kesultanan Sambas

Kesultanan Sambas adalah kesultanan yang terletak di wilayah pesisir utara Propinsi Kalimantan Barat atau wilayah barat laut Pulau Borneo (Kalimantan) dengan pusat pemerintahannya adalah di Kota Sambas sekarang. Kesultanan Sambas adalah penerus dari kerajaan-kerajaan Sambas sebelumnya. Kerajaan yang bernama Sambas di Pulau Borneo atau Kalimantan ini telah ada paling tidak sebelum abad ke-14 M sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Negara Kertagama karya Prapanca. Pada masa itu Rajanya mempunyai gelaran “Nek” yaitu salah satunya bernama Nek Riuh. Kemudian awal abad ke-16 M (1530 M) datang serombongan besar Bangsawan Jawa (sekitar lebih dari 500 orang) yang diperkirakan adalah Bangsawan Majapahit yang masih Hindu melarikan diri dari Pulau Jawa (Jawa bagian timur) karena ditumpas oleh pasukan Kesultanan Demak dibawah Sultan Demak ke-3 yaitu Sultan Trenggono.

Pada masa Ratu Sapudak untuk pertama kalinya diadakan kerjasama perdagangan dengan VOC yaitu pada tahun 1609 M. Pada masa Ratu Sapudak ini jugalah rombongan Sultan Tengah (Sultan Sarawak ke-1) bin Sultan Muhammad Hasan (Sultan Brunei ke-9) datang dari Kesultanan Sukadana ke wilayah Sungai Sambas dan kemudian menetap di wilayah Sungai Sambas ini. Anak laki-laki sulung Sultan Tangah yang bernama Sulaiman kemudian dinikahkan dengan anak bungsu Ratu Sapudak yang bernama Mas Ayu Bungsu sehingga nama Sulaiman kemudian berubah menjadi Raden Sulaiman. Raden Sulaiman inilah yang kemudian setelah keruntuhan Panembahan Sambas di Kota Lama mendirikan Kerajaan baru yaitu Kesultanan Sambas dengan Raden Sulaiman menjadi Sultan Sambas pertama bergelar Sultan Muhammad Shafiuddin I yaitu pada tahun 1671 M.[1]

Dengan demikian, sejarah tentang asal usul Kesultanan Sambas tidak bisa terlepas dari Kesultanan Brunei Darussalam. Pada abad ke-13, di Negeri Brunei Darussalam, bertahta seorang Raja yang bergelar Sri Paduka Sultan Muhammad Shah/Awang Alak Betatar. Sultan Muhammad Shah ini merupakan Raja Brunei pertama yang memeluk Islam, Sultan Brunei ke-1. Pada akhir abad ke-14 M (sekitar tahun 1398 M) datang di Kesultanan Brunei pada masa Sultan Achmad ini seorang pemuda Arab dari negeri Thaif (dekat Kota Suci Makkah) yang bernama Syarif Ali.

Syarif Ali ini adalah mantan Amir Makkah (semacam Sultan Makkah) yang melarikan diri dari Makkah melalui Thaif menyusul terjadinya perebutan kekuasaan Tahta Amir Makkah dengan saudara sepupunya yang kemudian membuat ia melarikan diri ke Aden, Yaman terus pergi ke India Barat, terus ke Johor lalu ke Kesultanan Brunei. Sejak saat itu pengaruh Syarif Ali di Kesultanan Brunei semakin kuat seiring dengan kuatnya antusiasme masyarakat Brunei saat itu dalam mempelajari Islam sehingga kemudian diangkatlah Syarif Ali sebagai Sultan Brunei ke-3 menggantikan Sultan Achmad (Sultan Brunei ke-2) dengan gelar Sultan Syarif Ali.[2]

Arsitektur Islami Kesultanan Sambas

Peninggalan Kesultanan Sambas yang masih bisa dinikmati adalah istana, masjid, gapura, pendopo, dan lapangan terbuka. Semua bangunan itu berada dalam satu lokasi yang tertata rapi. Hamparan tanah lapang tampak indah dengan barisan pohon palem, aneka bunga, dan rerumputan hijau. Istana didirikan oleh Sultan Sambas XV, Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin, pada tahun 1933, menggantikan bangunan istana lama yang dibangun oleh Sultan Bima pada tahun 1632.

Antara daratan di atas Sungai Sambas dan halaman istana dibatasi gapura pertama yang didominasi warna kuning. Ini adalah warna khas Melayu yang mencerminkan keluhuran budi pekerti. Sedangkan atap gapuranya bercirikan atap tradisional masyarakat lokal. Bentuknya segi empat dan menyimbolkan sifat-sifat Rasullulah SAW, yakni siddiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas).

Beberapa meter dari gapura pertama terdapat gapura kedua. Di sebelah kanan dan kirinya berdiri bangunan seperti pendopo yang dahulu difungsikan untuk menerima tamu-tamu kehormatan sultan. Namun kini digunakan untuk tempat bedug. Jika atap gapura menyimbolkan sifat-sifat luhur Rasulullah SAW, nama istana yaitu Al-Watzikhoebillah mengisyaratkan keimanan sultan, kerabat, dan masyarakatnya. Al-Watzikhoebillah berarti yang berpegang teguh pada Allah. Papan nama Al-Watzikhoebillah menempel pada dinding bangunan utama istana. Di atas teras bangunan utama tampak simbol matahari yang diapit dua kuda laut. Matahari itu diartikan sumber sinar yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, sedangkan kuda laut simbol kemakmuran bagi masyarakat maritim.[3]

Selanjutnya, masjid di setiap kerajaan Islam merupakan simbol utama yang berfungsi sebagai tempat ibadah. Masjid juga difungsikan sebagai tempat pendidikan, terutama sebagai lembaga pendidikan awal. Di masjid ini dilakukan pendidikan atau pengajian untuk orang dewasa ataupun anak-anak. Penyampaian ajaran dilakukan oleh mubaligh kepada jamaah umumnya berkenaan dengan akidah, ibadah, dan akhlak.[4]

Perkembangan Pendidikan di Kesultanan Sambas

Kota Sambas dikenal dengan sebutan Serambi Mekah. Karena pada jaman dulu Sambas adalah merupakan pusat pengajaran pendidikan Islam pada saat Kesultanan Sambas masih eksis. Kerajaan Sambas yang ada sekarang adalah keturunan dari kerajaan di Brunei Darussalam. Kerajaan tersebut mempunyai hubungan kekerabatan yang erat dengan Kerajaan Sambas.[5]

Sejarah pendidikan di Kabupaten Sambas pada prinsipnya telah dimulai sejak masa Kerajaan Sambas. Nama sekolah yang sudah ada pada waktu itu adalah Sekolah Sulthaniyah. Sekolah tersebut langsung dikelola oleh seorang maharaja imam kerajaan Sambas yang bernama Muhammad Basuni Imran, yang lulusannya cukup dikenal dan sangat diperhitungkan kemampuannya di bidang agama Islam. Sedangkan pada masa kolonial, telah berdiri sekolah keguruan, seperti CVO yang masa belajarnya selama dua tahun dan lulusanya sudah dapat diangkat menjadi guru. Setelah kemerdekaan sekitar tahun 60-an, berdiri pula sekolah PGA dan SGB yang fokus pada bidang keguruan. Namun sayangnya, eksistensi PGA dan SGB tidak bertahan lama seiring perubahan yang terjadi pada peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu, dan akhirnya PGA serta SGB hanya disetarakan dengan MA saat ini.

Berdasarkan realitas sejarah pendidikan di atas, Sambas pada masa lalu cukup dikenal sebagai kota pendidikan, yang anak didiknya ternyata berasal dari berbagai daerah atau provinsi dengan tujuan untuk belajar agama Islam. Realitas itu ternyata cukup berpengaruh pada pengakuan masyarakat Islam sehingga Sambas sering disebut sebagai serambi Mekah. Penekanan Sambas sebagai serambinya Mekah tersebut lebih diarahkan pada sisi pendidikan, sebab masyarakat Muslim tidak hanya gencar untuk menuntut ilmu agama Islam di Mekah, tetapi Sambas juga dijadikan sebagai alternatif tujuannya.[6]

Beberapa Tokoh Pendidik Kesultanan Sambas 

  1. 1.        Muhammad Jabir bin Haji Muhammad ‘Arif

Diriwayatkan Imam Kerajaan Sambas yang pertama bernama Haji Mushthafa Nuruddin yang dilantik oleh Sultan Muhammad Ali Shafiyuddin (Pertama) pada tahun 1186 H/1772 M. Kira-kira 100 tahun kemudian, tepatnya pada 1289 H/1872 M barulah istilah ‘Maharaja Imam’ digunakan. Maharaja Imam Kerajaan Sambas yang pertama ialah Maharaja Al-Imam Asy-Syeikh Muhammad Arif bin Nuruddin as-Sambasi yang dilantik oleh Sultan Muhammad Ali Shafiyuddin (Kedua). Serentak dengan perlantikan Syeikh Muhammad Arif bin Nuruddin as-Sambasi sebagai Maharaja Imam Sambas yang pertama pada tahun 1289 H/1872 M, pada waktu itulah diresmikan pembangunan Masjid Jamik Sultan Sambas di sekitar Istana Sultan Sambas di tepi sungai. Beberapa tahun selanjutnya dibangun pula pusat pendidikan Islam yang dinamakan ‘Madrasah as-Sulthaniyah’ yang terletak di sebelah kiri istana. Pimpinan pusat pendidikan tersebut diketuai H. Ahmad Fauzi bin Syeikh Muhammad Imran. Beliau ini adalah adik Syeikh Muhammad Basiyuni Imran yang ketika itu sedang belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir. Madrasah as-Sulthaniyah bertujuan memberi pendidikan Islam secara mendalam sebagai pengkaderan kerabat sultan, Maharaja Imam dan pejabat-pejabat di bawahnya.

Ulama Sambas yang ini nama lengkapnya ialah Muhammad Jabir bin Haji Muhammad ‘Arif Maharaja Imam bin Imam Nuruddin bin Imam Mushthafa as-Sambasi. Beliau ini mendapatkan pendidikan di Kota Mekah dan Universitas Al-Azhar, Mesir. Keluarga dan keturunan Muhammad Jabir yang bergerak di dunia pendidikan Kesultanan Sambas ialah H. Abdur Rahman Hamid, H. Muhammad Mursal, H. Muhammad, H. Murtadha dan H. Muhammad Shiddiq. Mereka dikenal sebagai keluarga ulama Sambas. Pendidikan awal Muhammad Jabir dididik oleh ayahnya sendiri, Maharaja Imam H. Muhammad Arif. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan di Mekah bersama beberapa orang dalam keluarga ini termasuk beberapa orang Sambas lainnya. Guru mereka di Mekah antara lain ialah Syeikh Abu Bakri Syatha, Syeikh Muhammad bin Ismail al-Fathani dan Syeikh Ahmad al-Fathani. Salah satu karya Muhammad Jabir berjudul Risalah al-Hajji.

  1. 2.    H. Khairuddin bin H. Qamaruddin Sambas

Karya-karya beliau ialah; lIlmu Aqidah dan Fiqh, Ilmu Sharaf, Ilmu Tajwid, Jadwal Hukum ‘Aqli, Hukum Syarâ dan Hukum ‘Adi, Hadits dan Akhlak/Adab, ‘Aqidah/ Sifat Dua Puluh. Semua manuskrip-manuskrip yang tersebut (no.1 hingga 6) diperoleh di Sambas, dimiliki oleh Imam Muhammad Arif, salah seorang ulama Sambas. Tidak terdapat nama pengarang tetapi penyalinnya ialah Haji Khairuddin bin Haji Qamaruddin Sambas. Diperoleh pada hari Khamis, 15 Jumadilakhir 1421 H/14 September 2000 M.

  1. 3.    H. Abdurrahman Bin Marhum H. Qamaruddin

Karya beliau yang ditemui hanya satu, yaitu Tafsir Bermakna (17 Safar 1280 H). Isinya merupakan terjemahan al-Quran mulai ayat 1 hingga akhir surah al-Baqarah. Manuskrip tersebut diperoleh di Pontianak pada 8 Syawal 1422H/22 Desember 2001 M. Dengan dijumpai manuskrip Tafsir Bermakna tersebut merupakan terjemahan al-Quran klasik bahasa Melayu yang ketiga terawal berdasarkan sejarah yang telah diketahui. Dua yang terdahulu ialah Tafsir al-Baidhawi oleh Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri dan Tafsir Jamal oleh Syeikh Maksum bin Jamaluddin al-Fathani.

  1. 4.    H. Muhammad Yasin Bin H. Muhammad Sa’ad Sambas

Karya beliau yang telah ditemui ada dua judul, yaitu; Ilmu Tajwid, diselesaikan di Mekah, waktu Dhuha, hari Sabtu, pada 20 Syawal 1285 H. Isinya membicarakan ilmu tajwid al-Quran. Kedua Syair Ushul, diselesaikan tahun 1305 H. Isinya membicarakan akidah dalam bentuk puisi/syair. Salinan manuskrip dilakukan oleh cucunya yang bernama Ahmad Daud.[7]

  1. 5.    Muhammad Basiuni Imran (1885-1976)

Haji Muhammad (HM) Basiuni Imran Maharaja Imam Sambas merupakan seorang ulama Islam yang cukup dikenal di nusantara, karena Maharaja Imam Sambas sangat menguasai hukum-hukum Islam yang berlandaskan Alquran dan Hadist, serta fasih berbahasa Arab yang dipelajarinya di Mekkah dan Mesir. Di usia 6 hingga 7 tahun, Basiuni Imran sudah mempelajari ayat suci Alquran bersama ayahnya, H Imran dan disekolahkan di Sekolah Rakyat (SR) dan telah memahami ilmu Nahu dan Saraf.

Pada tahun 1898 Masehi, Basiuni Imran melanjutkan pendidikan ke Mekkah dan menunaikan ibadah haji. Selama di Mekkah, HM Basiuni Imran mengikuti pendidikan dan belajar ilmu Islam guna memperdalam hukum-hukum Islam yang berlandaskan Alquran dan Hadist bersama Umar Sumbawa, Usman Serawak, Achmad Chatib Minang dan Syeh Maliki salah seorang bangsa Arab.

Tahun 1342 Hijriah, HM Basiuni Imran diminta pulang oleh orang tuanya ke Sambas. Sewaktu berada di tanah kelahirannya, HM Basiuni Imran selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan sangat rajin membaca pengetahuan ilmu Islam. Untuk meningkatkan pengetahuan Islamnya, HM Basiuni Imran berlangganan Majalah Almanar yang banyak mengupas tentang pengetahuan Islam serta membaca buku-buku berbahasa Arab dari Mesir secara mendalam.

Pada tahun 1328 Hijriah atau 1910 Masehi, bersama saudara kandungnya H Achmad Fauzie H Imran disertai sahabatnya H Achmnad So’od berangkat ke Mesir untuk meningkatkan pendidikan agama Islam (PAI). Setibanya di Mesir, HM Basiuni Imran bersama adik dan sahabatnya dijemput Syeh Saleh Ridlo adik kandung Syeh Rasyid Ridlo. Mereka bertempat tinggal tidak jauh dari Masjid Al-Azhar. Selama di Mesir, HM Basiuni Imran menuntut ilmu di Universitas Al Azhar dan mendapatkan guru yang istimewa dalam mempelajari hukum-hukum Islam, Syeh Ali Surur Az Zaaqaluni seorang ulama besar Al Azhar di masa itu.

Selama empat tahun mendalami ilmu agama, HM Basiuni Imran akhirnya menyelesaikan studinya di Al Azhar. Karena ambisi rasa ingin tahu yang besar, selama mengikuti pendidikan, HM Basiuni Imran menyempatkan diri menulis berbagai makalah di Majalah Sahibul Manar, baik menyangkut masalah keagamaan, politik dan penjajahan di Indonesia. HM Basiuni Imran yang cukup dikenal di Mesir selama menjalani pendidikan Islam, sempat bekerja di Surat Kabar Al Ittihad Mesir.

Sepeninggal ayahnya, HM Basiuni Imran melaksanakan tugasnya sebagai ulama yang telah mempelajari ilmu Islam di Mekkah dan Mesir untuk disebarkan di Negeri Sambas. Setelah sah menyandang gelar Maharaja Imam menggantikan ayahnya, H Imran Maharaja Imam, Sultan Tsafiuddin telah merencanakan untuk mendirikan sekolah agama Islam di Sambas. Atas titah Sultan, HM Basiuni Imran Maharaja Imam Sambas yang telah menimba ilmu pendidikan agama Islam di Mesir diperintahkan Sultan agar membuka sekolah Islam bagi masyarakat Negeri Sambas.

Karena terkendala bangunan sekolah yang kala itu masih belum ada, HM Basiuni Imran berinisiatif menggunakan rumah almarhum orangtuanya sebagai sarana pendidikan sementara bagi masyarakat yang ingin belajar agama. Di sekolah sementara itulah HM Basiuni Imran mengajarkan bahasa Arab kepada murid-muridnya dan pendidikan agama Islam lainnya bersama H Abdurrakhman dan H Saleh Arif.

Sekolah yang dibinanya semakin maju dan berkembang. Sekitar tahun 1919, sekembalinya adik kandungnya H Achmad Fauzi dari Mesir, HM Basiuni Imran mengangkat adiknya menjadi Kepala Sekolah Sulthaniyah dibantu Imam Jabir, Imam Maharaja H Abdurrakhman dan H Achmad So’od, dan HM Basiuni Imran sebagai pengawas di Sekolah Sulthaniyah.

HM Basiuni Imran yang memilih menjadi pengawas Sekolah Sulthaniyah, terus memotivasi murid-muridnya agar tetap bersemangat mendalami ilmu agama Islam, sehingga sekolah semakin maju dan berkembang. Tak berapa lama, Sekolah Sulthaniyah dipindahkan tidak jauh dari kantor Kesultanan Sambas. Segala kebutuhan dan fasilitas sekolah diperoleh dari Sultan Muhammad Tsafiuddin II.

Setelah wafatnya Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin II, maka segala urusan dan kelanjutan pendidikan di sekolah tersebut diserahkan kepada HM Basiuni Imran. Untuk kelancaran pendanaan dalam mengembangkan kegiatan pendidikan di sekolah tersebut, pembiayaannya diupayakan secara mandiri dengan mengumpulkan dana dari uang nikah, cerai, talak, dan fitrah serta anggaran lain yang bisa menghidupkan sekolah.

Berkat semangat dan ketekunan yang dimiliki HM Basiuni Imran dalam mengelola administrasi sekolah, maka segala fasilitas dan kebutuhan pendidikan di sekolah tersebut berjalan lancar. Sehingga sekolah semakin maju, berkembang dan mendapat perhatian yang besar dari masyarakat Sambas.

Sekolah Sulthaniyah mampu memberikan prestasi yang baik dalam meningkatkan kualitas kaum muslim, karena murid-murid di sekolah tersebut rata-rata fasih berbahasa Arab. Setelah lulus, sebagian besar murid-murid meneruskan pendidikan di Yogyakarta, Jakarta dan Sumatera.

Majunya Sekolah Sulthaniyah memunculkan kekhawatiran Belanda. Sekolah tersebut dibubarkan oleh Belanda, karena waktu itu banyak anak-anak negeri yang akan belajar bahasa Belanda dan pengetahuan barat di Sekolah Misi. Setelah penjajah Belanda menutup Sekolah Sulthaniyah, HM Basiuni Imran Maharaja Imam Sambas mengadakan musyawarah bersama pemuka Negeri Sambas seperti Dr Sahrial, Tuan Ali Imran guru HIS dan tokoh-tokoh lain, mencari alternatif terbaik baik bagi kelanjutan pendidikan ke depan. Musyawarah bersama akhirnya memutuskan, Sekolah Sulthaniyah dijadikan Schakel School dengan pendidikan tetap bercorak agama Islam. Schakel School (Sekolah Peralihan) merupakan sekolah lanjutan untuk sekolah desa dengan lama belajar lima tahun, dan menggunakan Bahasa Belanda dalam kegiatan belajar mengajar. Musyawarah juga menyepakati pembentukan sebuah perkumpulan yang diberi nama Tarbiyatul Islam, yang diketuai HM Basiuni Imran pada tahun 1936-1950. Setelah Schakel School didirikan pada tanggal 1 Juli 1956, para pengajarnya merupakan tenaga pendidik ahli dan diploma pemerintah. Salah satunya adalah Mursyid, yang sebelumnya pernah menjadi guru di Aceh. Sistem pendidikan pun banyak mengalami perubahan dan kemajuan.

Sejak meletusnya serangan tentara Jepang di Negeri Sambas, maka Schakel School terpaksa dibubarkan. Tapi setelah Belanda kembali masuk ke Sambas, maka Schakel School juga kembali dibuka. Selain pendidikan agama, sekolah ini juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Kala itu, jumlah siswa yang belajar mencapai 500 siswa. HM Basiuni Imran terus bersemangat dan tidak henti-hentinya memberikan pembinaan dan perhatian terhadap perkembangan sekolah. Setiap mendapatkan penghasilan, ia selalu menyisihkannya untuk membantu keperluan sekolah.

Pada masa Kesultanan Sambas maupun pada masa pergolakan kaum penjajah, baik Belanda maupun Jepang, HM Basiuni Imran setiap hari Jumat selalu memberikan pencerahan kepada umat Islam di Masjid Agung Kesultanan Sambas. Pada masa itu, masyarakat desa tidak akan mendirikan Salat Jumat jika jemaahnya kurang dari 40 orang. Melihat hal ini, HM Basiuni Imran membuat risalah yang diberi nama “Cahaya Suluh.” Dalam risalah ini diungkapkan dengan sejelas-jelasnya membenarkan bagi umat Islam mendirikan Salat Jumat kurang dari 40 orang. Berkat risalah inilah masyarakat desa akhirnya berani melaksanakan Salat Jumat kurang dari 40 orang, sehingga akhirnya jumlah jemaah semakin bertambah.

Pendidikan Islam di Negeri Sambas semakin maju, sedangkan masyarakat di pedesaan yang melaksanakan Salat Jumat semakin ramai, setelah Risalah HM Basiuni Imran yang ditulis dalam bahasa Melayu dan Arab berjudul ‘Annusus Wal Barahim Slalqamatil Jum’at Al Arba’in’ disebarkan ke masjid-masjid. Semua prestasi tersebut mengantarkan HM Basiuni Imran diangkat menjadi pengawas sekolah agama Islam Kerajaan Sambas pada tahun 1918. Karena terus memberikan prestasi, tahun 1920 berdasarkan Besluit atau Surat Keputusan Resident Borneo, maka HM Basiuni Imran Maharaja Imam Sambas diangkat menjadi Plaatselijk Fonds. Kemudian, tanggal 30 Januari 1927 berdasarkan Besluit Bestuur Comisie Kerajaan Sambas, HM Basiuni Imran kembali diangkat menjadi President Mahkamah Road Agama di Istana Alwatzikhoebillah Sambas.

Pada tahun 1934-1939, berdasarkan Bisluit Resident Borneo Barat, HM Basiuni Imran diangkat menjadi anggota Rubber Comisie di Pontianak. Tanggal 5 Februari 1946, HM Basiuni Imran diangkat menjadi Ridder Inde Van Oranye Nassau. Setelah itu, pada tanggal 1 Juli 1951-1952 HM Basiuni Imran dipekerjakan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Sambas di Bagian Hukum berdasarkan Surat Perintah (SP) Kepala KUA Provinsi Kalimantan di Banjarmasin, tertanggal 15 Mei 1951. HM Basiuni Imran selanjutnya diangkat menjadi Penghulu Muda Bagian Hukum KUA oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Kemudian berdasarkan SP Departemen Agama, tanggal 4 Mei 1966 HM Basiuni Imran diangkat lagi menjadi Penata Hukum Agama Tingkat 1 selaku Ketua Pengadilan Agama Mahkamah Syariyah Kabupaten Sambas. Pada tanggal 16 Juli 1956 berdasarkan Surat Panitia Pemilihan Indonesia Nomor 56/SP/1283 Pn/6 tanggal 22 Oktober 1956, Surat Keputusan Nomor 305/1956/k, HM Basiuni Imran dinyatakan terpilih sebagai Anggota Konstituante dan pada tanggal 1 Februari 1961, HM Basiuni Imran diangkat menjadi Penasihat atau Ketua Seksi Badan Kerjasama Ulama Militer Daerah Tingkat II Sambas. Tanggal 30 Januari 1927 berdasarkan Besluit Bestuur Comisie Kerajaan Sambas, yang terdiri dari kerabat dekat Sultan Muhammad Mulia Ibrahim, Sultan Sambas ke-15 (1931-1943) mengangkat HM Basiuni Imran menjadi President Mahkamah Road Agama di Istana Alwatzikhoebillah Sambas. Tujuannya, untuk memajukan pendidikan Islam.

Selama menjalankan pendidikan Islam, HM Basiuni Imran telah banyak membuat karya tulis, di antaranya Bidayatut Tauhid fi‘ilmit Tauhid yang membicarakan tentang aqidah. Karyanya yang lain adalah Cahaya Suluh, yang menyatakan Salat Jumat kurang dari 40 orang, termasuk tentang syarat-syarat mendirikan Salat Jumat. Kemudian, Tazkir Sabilin Najah fi Tarkis Shalah berisi tentang jalan kelepasan bagi orang yang meninggalkan sembahyang. Selain itu, tulisan lain terangkum dalam Khulashatus Siratil Muhammadiyah tentang seruan Islam. Husnul Jawab ‘an Itsbatil Ahillati bil Hisab tentang hisab anak bulan untuk melaksanakan puasa dan hari raya. Irsyadul Ghilman ila Adabi Tilawatil Quran berisikan tentang pembacaan Alquran. Durusut Tauhid As-Saiyid Muhammad Rasyid tentang ilmu akidah. Nurus Siraj fi Qishshatil Isra’ wal Mi’raj tentang Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Khotbah Jumat, Hari Raya Aidilfitri, Hari Raya Aidiladha dan Gerhana. Penguasaan Ilmu Islam yang dimiliki HM Basiuni Imran sudah tidak diragukan lagi. Ia pernah diundang sebagai peserta Konfrensi Islam Asia Afrika (KIAA) di Jakarta. Selain itu, HM Basiuni Imran juga mendapatkan penghargaan dari Presiden Sukarno berupa peti berukir yang berisikan Alquran pada acara peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara Jakarta. Bahkan, pada tahun 1950-an, HM Basiuni Imran pernah didatangi beberapa tokoh dan pemuka Islam dari Jakarta. Mereka mengajak HM Basiuni Imran menetap di Jakarta untuk mengembangkan ilmu Islam. Selain itu, tokoh terkemuka seperti H Agus Salim, Prof Dr Hamka dan Dr Kahar Muzakir mengakui tingginya ilmu Islam yang dimiliki HM Basiuni Imran.

Pada tahun 1974, HM Basiuni Imran menderita sakit dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Sungai Jawi, Pontianak. Senin, tanggal 26 Juli 1976 pukul 11.00, HM Basiuni Imran Maharaja Imam Sambas meninggal dunia di kediamannya di Kota Pontianak. Hari itu juga jenazah HM Basiuni Imran dipulangkan ke Sambas. Dan tanggal 27 Juli 1976 almarhum dikebumikan di Pemakaman Islam Kampung Dagang Timur, Sambas.[8]

 

Daftar Pustaka

 

As, Muhammad Syamsu, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Jakarta: Lentera, 1999, Cet. II

 

Daulay, Haidar Putra, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2009

 

Hoëvell, Wolter Robert, Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Ter Lands-drukkerij, 1853

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Sambas

http://www.republika.co.id/koran/0/46449/Menelisik_Warisan_Islam_Di_Kesultanan_Sambas

http://wisatasambas.wordpress.com/2010/10/03/sambas-selayang-pandang/

http://staisambas.blogspot.com/p/agenda.html

http://terigas.webs.com/tokohsambas.htm#top

http://www.equator-news.com/mengenal-hm-basiuni-imran-maharaja-imam-sambas/

http://ulama-nusantara.blogspot.com/2006/11/muhammad-jabir-as-sambasi-khatib.html

 


[1] Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Jakarta: Lentera, 1999, Cet. II, h. 83-84

[2] Hoëvell, Wolter Robert (1853). Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Ter Lands-drukkerij. hlm. 198. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Sambas, diunduh tanggal 14 Oktober 2011.

[4] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2009, h. 20-21

[6] http://staisambas.blogspot.com/p/agenda.html, diunduh tanggal 14 Oktober 2011

[7] http://terigas.webs.com/tokohsambas.htm#top, diunduh tanggal 15 Oktober 2011

~ oleh ka uki pada 16 Desember 2012.

2 Tanggapan to “SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI KESULTANAN SAMBAS”

  1. Bagus sekali tulisannya dan sangat informatif, terima kasih…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: