Kenapa United…?

me and my brother, manchunian di acara wisuda, hehehe

me and my brother, manchunian di acara wisuda, hehehe


KENAPA UNITED…?
By; Syukri Rifai
Anda kini adalah hasil masa lalu Anda. Ya, perjalanan hidup seseorang dipengaruhi oleh sejarahnya sendiri. Apa yang berkesan, dilihat, didengar, dirasakan, dihirup, dialami, dibaca, diajarkan, ditulis, atau ditonton akan bermuara pada pembentukan pribadi seseorang. Itu juga yang menjadi alasan kuat seseorang menjadi suka atau tidak suka pada suatu hal. Pengalaman menjadi key word pada titik ini. Karena pengalaman itu juga yang akhirnya membuat saya dan my little brother (selanjutnya disebut; kami) menyukai sepakbola. Suka dalam bentuk games di lapangan sekaligus dalam bentuk suguhan tontonan favorit.
Bermula di pertengahan tahun 1997, kala itu di salah satu saluran TV swasta nasional, RCTI, ada acara liputan khusus sepakbola yang dipandu oleh Dik Doank dan Ucok Baba, “Planet Football”. Kalau tidak salah acara ini tayang di hari Ahad, pukul 13.00. Saat itu pilihan saluran TV belum banyak, media cetak pun belum beragam dan sebebas sekarang, apalagi jaringan internet, masih menjadi makhluk langka. Sehingga, peran RCTI dalam tayangan dunia bal-balan begitu dominan. Lega Calcio Serie A dan Liga Champions menjadi bintangnya dan disusul berikutnya oleh English Premier League. “Planet Football” tentu saja menjadi acara olahraga favorit kami.
Memang, di awal memasuki jenjang SMP, kami baru ‘menikmati’ tontonan sepakbola. Belajar begadang dan menjadi penguasa remote control saluran TV kala ada tayangan sepakbola. Dan, disinilah titik itu menjadi sejarah dan membentuk kecintaan kami terhadap sebuah klub English Premier League, Manchester United dengan pasukan Class of ‘92’nya. Benih-benih fanatisme pun mulai tersemai.
Saat kami mulai suka terhadap The Red Devils, sebenarnya klub asuhan Sir Alex Ferguson tersebut baru saja ditinggalkan oleh bintang kharismatiknya; King Eric Cantona. Namun, berita-berita tentang aksi ciamik The New Wonderkid; David Beckham, lebih menyedot perhatiam kami. Dekade 1990’an memang miliknya United, bahkan dominasinya di Negeri Ratu Elizabeth hingga kini. Tropi silih berganti mengisi lemari museum di Old Trafford. Puncaknya, di tahun 1999, saat treble winner itu terjadi, kami menonton semua pertandingan terakhir United di semua ajang. Rivalitas dengan Arsenal hingga di penghujung musim Premier League saat MU menuntaskan perlawanan Spurs, perjuangan fantastis semi final Piala FA lagi-lagi melawan Arsenal yang diwarnai gol brilian Giggsy dan pertandingan final melawan Newcastle United di Wembley dengan skor 2-0 untuk United, hingga final dramatis Liga Champions di Nou Camp, Barcelona yang mengkandaskan harapan Bayern Muenchen. Semua pertandingan historis itu tak satupun yang terlewatkan. Semuanya begitu membekas dalam memori kami. Berkesan!!!
Sejatinya, hari bersejarah bagi para Manchunian itu telah terjadi 14 tahun silam, tepat di Bulan Mei. Kemudian, perjalanan United dari musim ke musim, dengan para pesaing yang silih berganti dengan satu misi; hendak menggoyang singgasana The Ferguson Babes, dari mulai Newcastle United dengan Shearer-nya, Arsenal sejak kedatangan Wenger, Liverpool saat ditukangi Benitez, hingga Chelsea di era Mourinho, dan kini saudara tua nan gaduh, Manchester City di bawah coach Mancini, justru semakin menebalkan rasa fanatisme itu terhadap Red Devils. Saat bergelimang gelar maupun musim paceklik yang terasa pahit, menambah kecintaan itu.
Akhirnya, kembali ke kalimat awal tulisan ini, manusia adalah makhluk sejarah dan dibentuk oleh sejarah itu sendiri. Sehingga, jika kini kita lihat fenomena para pecinta sepakbola di negeri ini mulai meningkat dan variatif, itu semuanya produk sejarah. Peran besar media tentunya yang membuat fans Barcelona meningkat tajam, pendukung Chelsea mulai menggunung, pecinta City perlahan muncul, penikmat Dortmund mengemuka, penyuka Napoli terlahir kembali, bahkan penggila Malaga pun mulai membasiskan diri, semuanya terbentuk mengikuti trend dan sejarahnya. Satu hal, para Manchunian di Indonesia takkan susut, bahkan tidak bisa terbendung dan semakin massif. Karena tinta sejarah begitu lekat dan berkesan di memori manusia. Dan, sejarah United tidak akan berhenti. Bagaimana dengan Anda???
Tabik.
Cakung, 8 Mei 2013

100_8708

~ oleh ka uki pada 8 Mei 2013.

Satu Tanggapan to “Kenapa United…?”

  1. u must be united😉 hehehe
    ka uki, bener2 pecinta united..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: