Panta Rei Sir Alex…!

By; Syukri Rifai

Membahas Sir Alex Ferguson membuat saya bingung harus memulainya dari mana. Rekor, prestasi, loyalitas dan dedikasi, karier, class of ‘92’nya, bahkan komentar-komentar ‘pedas’nya yang pernah beredar amat memikat untuk diulas. Tapi, akhirnya tulisan ini justru bermula dari perkataan seorang Heraclitus.

Pembaca yang budiman, Heraclitus, pemikir yang hidup di zaman Yunani kuno pernah mencetuskan sebuah filosofi; Panta Rei. Maknanya kurang lebih ‘semuanya mengalir’, tak ada yang abadi dalam kehidupan kecuali Tuhan. Ya, dalam hidup semuanya tidak ada yang pasti. Hidup ini terus mengalir seperti sungai. Di dunia ini perubahan adalah keniscayaan. Di dunia ini tidak ada yang namanya kekekalan.

Hukum Panta Rei berlaku untuk siapapun tak terkecuali bagi Sir Alexander Chapman Ferguson. Manajer dan pelatih terlama, fenomenal sekaligus legenda hidup bagi Manchester United. Setelah 26,5 tahun kepemimpinannya sebagai manajer, Fergie akan berhenti pada akhir musim ini dan mendapat jabatan sebagai salah satu direktur klub dan duta klub. Pertandingan kontra West Bromwich Albion (19/05) menjadi laga resmi penutup kariernya sebagai pelatih United.

Di bawah arahan Sir Alex, akhirnya Setan Merah menjadi tim tersukses di Inggris dengan 38 trofi. Pria 71 tahun itu mengantarkan MU 13 kali juara Liga Inggris, dua kali juara Liga Champions, lima Piala FA, dan empat Piala Liga. Khusus raihan 20 trofi liga, Sir Alex sukses membawa MU melewati sekaligus memutus dominasi Liverpool yang kini mengekor di belakang mereka dengan 18 trofi.

Namun, sejatinya kesuksesan Sir Alex sebagai pelatih klub bukan hanya di United. Memulai karir kepelatihan di tanah kelahirannya, Skotlandia, Fergie yang kala itu baru berusia 32 tahun dipercaya memoles East Stirlingshire. Hanya tiga bulan setelahnya, Fergie hijrah untuk menangani St. Mirren. Di sini ia mulai mencatatkan sukses pertamanya sebagai manajer, dengan mengantar klub itu menjuarai Divisi Pertama Skotlandia–kasta kedua–musim 1976-77. Selepas St. Mirren, yang ia tangani periode 1974–1978, Fergie kemudian memanajeri salah satu klub di Liga Primer Skotlandia, Aberdeen. Di sini ia kian menyita perhatian sebagai manajer, setelah mengantar klub itu menyabet sederet gelar pada periode 1978–1986, tak hanya di Skotlandia, bahkan hingga Eropa. Prestasi ini sekaligus menyeruak dominasi dua klub raksasa asal Kota Glasgow, Celtic dan Rangers. Ia di antaranya sukses membawa Aberdeen meraih tiga gelar Liga Primer Skotlandia, empat trofi Piala FA Skotlandia, dan satu trofi Piala Liga Skotlandia. Sedangkan di kancah Eropa, sentuhan tangan dingin Fergie membawa Aberdeen sukses merengkuh satu trofi Piala Winners plus sebuah trofi Piala Super UEFA.

Kesuksesan memang tak selalu akrab dengan Fergie. Bahkan trofi pertama baru di dapat Fergie setelah tiga tahun memoles United, sekaligus juga penyelamat kariernya di Old Trafford. Ini juga hukum kehidupan, semuanya berpasangan, ada sukses ada juga gagal. Siapapun manusia itu, baik ia ‘merasa’ sukses atau ‘merasa’ gagal, semuanya hanya menjalankan peran kehidupannya masing-masing, sebagai ujian dari Tuhan sejauh mana ia akan bersyukur pada-Nya dan berterima kasih pada lingkungannya. Oleh karena itu tak ada tempat bagi kesombongan di hati manusia. Kesederhanaan dan rendah hati justru akan membuat manusia semakin dihormati alih-alih menyombongkan diri. Karena, kehidupan ini akan berjalan terus, berubah, mengalir, tak ada yang abadi, panta rei…

Tabik.

Saat senja menyapa Legoso, Tangerang Selatan, 17 Mei 2013
Alex+Ferguson+Blackburn+Rovers+v+Manchester+38gZQMYWeaMl

~ oleh ka uki pada 21 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: