KELILING JAWA ALA WISATA RELIGI WALI SONGO

Catatan Perjalananziarah wali songo
KELILING JAWA ALA WISATA RELIGI WALI SONGO

Libur semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 kali ini, kami beberapa guru dan karyawan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta kembali mengadakan wisata religi; ziarah wali songo plus Bali. Ziarah wali songo adalah perjalanan ziarah atau berkunjung dan berdoa di makam sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Satu makam wali di Jawa Barat, tiga makam di antaranya berada di Jawa Tengah, dan lima makam wali berada di wilayah Jawa Timur.

Wisata ziarah yang sudah diadakan kali kelima ini diikuti oleh 11 orang. Planning untuk ziarah ini pun sudah jauh hari dipersiapkan di tengah rutinitas di sekolah. Dan, akhirnya diputuskan perjalanan keliling Jawa-Bali ini akan ditempuh selama 6 hari 5 malam, sejak tanggal 24 – 29 Desember 2013.

Hari Pertama

Pagi hari peserta berkumpul di MP UIN Jakarta pukul 06.00 untuk langsung menuju kota Cirebon via tol Cikampek dan Pamanukan. Setelah sampai di Cirebon dan sebelum singgah di Makam Sunan Gunung Djati, rombongan berwisata kuliner dengan menu khas daerah ini yaitu empal gentong. Setelah melahap menu makan siang tersebut, peserta kemudian berziarah ke Makam Sunan Gunung Djati. Inilah satu-satunya makam wali di Jawa Barat yang paling ramai dikunjungi. Kawasan makam Sunan Gunung Djati terletak di desa Astana, kecamatan Cirebon Utara, sekitar 6 km dari Kota Cirebon yang dilintasi jalur Cirebon-Indramayu.

Secara historis, Sunan Gunung Djati yang memiliki nama asli Syarif Hidayatullah ini memiliki ayah yang berasal dari Gujarat, India dan merupakan keturunan dari Rasulullah Saw. Sedangkan dari garis ibu, Sunan Gunung Djati merupakan keturunan dari Prabu Siliwangi. Nama Syarif Hidayatullah sendiri kemudian digunakan oleh UIN Jakarta sebagai penghormatan kepada beliau.

Selesai berziarah, kami melanjutkan perjalanan menuju Demak via Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Semarang. Sampai di Demak, rombongan langsung menuju Masjid Agung Demak yang dahulu merupakan pusat dari kerajaan Islam Demak dan tempat berkumpulnya para wali songo. Setelah shalat jama’ qashar maghrib dan isya’, perjalanan religi ini dilanjutkan ke Makam Sunan Kalijaga yang terletak di tengah kompleks pemakaman Desa Ngadilangu yang dilingkari dinding dengan pintu gerbang makam. Area makam Sunan Kalijaga berjarak sekitar 3 km dari Masjid Agung Demak.

Menjelang tengah malam perjalanan dilanjutkan menuju Kota Kudus untuk berziarah ke Makam Sunan Kudus di kompleks Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Sayangnya, sampai di sana kompleks pemakaman tutup karena sudah larut malam. Rombongan pun memutuskan untuk kembali lagi esok pagi setelah beristirahat dan menginap di salah satu kerabat Bapak Drs. Miran (guru MTs Pembangunan) yang tinggal di Kota Kudus.

Hari Kedua

Rabu, 25 Desember 2013. Setelah shalat Shubuh dan sarapan pagi, kami bergegas untuk kembali menuju Masjid Menara Kudus dan berziarah di Makam Ja’far Shodiq atau yang bergelar Sunan Kudus. Di samping puluhan makam di kawasan itu terdapat pula makam putra Sunan Kudus yaitu Pangeran Palembang. Makam Sunan Kudus sendiri terdapat di tengah-tengah bangunan induk berbentuk joglo.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Gunung Muria. Di sana ada Makam Sunan Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Ziarah ke makam Sunan Muria berjarak sekitar 30 km arah utara dari Kompleks Masjid Menara Kudus. Untuk menuju makam tersebut dapat ditempuh dengan jalan cukup menanjak berupa anak tangga atau terap-terap yang berjumlah kurang lebih 700 terap.

Perjalanan tersebut dapat ditempuh dengan jalan kaki ataupun naik ojek motor, pastinya kedua cara tersebut menghadirkan sensasi dan pengalaman luar biasa dan tak akan terlupakan.

Kemudian wisata religi ini berlanjut menuju Kota Tuban, Jawa Timur. Di sana ada Makam Sunan Bonang, tepatnya di komplek pemakaman Desa Kutorejo, Kecamatan Tuban di kota Tuban. Posisinya di sebelah barat alun-alun kota Tuban, di sebelah barat Masjid Agung Tuban. Makam Sunan Bonang dikelilingi tembok dengan empat buah pintu gerbang untuk masuk ke komplek makam. Sunan Bonang yang memiliki nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim ini juga terkenal sebagai seorang penggubah karya sastra ulung pada masanya, bahkan tembang Tombo Ati hingga kini masih sering dinyanyikan orang.

Setelah itu, wisata ziarah berlanjut ke Kota Lamongan menuju Makam Sunan Drajat. Makam Sunan Drajat berada di daerah Drajat Lamongan yang dapat ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat Jalan Pantura atau yang dahulu lebih dikenal dengan nama De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan, salah satu karya peninggalan kolonial Belanda yang banyak memakan korban rakyat pribumi dan dibangun pada era Herman Willem Daendels (1808–1811), Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36. Namun bila lewat Kota Lamongan dapat ditempuh sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi.

Lalu, perjalanan ba’da maghrib pun ditempuh menuju Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim yang notabene adalah waliyullah tertua diantara para wali songo. Kompleks pemakaman Sunan Maulana Malik Ibrahim terletak di kampung Gapura di dalam kota Gresik, Jawa Timur, tidak jauh dari pusat kota.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Makam Sunan Giri. Tokoh Walisongo yang bergelar Prabu Satmata ini makamnya terletak di sebuah bukit di Dusun Kedhaton, Desa Giri Gajah Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Kompleks makam ini berupa dataran bertingkat tiga dengan bagian belakang paling tinggi. Ketika sampai di sana, nampak kompleks pemakaman sedang direnovasi.

Wali songo terakhir yang dikunjungi adalah Sunan Ampel. Makam Sunan Ampel terletak di kampung Ampel di kota Surabaya. Di depan makam ada dua pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makamnya terpisah dengan dari makam lainnya dan diberi pagar teralis dari besi setinggi 110 cm. Di dalam kompleks Makam Sunan Ampel juga terdapat 2 makam istimewa murid dari Sunan Ampel, yakni makam Mbah Bolong atau Shonhaji dan makam Mbah Sholeh yang berjumlah sembilan makam dan terletak di sebelah timur masjid Ampel.

Hari kedua ini memang cukup panjang, namun mengasyikkan. Karena semua makam wali songo memang direncanakan dikunjungi di hari pertama dan kedua. Selanjutnya rombongan beristirahat di Hotel Bangil, Pasuruan.

Hari Ketiga

Semenjak shubuh, seperti biasa rombongan kembali bersiap melanjutkan perjalanan menuju Bali. Usai sarapan pagi di daerah Probolinggo, dengan lanskap indah untaian Pegunungan Bromo dan Puncak Mahameru di sebelah selatan, mobil elf yang membawa kami peserta ziarah bergerak menyusuri jalan utara, melewati Situbondo dan membelah Taman Nasional Baluran menuju Ketapang, Banyuwangi.

Alhamdulillah, sampai di Ketapang, tanpa menunggu lama mobil elf yang kami tumpangi langsung masuk ke ‘perut’ kapal feri untuk menyeberangi selat Bali. Hampir satu jam diombang ambing ombak selat Bali, rombongan berhasil mendarat di Gilimanuk, Bali.

Setelah melewati prosedur ‘sedikit ketat’ di pelabuhan Gilimanuk, yakni dengan memperlihatkan KTP kepada petugas pelabuhan, rombongan langsung tancap gas menuju Desa Loloan, Kota Negara, Kabupaten Jembrana.

Sekadar catatan, dalam khazanah Islam, jika di Jawa dikenal wali songo (sembilan wali) yang menyebarkan ajaran Islam, di Bali pun dikenal dengan nama wali pitu (tujuh wali). Mereka adalah Mas Sepuh Raden Raden Amangkuningrat di Kabupaten Badung, Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Magribi di Tabanan, Chabib Ali Bin Abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid di Klungkung, Habib Ali Zaenal Abidin Al Idrus di Karangasem, Syech Maulana Yusuf Al Baghdi Al Magribi di Karangasem, The Kwan Lie di Buleleng, dan Habib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih di Jembrana. Sayangnya, karena keterbatasan waktu, tidak semua para wali tadi bisa kami kunjungi. Nama terakhirlah yang akhirnya sepakat untuk diziarahi oleh rombongan MP.

Setelah berziarah ke Makam KH. Habib Ali Bafaqih yang lahir di Banyuwangi tahun 1890 dan wafat tahun 1997 di usia 107 tahun, kami melanjutkan perjalanan untuk beristirahat di salah satu rumah mantan guru dan wali murid MP, Bu Iin di daerah Jimbaran. Lamanya perjalanan selama 6 jam disertai macet di wilayah selatan Bali akhirnya terbayar ketika peserta rombongan melepaskan lelah di atas ‘peraduan’ masing-masing.

Hari Keempat

Jum’at, 27 Desember 2013, perjalanan pulang menuju Jakarta pun dimulai! Setelah menikmati Pantai Kuta di pagi hari dan membeli oleh-oleh khas Bali, kami pun memulai perjalanan panjang menuju Jakarta. Setelah menyeberang dan sampai di Ketapang, perjalanan pulang menempuh rute selatan pulau Jawa. Dengan melintasi Banyuwangi, Jember, Jatiroto, Lumajang dan Kota Malang, perjalanan di jalur selatan yang berkelok bak ular, membelah gunung dan perbukitan tentu saja menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan jalur pantai utara Jawa yang landai. Sesekali sang driver menanyakan arah lokasi ke penduduk setempat atau lewat panduan GPS (Global Positioning System) untuk memastikan kendaraan masih dalam jalur yang benar. Tepat tengah malam, rombongan beristirahat di Wisma Trisula di Jalan Panglima Sudirman, Kota Malang.

Hari Kelima

Udara sejuk di Kota Malang mengingatkan kami kepada daerah Puncak, Bogor. Keberangkatan pulang dimulai kembali sejak pagi. Setelah sarapan nasi rawon di daerah Batu, Malang, jalur perjalanan yang diambil lebih ke tengah alih-alih mengambil jalur selatan. Daerah Pujon, Pare, Kediri, Nganjuk, dan Ngawi tanpa terasa sudah terlewati. Kini rombongan rehat sambil makan siang di Pondok Modern Gontor 1 Putri, Mantingan. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Yogyakarta via Sragen-Surakarta.

Di Kota Gudeg, Yogyakarta, rombongan membeli oleh-oleh di sepanjang jalan Malioboro yang malam itu terlihat padat dan sesak. Kemacetan ala Jakarta sudah menular di Kota Sri Sultan ini. Namun gairah untuk berwisata dan berbelanja sepertinya tetap saja menggebu di kalangan masyarakat kita, yang memang terkenal doyan belanja dan konsumtif apalagi di hari libur akhir tahun. Kebiasaan yang seharusnya dihindari.

Setelah puas menikmati Malioboro-nya Yogyakarta, rombongan sepakat untuk meneruskan perjalanan malam itu lewat jalur utara lagi via Semarang-Pekalongan. Di sepertiga malam, akhirnya rombongan ziarah MP beristirahat di salah satu masjid besar di daerah Pekalongan.

Hari Keenam

Ahad, tiga hari terakhir di pengujung tahun 2013. Tim ziarah wali songo plus Bali MP UIN Jakarta akhirnya tiba di Ciputat pukul 14.00 WIB. Sempat berwisata kuliner sebentar dengan makanan seafood di daerah Brebes, Jawa Tengah perjalanan panjang dan mengesankan ini pun usai.

Banyak hikmah, ibroh dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari perjalanan ini. Terutama dalam mengenang perjuangan dan dedikasi dakwah para auliya di tanah Jawa. Semoga di tahun berikutnya perjalanan ziarah wisata tetap ada. Tabik.

Syukri Rifai
Guru MI Pembangunan UIN Jakarta

~ oleh ka uki pada 15 Januari 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: