ISLAM DAN SEMANGAT LITERASI*

Oleh: Syukri Rifai**

Islam sejatinya adalah sebuah sistem hidup yang sangat fundamental dan holistik (syumul). Karena itu Islam tak hanya dipahami sebagai sebuah kumpulan ritualitas monolitik semata, yang hanya sekadar mengurusi ‘ubudiyyah kepada Tuhan (hablumminallah). Lebih dari itu, Islam memiliki cetak biru kehidupan beserta deskripsi praktikal yang diperuntukkan manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khalifah).

Sebagai khalifah, tentunya Allah telah membekali manusia dengan beragam potensi diri. ‘Senjata utama’nya berupa akal berimplikasi logis pada curiosity yang tinggi melebihi makhluk ciptaan Allah lainnya. Potensi ini pada dasarnya untuk diaktualisasikan dan diejawantahkan dalam kehidupan sosial. Dan, agar akal dapat digunakan dalam kapasitas optimal dan dalam koridor yang benar maka manusia mendesain pendidikan.

Akal sebagai hardware manusia dalam kapasitasnya sebagai khalifah tentu tak akan berfungsi jika program software’nya berupa ilmu belum dipasang. Dari sini jelas bahwa ilmu memiliki posisi tinggi dalam khazanah Islam. Bahkan, Tuhan telah menggaransi derajat orang berilmu dan orang beriman lebih tinggi dibandingkan manusia lainnya.

 

Landasan Fundamental

 

Berbicara pendidikan dalam konteks Islam tentunya berkaitan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan itulah yang ‘memanusiakan’ manusia. Dengan kata lain, pendidikan yang mengenalkan manusia dengan tugasnya sebagai khalifah yang memegang amanah Tuhan di dunia. Pada manusia jugalah dicita-citakan sesuatu yang ditanamkan oleh pendidikan. Hasan Langgulung (1995: 46) bahkan menegaskan tujuan utama pendidikan Islam adalah adalah pembentukan karakter khalifah itu.

Proses kegiatan pendidikan Islam itu sendiri sesungguhnya telah dimulai sejak wahyu pertama turun, yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Kalimat (ayat) pertama yang disampaikan Jibril kepada Muhammad Saw. adalah “Iqra” yang berarti “bacalah”. Meskipun Muhammad Saw. adalah seorang ummiy (tidak bisa membaca dan menulis), perintah itu menegaskan manusia memang harus membaca sebagai kunci utama menghimpun pengetahuan dan bekal mengawal amanah tugas khalifah. Dengan turunnya kelima ayat itu, Tuhan melalui rasul-Nya telah memerintahkan manusia untuk belajar membaca dan menulis.

Pada hakikatnya, perintah “bacalah” ini memiliki makna filosofi mendalam bila ditinjau dari aspek pendidikan. Karena dengan membaca, maka realitas makna di balik ciptaan Tuhan bisa dipahami secara utuh. Membaca dalam aneka maknanya adalah pra-syarat (pre-requisite) dalam pengembangan ilmu dan teknologi, bahkan major requisite dalam membangun peradaban.

Sejarah mencatat semua peradaban yang berhasil dan bertahan lama, justru dimulai dari bacaan. Peradaban Yunani dimulai dari “Illiad” karya Homer di abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru. Kebangkitan Eropa dengan gelombang aufklarung dan gerakan renaissance dimulai dengan karya Isaac Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831). Peradaban Islam pun ditandai dengan kehadiran Muhammad Saw. yang diberi mu’jizat berupa Al-Qur’an.

 

Di samping itu, Suwito dan Fauzan (2008: 212) memaknai membaca sebagai upaya pencanangan dan pemberantasan buta huruf, sebagai gerakan literasi dan tindakan awal dalam membebaskan umat manusia dari ketidaktahuan. Ditinjau dari aspek sejarah, hal ini sejalan dengan kondisi masyarakat Arab kala wahyu pertama ini diturunkan, secara garis besar masih buta huruf dan diwarnai kebodohan dalam segala aspek kehidupan.

 

Misi Profetik

 

Dimensi kesuksesan Muhammad Saw. salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Secara historis gerakan literasi dalam Islam bukan sekadar konseptual belaka, tetapi juga praktikal. Memang, Muhammad Saw. adalah seorang yatim piatu yang tak pernah mengenyam pendidikan sekolah yang mengajarkannya baca tulis, tapi beliau sangat menekankan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia. Tercatat bahwa Muhammad Saw. pernah mengutus Mush’ab bin Umair ke Yatsrib pasca Traktat (Bai’at) Aqabah pertama. Ia mengemban misi advokasi dan pendampingan untuk Suku Khazraj dan Suku Aus – penduduk pribumi Yatsrib – sebagai pengondisian sebelum Rasulullah dan kaum muslimin Mekah berhijrah. Di Yatsrib, Mush’ab mengajarkan baca Al-Qur’an dan ajaran Islam.

Dalam buku ‘Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager’ karya M. Syafii Antonio (2008: 183) disebutkan bahwa Rasulullah sangat memperhatikan dunia pendidikan dan mendorong umatnya untuk terus belajar. Beberapa kebijakannya selaku pemimpin selalu berpihak kepada pendidikan dan pemberdayaan umat. Sekadar contoh, ketika kaum muslimin berhasil menawan sejumlah pasukan musyrik Quraisy dalam Perang Badar, beliau membuat kebijakan bahwa para tawanan tersebut dapat bebas kalau mereka membayar tebusan atau mengajarkan baca tulis kepada warga Madinah. Kebijakan strategis ini cukup ampuh untuk mempercepat terjadinya transformasi ilmu pengetahuan di kalangan kaum muslim.

Selain kasus itu, dalam segala kegiatan Nabi Saw. acap kali melibatkan para sahabat dan guru yang bisa baca tulis. Ketika berdiskusi, di kala perang, saat perundingan perdamaian, membangun hubungan bilateral ke negera lain, ataupun dalam misi menyebarkan ajaran Islam itu sendiri. Mu’az bin Jabal misalnya pernah diutus ke Yaman sebagai duta Rasulullah. Orang-orang yang menjadi utusan Nabi Saw. tentunya adalah yang memiliki kompetensi dalam ajaran Islam dan mampu mengajarkannya. Rasulullah juga pernah menyuruh para sahabat mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani untuk menuliskan surat-suratnya, diantara sahabat yang melakukannya adalah Zaid bin Tsabit.

Sebagaimana diketahui, sebagian pengikut Muhammad Saw. pada masa awal Islam adalah orang-orang miskin, bekas budak, dan kaum mustadh’afin lainnya yang perlu diberdayakan. Kemungkinan karena latar belakang ekonomi dan sosial meraka yang lemah, berimplikasi pada akses mereka terhadap dunia pendidikan lemah pula. Tentunya dengan memiliki kemampuan baca tulis akan mampu mengangkat harkat mereka di samping kekuatan iman yang mereka miliki. Pada sisi inilah, penulis melihat Rasulullah memiliki pandangan bahwa gerakan literasi untuk memajukan peradaban umat Islam adalah sebuah keniscayaan dan kebutuhan yang mendesak.

Dengan demikian, bukan sesuatu yang aneh jika di fase awal perkembangan Islam, bahkan sejak zaman Muhammad Saw., lembaga pendidikan Islam telah muncul dan variatif. Saat itu rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam (Dar al-Arqam) tercatat sebagai lembaga pendidikan Islam pertama. Pusat pendidikan Islam bukan lembaga beku dan statis, ia berkembang menurut kehendak waktu dan kedinamisan sosial. Masjid, kuttab, suffah, juga menjadi sentra pendidikan yang muncul di masa nabi sebelum era madrasah. Pasca kelahiran madrasah, lembaga pendidikan kian menjamur, masif dan beragam.

 

Tanggung Jawab Bersama

 

Seorang cendekiawan muslim, Ibnu Khaldun mencatat bahwa pada awal kedatangan Islam, orang-orang Quraisy yang pandai membaca dan menulis hanya berjumlah 17 orang (Maksum, 1999; 54). Dalam perkembangannya, saat penganut Islam kian banyak, tersebar dan makin kuat, terdapat kebutuhan untuk mendidik guru, untuk perkembangan ilmu, dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang lebih maju.

Dalam konteks kekinian, semakin luas pembacaan otomatis membuat peradaban semakin tinggi. Estafeta misi profetik untuk memajukan pendidikan kini di tangan setiap umat manusia itu sendiri. Sebagaimana pemaparan di atas, peran sebagai khalifatullah fil ardh diemban oleh semua manusia sebagai konsekuensi dari potensi keilmuan dan akal yang telah dihadiahkan Tuhan.

Peradaban maju manusia saat ini merupakan hasil mempelajari peradaban masa lalu. Transformasi ini jelas tak dimulai dari titik nol, hal ini amat dimungkinkan terjadi karena kemampuan baca-tulis. Dengan demikian, ‘membaca’ merupakan pre sekaligus major requisite bagi keberhasilan dan kemajuan peradaban manusia. Dan tugas ini merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai ‘wakil’ Tuhan di muka bumi. Sebagai ikhtitam, penulis nukilkan ayat pertama Surah Al-‘Alaq; “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”.

 

 *Tulisan pernah dimuat di Harian Pelita, edisi Kamis, 11 September 2014

**Pendidik, Ketua Konsorsium Agama Madrasah Pembangunan UIN Jakarta dan Penggiat di Kahfi Motivator School Jakarta.

 IMG-20140911-00451

 

 

~ oleh ka uki pada 14 April 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: